Thursday, November 1, 2012

“Sejarah Tradisi Islam Nusantara”


“Sejarah Tradisi Islam Nusantara”










Daftar isi
Pendahuluan
Seni Budaya Lokal Sebagai Bagian Tradisi Islam

 Pengertian Seni Budaya Lokal
 Seni Budaya Lokal yang Bernuansa Islam
Tradisi Islam dan Upacara Adat Kesukuan Nusantara
Mengapresiasi Seni Budaya Lokal dan Upacara Adat yang  bernapaskan Islam


Pendahuluan
Puji syukur selayaknya kami haturkan ke hadirat Allah SWT. Karena atas karunianyalah kami dapat menyelesaikan tugas ini yang merupakan tugas untuk mengisi nilai kami dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Dalam kliping ini, kami berusaha menyelesaikannya semaksimal mungkin. Namun kami menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat di dalamnya. Oleh karenanya, dengan segala kerendahan hati, kami minta maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan. Kritik dan saran sangat kami butuhkan demi membangun kesempurnaan tugas kami ini. Kami juga berterima kasih kepada :
Ibu Syamsani Sarapa, S.Ag, selaku guru bidang studi Agama Islam yang begitu sabar membimbing dan menunggu hasil tugas kami.
Semoga budi baik dari semua pihak memperoleh pahala berlimpah dari Allah SWT Yang Maha Pemurah. Akhir kata, semoga tugas kami ini dapat memberikan manfaat, pengetahuan dan nilai terbaik bagi kelompok kami. Wassalam

Makassar, 26 maret 2011

Kelompok 2

Seni Budaya Lokal Sebagai Bagian dari Tradisi Islam
Pengertian Seni Budaya Lokal
Seni budaya adalah keindahan hasil karya manusia yang di dalamnya terkandung muatan etika dan estetika yang berkembang secara terus-menerus. Seni budaya lokal yang bernapaskan Islam adalah segala bentuk kesenian yang berasal dari atau berkembang di daerah-daerah di Nusantara yang dipengaruhi oleh ajaran Islam.
Adakah kaitan antara seni dengan Islam? Jelas ada! Perlu diketahui bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna. Islam tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Penciptanya (Ilmu Fikih) tapi juga hubungan antarsesama (muamalah) dalam Islam dipandu secara jelas dan lengkap. Jika seorang Muslim menggunakan panduan Islam, maka seluruh aspek kehidupannya pun akan Islami. Dengan demikian, seni Islami yang diciptakan oleh orang Muslim tersebut ada kaitannya degan nilai-nilai Islam yang diyakininya.
Pandangan bahwa seni itu haram dalam Islam harus diluruskan.harus dibedakan antara seni dan dampak seni. Seni adalah sesuatu yang indah. Adapun dampak seni adalah akibat dari seni itu. Dampak seni ada yang positif dan ada yang negatif. Misal, apabila seni baca Al-Quran malah membuat Al-Quran direndahkan, maka seni baca Al-Quran berdampak negatif. Akan tetapi, kalau membuat semangat ibadah bagi pendengarnya, ini dampak positif. Contoh lain, mendengarkan musik, apabila orang yang mendengar musik indah lalu mabuk, ini dampak negatif. Akan tetapi, kalau ia menjadi tenang dan semangat dalam bekerja ini dampak positif. Nah, yang haram itu dampak buruknya, bukan seninya. Seni yang dampaknya dapat merusak jiwa, raga dan akhlak menjadi haram sedangkan seni yang dapat membawa ketenangan pikiran dan ketentraman jiwa hukumnya boleh atau mubah.
Allah SWT sangat menyukai seni, sebagaimana sabda Rasulullah :


Artinya :
“Allah itu indah dan suka akan keindahan.” (H.R. Muslim)


Seni Budaya Lokal yang Bernapaskan Islam
Adapun seni budaya lokal yang bernuansa Islami antara lain.
Selawat Nabi Muhammad SAW (shalawatan)
Ciri khas selawat :
Penggunaan rebana secara menonjol yang dalam bahasa Jawa dikenal sebagai trebang atau terbang.
Adanya selawat, yaitu syair atau doa puji-pujian dalam bahasa Arab yang dinyanyikan.
Penataan susunan nadanya bernuansa Islam.
Salatullah salamullah ‘ala taha rasulillah Salatullah salamullah ‘ala yasin habi billah
Tawassalna bi bismillah wa bil hadi rasulillah wakulli mujahidil lillah bi ahlil badri ya Allah
Contoh syair lagu selawat kepada Nabi Muhammad yang sering dilantunkan menjelang salat, upacara peringatan hari besar Islam, khitanan, pernikahan, atau pengajian pada hampir semua daerah di Nusantara, yaitu :



Music gambus atau rebana
Di daerah Cirebon, Banten, Jakarta dan sekitarnya sering dijumpai irama gambus dengan syair-syair Arab yang berisi pujian kepada Allah SWT dan selawat Nabi. Ansambel gambus menggunakan kecapi petik, gambus, rebana kecil dan marwas (marawis).
Di Banyuwangi, terdapat kesenian kuntulan. Kuntulan merupakan perpaduan antara seni musik dan tari asli Banyuwangi sebagai pengembangan dari seni hadrah yang telah disesuaikan dengan seni tradisional gandrung Banyuwangi. Di daerah Lombok, terdapat rampak rebana bernada lima. Rampak rebana bernada lima ini merupakan sekumpulan rebana bernada lima yang telah diselaraskan. Rampak ini mendapatkan pengaruh arakan gamelan Bali, bebonangan.

Di Semarang, terdapat grup Nasida Ria, sebuah kelompok seni kasidah dengan semua anggotanya perempuan. Lagu-lagu yang dibawakan adalah pujian kepada Allah SWT dan selawat Nabi, didendangkan dalam syair berbahasa Arab maupun bahasa Indonesia. Di daerah Betawi dan Jawa Tengah bagian utara sering memainkan music gambus dan seni hadrah untuk merayakan khitanan atau pernikahan.
Di Jawa terkenal seni rebana atau seni terbangan. Grup terbangan sering dipakai untuk mengiringi tari Rodat, arak-arakan khitanan, dan pembacaan kasidah barzanji. Grup rebana terdiri atas empat pembawa terbang bundar dan bisa ditambahkan dengan satu bedug. Ada juga rebana Banten yang terdiri atas enam ketipung kecil dan satu terbang besar. Di Makassar terdapat grup-grup kasidah rebana yang telah dimodernisasi seiring perkembangan zaman sehingga mempunyai daya tarik tersendiri. Di Kabupaten Gowa sendiri daapt ditemukan musik gambus pada setiap pesta perkawinan. Walaupun kini senibudaya tersebut semakin kurang karena tergusur oleh musik elekton yang sudah merambah sampai ke pelosok desa.
Tari Zapin
Di berbagai daerah misalnya Kepulauan Riau kita dapat menyaksikan tari Zapin yang mengiringi irama kasidah dan gambus. Tari Zapin diperagakan dengan gerak tubuh yang indah dan lincah dengan diiringi music hadrah.para penari yang semuanya laki-laki menari berpasangan dengan mengenakan sarung, kemeja dan kopiah hitam. Bisa juga memakai teluk belanga dengan sesamping songket dan ikat kepala lacak atau destar.
Tari Seudati
Aceh terkenal dengan Rampak rebana dan tari Seudati. Tari Seudati diambil dari upacara sufi. Tari ini diperankan oleh penyanyi laki-laki yang menari dan membuat bunyi tabuhan dengan alat musik tubuh mereka sendiri sewaktu mereka menepuk tangan, dada, sisi tubuh dan menggertak-gertakkan jari.
Santriswaran
Di lingkungan Keraton Surakarta dan daerah sekitarnya berkembang seni santriswaran. Santriswaran adalah grup musik dengan alat musik terbang,
kendang, dan kemanak. Nadanya mengikuti tangga nada gamelan slendro. Penabuh merangkap sebagai penyanyi. Akan tetapi, sekarang terdapat penyanyi perempuan mirip sinden. Syair-syairnya memuat ajaran Islam dan budaya Jawa yang disisipi dengan selawat nabi. Santriswaran dikembangkan oleh seniman Kraton Surakarta, Jawa Tengah pada masa kekuasaan Pakubuwono V (1820-1823). Santriswaran sempat hilang pada masa Pakubuwono VI karena baginda sibuk berperang melawan Belanda. Akan tetapi, pada masa Pakubuwono X, santriswaran muncul kembali.
Tari Menak
Di lingkungan Keraton Yogyakarta, terdapat tari Menak atau Beksa Menak. Tari Menak diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada 1941. Tari Menak mirip tari wayang orang. Bedanya, kalau tari Wayang Orang ceritanya diambil dari Mahabarata sedangkan tari Golek diambil dari serat Menak. Tokoh-tokoh tari Menak di antaranya Jayengrana, Dewi Muninggar, Kelaswara, Sirtupelaili, Adaninggar, Maktal, Lamdahur, Nuserwan dan Patih Bestak.
Wayang Golek Menak
Di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat Wayang Golek Menak. Wayang Golek Menak adalah wayang yang terbuat dari kayu. Jadi, semacam boneka kayu dengan pakaian khas. Ceritanya diambil dari cerita Menak, yaitu cerita berbahasa Jawa dan Sunda yang disadur dari Parsi. Isinya berupa cerita kepahlawanan Islam dengan tokoh utama Amir Hamzah (Sayyidina Hamzah, salah satu paman Rasulullah yang gugur dalam perang Uhud).
Suluk
Di Jawa terdapat suluk dan serat wirid. Suluk adalah tulisan dalam bahasa Jawa dengan huruf Jawa maupun huruf Arab yang berisi pandangan hidup orang Jawa. Adapun Wirid adalah bacaan yang diulang-ulang. Serat wirid merupakan tulisan pujangga Jawa yang berisi Wirid. Serat wirid diolah dari ajaran tasawuf yang disesuaikan dengan mistik Jawa.
Batu nisan
Batu nisan adalah salah satu kebudayaan Islam dalam bidang arsitektur dan kebudayaan inilah yang mula-mula masuk di Indonesia. Terdapat batu nisan yang terbuat dari batu pualam putih diukir dengan tulisan Arab yang sangat indah berisikan ayat-ayat Al-Quran dan riwayat orang yang dimakamkan lengkap dengan hari dan tahun wafatnya.
Seni bangunan (arsitektur)
Dalam seni bangun Islam Indonesia, secara garis besar mempunyai dua corak yaitu corak lama (asli) dan corak baru.
Corak lama
Memiliki atap tumpang, tidak ada menara karena menggunakan bedug, Masjid-Masjid tua, termasuk yang dibangun di dekat Istana Raja Yogya dan Solo
mempunyai letak yang tetap. Disamping unsur-unsur yang berasal dari daerah, meskipun tidak mengubah secara keseluruhan hanya menambah keindahan Masjid saja.
Corak baru
Bentuk baru dari seni bangun Masjid di Indonesia mulai berubah setelah Indonesia merdeka karena mulai berhubungan secara luas dengan Negara-negara lainnya, maka bentuk lama secara berangsur-angsur tergusur dan berubah menjadi bentuk lain yang baru, walaupun pada awalnya bentuk lama masih disertakan dan dipadukan  dengan bentuk baru terutama pada atapnya. Jumlah atap masih tumpang dua, tetapi ditambahkan dengan kubah.  Adapula yang menggantikan atap seluruhnya menjadi kubah. Selain itu, ada juga Masjid yang terpengaruh oleh Ottoman Style (Byzantium) seperti pada Masjid Istiqlal Jakarta yang bentuk kubahnya setengah lingkaran ditopang oleh pilar-pilar yang tinggi dan besar. Kemudian bentuk yang terpengaruh oleh gaya seni bangun India dengan kuseng-kuseng meruncing seperti Masjid Al-Tien. Dan Masjid modern tetapi dipadu dengan corak lama yaitu menggunakan atap tumpang dengan menara yang tinggi seperti Masjid Almarkaz Al Islami Jenderal Muhammad Yusuf di Makassar.


Tradisi Islam dan Upacara Adat Kesukuan Nusantara
Berikut akan dipaparkan sepintas tentang contoh-contoh upacara adat yang bernapaskan Islam yang berkembang di beberapa wilayah di Indonesia.

Mauludan  (Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW)
Pada bulan Rabiul Awal kalender Hijriyah, seluruh daerah di Nusantara diadakan acara maulitan. Di Makassar biasa disebut maudu’ Nabi. Acara ini dilaksanakan dengan membaca kitab barzanji di masjid maupun di musalah, di kantor, sekolah hingga ada yang mengadakan acara mauled dirumah-rumah warga.

Grebeg Besar
Di Demak, setiap tanggal 10 Dzulhijjah diselenggarakan Grebeg Besar. Yaitu kirap pusaka peninggalan Kerajaan Demak dari Pendapa Kabupaten Demak menuju makam Sunan Kalijaga di Desa Kadilangu. Di samping itu,ada juga kegiatan mencuci pusaka peninggalan Sunan Kalijaga yang tersimpan rapi di komplek makam Sunan Kalijaga.


Selikuran
Di Keraton Surakarta dan Yogyakarta setiap tanggal 21 Ramadhan diadakan upacara  Selikuran. Selikuran berasal dari kata selikur atau dua puluh satu. Upacara Selikuran adalah kegiatan untuk menyambut datangnya lailatul qadr, dimana ribuan Malaikat turun ke bumi membawa rahmat.


Megengan/Dandangan
Di Semarang, setiap menjelang bulan suci Ramadhan diselenggarakan upacara Megengan. Yaitu upacara menyambut datangnya bulan suci Ramadhan oleh Bupati dan rakyatnya. Kegiatan utamanya adalah pemukulan bedug sebagai tanda jatuhnya Bulan Suci Ramadhan. Upacara serupa juga dilaksanakan di Kudus, Jawa Tengah yang disebut Dandangan.
Di Sumatera, terdapat arak-arak tabut pada bulan Muharam. Arak tabut adalah upacara mengiring symbol Hasan dan Husein, keduanya cucu Nabi Muhammad SAW dan anak kandung Ali sebagai kenangan atas perjuangannya melawan kezaliman. Dalam upacara ini dilantunkan syair-syair kesedihan, perjuangan dan selawat Nabi.

Mengapresiasi Seni Budaya Lokal dan Upacara Adat yang Bernapaskan Islam

Yang dimaksud dengan mengapresiasi disini adalah bersimpati, merawat, melestarikan, member penghargaan atas seniman dan hasil karya seni serta turut mengembangkan seni budaya dan upacara adat tersebut.
Seni budaya lokal dan upacara adat yang bernapaskan Islam tersebut muncul dan tumbuh sejak masa awal penyebaran agama Islam di Indonesia. Sebelum Islam datang, di Indonesia sudah mempunyai kepercayaan dan/atau agama Animisme, Dinamisme, Hindu dan Budha. Pada zaman itu, penduduk Indonesia mengembangkan seni dan upacara baik untuk kegiatan keagamaan maupun untuk kegiatan kemasyarakatan. Dengan demikian, Islam masuk di Nusantara tidak hinggap di ruang kosong.
Melihat kenyataan seperti itu, maka juru dakwah Islam membuat strategi dakwah melalui seni dan upacara. Tujuannya agar agama Islam bisa diterima dengan nyaman oleh penduduk Nusantara yang sudah lekat dengan seni dan upacara berdasarkan tradisi lama tersebut.
Orang Islam yang hidup di abad 21, memberi hukum pada seni budaya lokal dan upacara adat yang bernapaskan Islam tersebut berbeda-beda; sebagian mengharamkan dan sebagian membolehkan. Orang yang mengharamkan mendasarkan alasan bahwa praktik seni dan upacara tersebut termasuk bid’ah (mengada-ada dalam agama) dan banyak unsur syiriknya. Orang yang membolehkan mendasarkan alasan bahwa praktik seni dan upacara tersebut hanyalah kreasi duniawi yang dikaitkan dengan upacara-upacara keagamaan Islam.
Lantas, mana yang diikuti? Orang Islam sebaiknya cerdas, adil dan bijaksana. Ulama dan para wali yang menjadi juru dakwah Islam di Indonesia pada masa awal adalah contohnya. Mereka mencerna Islam dengan hati, perasaan, pikiran dan amal nyata. Oleh karena itu, mereka mempraktikkan Islam dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan rasa hati dan alam piker masyarakatnya. Dengan demikian, Islam menjadi mudah diterima sehingga dapat terus berkembang sampai saat ini.
Dengan mencontoh para ulama dan wali perintis Islam di Indonesia ini, hendaknya kita bersikap selektif dan bijaksana. Jangan buru-buru mengharamkan seni budaya dan upacara adat tersebut. Kita lihat dulu mana unsur yang haram dan syirik, dan mana yang tidak. Jika memang ada mengandung unsur haram ataupun syirik dan menyimpang dari ajaran Islam maka harus diluruskan. Dengan demikian, seni budaya dan upacara adat tersebut masih tetap lestari tapi jauh dari unsur syirik, haram dan penyimpangan dari ajaran Islam.

Perlu diketahui bahwa kebutuhan manusia itu banyak. Manusia tidak hanya butuh makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan ibadah. Akan tetapi, manusia juga butuh menikmati musik yang indah dan merdu, menikmati macam-macam keindahan, melihat atau melakukan upacara-upacara. Jika Islam tidak bisa menciptakan keindahan dan upacara yang bernapaskan Islam, maka manusia akan mencari seni dan upacara lain. Jika ternyata seni dan upacara tersebut penuh dengan syirik dan kemaksiatan, dunia rasa dan alam piker orang Islam akan dikuasai oleh seni dan upacara yang menjerumuskan ke neraka.

Kesimpulan

Seni dan upacara adat itu mubah atau boleh. Akan tetapi, menjadi haram apabila mengandung unsur yang tidak baik atau dalam praktiknya mengandung syirik dan penyimpangan ajaran agama.
Orang Islam hendaknya bersikap positif, tidak perlu curiga berlebihan terhadap seni budaya lokal dan upacara adat hasil ciptaan ulama dan para pendahulu kita sepanjang tidak bertentangan dengan prisip-prinsip akidah dan syariah.

Daftar pustaka
Tim Abdi Guru, 2006. Ayo Belajar Agama Islam untuk SMP Kelas IX. Jakarta : Penerbit Erlangga.
MGMP-PAI SMP Kota Makassar, 2010. Pendidikan Agama Islam Untuk SMP Kelas IX. Makassar