Saturday, February 16, 2013

Bahan Pakan Nonkonvensional



1. Bahan Pakan Tepung Bekicot
Bekicot dahulu dianggap sebagai hama tanaman, namun sejak akhir tahun tujuh puluhan bekicot menjadi komoditi ekspor yang digemari. Ekspor bekicot terus menerus meningkat dari tahun ke tahun. Pasaran ekspor bekicot yang utama adalah Perancis dan yang lain adalah negara Taiwan, Kanada, Jerman Barat, Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Hongkong, Malaysia, Belgia dan Luxsemburg. Indonesia merupakan pemasok bekicot nomor dua terbesar di dunia setelah Yunani. Penyediaan bekicot untuk ekspor sampai saat ini masih banyak yang diperoleh dari penangkapan di alam bebas. Kegiatan penangkapan bekicot di alam yang semakin intensif akan memperkecil populasi bekicot (Asa, 1984).
Budidaya bekicot merupakan satu-satunya pilihan agar komoditi tersebut tetap tersedia. Sehubungan dengan hal tersebut, maka sifat-sifat bekicot perlu diketahui jika ingin membudidayakan. Bekicot termasuk keong darat, bukan merupakan binatang air. Tempat hidup yang digemari bekicot adalah tempat yang teduh dan gelap. Bekicot aktif pada waktu malam hari (noktural). Sifat noktural bekicot bukan semata-mata ditentukan oleh faktor gelap di waktu malam, namun juga suhu dan kelembaban lingkungannya. Bekicot memiliki tubuh yang lunak sehingga dimasukkan ke dalam filum Molusca (mollis dalam bahasa Yunani berarti lunak). Bekicot berjalan menggunakan perutnya sehingga bekicot dimasukkan dalam kelas Gastropoda. Bekicot bernafas dengan menggunakan kantong paru-paru, oleh karena itu dimasukkan ke dalam Pulmonata. Di bagian kepala terdapat dua pasang tentakel, dengan sepasang “mata” (ocelus) pada ujung tentakel superior, oleh karena itu dimasukkan ke dalam Stylomatophora (Asa, 1984).
Di Indonesia dikenal dua macam spesies bekicot yaitu Achatina fulica dan Achatina variegata, namun sering pula dijumpai bekicot hasil persilangan antara ke dua spesies tersebut. Cangkang bekicot dapat digunakan untuk membedakan jenis bekicot. Cangkang pada Achatina fulica bergaris-garis lurus berwarna coklat, bentuk cangkangnya lebih langsing. Cangkang Achatina veriegata bergaris patah-patah coklat kemerahan lebih jelas dan bentuk cangkangnya lebih gemuk (Asa, 1984).
Bekicot berasal dari Afrika Timur, kemudian menyebar ke kepulauan Mauritius, India lalu ke Semenanjung Malaya. Sekitar tahun 1922, bekicot jenis Achatina fulica masuk ke Kalimantan dan Sumatera, kemudian pada tahun 1933 bekicot jenis Achatina fulica tersebut masuk ke pulau Jawa. Sedangkan bekicot jenis Achatina variegata masuk ke pulau Jawa pada tahun 1942 bersama dengan masuknya tentara Jepang. Bekicot dikenal sebagai hewan yang rakus dan memiliki toleransi  besar terhadap berbagai macam makanan dan tahan terhadap persediaan makanan yang terbatas. Bekicot memerlukan sumber kalsium untuk pembentukan cangkangnya. Pakan bekicot tidak boleh mengandung garam dapur, cabe dan abu dapur (Asa, 1984).
Bekicot tidak tahan terhadap sinar matahari langsung, senang di daerah tropik, tidak tahan di daerah yang waktu keringnya terlalu panjang dan di daerah bersalju. Pada waktu keadaan lingkungan kering, bekicot menjadi tidak aktif (aestivasi) dan menarik tubuhnya ke dalam cangkang kemudian kakinya mengeluarkan lapisan lendir yang kaku dan mengeras untuk menutup lubang cangkang guna melindungi dirinya dari kekeringan. Sewaktu aestivasi bekicot bernafas melalui celah kecil (pneumostoma) yang berhubungan dengan kantong paru-paru (Reksohadiprojo, 1994).
Bekicot bersifat hermaprodit sehingga dalam satu tubuh terdapat alat kelamin jantan maupun betina. Umur pubertas bekicot dicapai setelah panjang cangkang berukuran 80 mm. Untuk keperluan pembuahan, bekicot melakukan perkawinan silang. Sperma hasil perkawinan silang antara dua induk bekicot tersebut disimpan dalam alat penimbun sperma (spermateka). Setiap ekor bekicot merupakan penghasil telur. Sebelum bertelur, bekicot menunjukkan kelakuan membuat sarang. Waktu yang diperlukan induk bekicot untuk membuat sarang adalah antara 1.5 - 2 jam. Jumlah telur yang dihasilkan bekicot juga dipengaruhi oleh kondisi daerah tempat hidupnya. Jumlah telur yang dihasilkan oleh bekicot dipengaruhi oleh panjang cangkangnya. Semakin panjang ukuran cangkang bekicot maka jumlah telur yang dihasilkan semakin banyak. Waktu yang diperlukan untuk sekali proses peneluran rata-rata sekitar 12 jam (Reksohadiprojo, 1994).
Umumnya bekicot bertelur dalam sarang di dalam tanah. Ada di antara induk bekicot yang meletakkan telurnya di bawah kayu, batu atau benda lainnya. Induk bekicot yang meletakkan telunya di tempat tanah juga ada, tetapi jarang. Induk bekicot membuat sarang dengan menggali tanah menggunakan kepalanya. Kedalaman sarang telur bekicot antara 3 - 5 cm. Bila induk meninggalkan sarang, telur ditutup dengan tanah. Telur secara alami dibiarkan dalam sarang dan selanjutnya diserahkan sepenuhnya pada alam sampai menetas. Bekicot tidak dapat menggali tanah untuk bertelur apabila tanah terlalu kering dan keras, sedangkan bila tanah selalu tergenang air maka bekicot akan mati dan telur yang ditetaskan akan membusuk. Telur bekicot cenderung membentuk elips dengan diameter rata-rata 4,5 – 5,5. mm. Volume rata-rata telur bekicot adalah 0,055 ml dengan berat rata-rata 0,061 g. Permukaaan telur bekicot dilapisi oleh selaput yang mampu menyerap air dari sekitarnya untuk mempertahankan kelembaban telur dan mempunyai fungsi dalam pertukaran oksigen pada telur selama masa penetasan. Fertilitas telur bekicot rata-rata 81,79 persen. Fertilisasi telur dapat diketahui pada waktu antara dua sampai empat hari penetasan sehingga telur bekicot ada yang mulai menetas. Masa penetasan telur bekicot antara satu sampai sepuluh hari. Proses keluarnya anak bekicot dari cangkang telurnya berlangsung antara 6 sampai 10 jam (Reksohadiprojo, 1994).
Cara pemeliharaan bekicot dapat dibedakan menjadi dua, yaitu cara pemeliharaan terpisah dan cara pemeliharaan campuran. Bekicot dikelompokkan menurut umur dan panjang cangkang, sehingga terdapat kandang penetasan, kandang induk dan kandang pembesaran pada cara pemeliharaan terpisah. Kandang induk dan kandang penetasan dapat juga dijadikan satu. Bekicot dapat tidak dikelompok-kelompokkan pada cara pemeliharaan campuran. Sistem kandang umtuk tempat pemeliharaan bekicot ada beberapa macam yaitu kandang umbaran, kandang kotak, kandang lubang dan kandang sumuran. Kandang bekicot harus dalam keadaan lembab dan teduh. Makanan bekicot sebagian besar berupa hijauan, baik hijauan sisa maupun hijauan segar. Namun bekicot sangat peka terhadap rasa asin dan pedas. Bekicot juga tidak boleh terkena sisa abu pembakaran karena akan mengganggu proses pengeluaran lendir dan bial hal ini berlanjut dapat menyebabkan kematian bagi bekicot. Pakan bekicot harus dalam keadaan basah (Asa, 1984).
Bekicot selain sebagai komoditi ekspor juga merupakan sumber protein hewani bagi ternak. Daging bekicot tidak terdapat senyawa yang dapat meracuni ternak. Untuk menjamin kelayakan daging bekicot sebagai pakan yang baik maka perlu pengolahan yang baik. Selain pencuciannya yang harus bersih, penambahan abu atau arang pada waktu merebusnya akan lebih meyakinkan penetralan racun yang ada. Dengan merebus sampai mendidih (di atas 100oC) sudah dipastikan dapat mematikan kuman patogen yang berbahaya. Daging bekicot yang dibuat menjadi pakan ternak sebaiknya dijadikan tepung terlebih dahulu baik dalam bentuk Raw Snail Meal (tepung bekicot mentah) maupun Boilled Snail Meal (tepung bekicot rebus) (Mahe, 1993).

Menurut Mahe (1993) penggunaan daging bekicot sebagai bahan pakan ternak unggas diperlukan proses pengolahan sebagai berikut.
a)     Bekicot hidup dikumpulkan dalam ruangan lembab, selanjutnya ditaburi garam dengan perbandingan 1 kg untuk 10 kg bekicot. Didiamkan selama 15 menit, selanjutnya diaduk sampai rata sehingga lendir yang beracun keluar semua.
b)     Bekicot yang sudah digarami, lalu dibersihkan dengan dimasukkan dalam drum yang berisi air kapur.
c)     Bekicot dengan cangkangnya selanjutnya direbus setengah matang, dikeluarkan dan dicukili dagingnya untuk dipisahkan dari cangkangnya.
d)     Daging bekicot dicuci sekali lagi dari kemungkinan sisa lendir yang masih ada, kemudian direbus sampai masak untuk menghindarkan adanya bakteri salmonela, selanjutnya dikeringkan dengan sinar matahari dan digiling menjadi tepung.

Daging bekicot sebagai bahan pakan unggas dapat dimanfaatkan untuk mengganti tepung ikan, karena menpunyai kandungan protein yang sebanding, selain itu juga memiliki kandungan asam amino dan mineral yang cukup memenuhi persyaratan sebagai pakan bergizi. Apabila tepung bekicot mentah digunakan sebagai campuran pakan, sebaiknya tidak lebih dari 10 persen, sedangkan penggunaan tepung bekicot rebus antara 5 - 15 persen (Asa, 1984). Ditambahkan oleh Santoso (1987) bahwa tepung bekicot dapat digunakan sebagai campuran ayam pedaging sampai 15 persen dan tidak memberikan pengaruh yang negatif. Pada penggunaan tepung bekicot sebesar 7,5 persen dalam pakan dapat memberikan pertumbuhan ayam yang lebih baik dari pada ayam yang tidak mendapat pakan tanpa campuran tepung bekicot. Hasil penelitian Mahe (1993) tentang pengaruh penggunaan tepung
bekicot (Achatina fulica) dalam ransum terhadap performan puyuh periode layer menunjukkan penggunaan tepung bekicot sampai 15 persen dalam pakan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap konsumsi pakan, konversi pakan dan efisiensi pakan, tetapi menunjukkan perbedaan yang sangat nyata terhadap produksi telur. Sedangkan terhadap berat telur menunjukkan perbedaan yang nyata. Produksi telur yang paling tinggi dihasilkan oleh puyuh yang mendapat pakan dengan campuran tepung bekicot sebesar 15 persen. Pakan dengan kandungan tepung bekicot sebesar 10 persen menunjukkan konversi yang paling rendah sedangkan efisiensi pakan dicapai oleh puyuh yang mendapatkan pakan tanpa campuran tepung bekicot. Selanjutnya dinyatakan bahwa tepung bekicot sebaiknya digunakan dalam tingkat 15 persen dalam pakan pakan puyuh periode starter. Sebab dalam hal ini memberikan produksi paling tinggi dibanding lainnya. Dengan demikian tepung bekicot dapat dijadikan alternatif pengganti tepung ikan.
2. Bahan Pakan Tepung Daun Pisang
musa_paradisiaca-fruit-1.jpg
            Menurut Anonim (2011) tanaman pisang mempunyai sitematika sebagai berikut :
Kingdom          : Plantae                           
Phylum            : Spermatophyta             
Sub phylum      : Angiospermae
Classis              : Monocotyledoneae
Ordo                 : Zingiberales
Famili:
Musaceae
Genus:
Musa
Spesies: Musa paradisiaca
Spesies : Musa paradisiaca yaitu pisang-pisang yang enak dimakan, Musa texcilisnoe yaitu pisang-pisang yang hanya diambil pelepah batangnya dan Musa sebrina van hautte yang merupakan tanaman pisang liar yang hanya ditanam sebagai hiasan.
Menurut kegunaannya tanaman pisang dibagi menjadi dua, yaitu musa paradisica forma typica yang merupakan golongan tanaman pisang yang buahnya dapat dimakan setelah diolah terlebih dahulu dan pisang yang dapat dimakan setelah masak (buah segar) yang masuk ke dalam golongan musa paradisica var. sapientum dan Musa nana L. atau musa cavendisher Tanaman pisang berasal dari Asia Tenggara. Tanaman pisang mudah tumbuh pada lingkungan tropik maupun sub tropik. Pada kondisi musim kering, tanaman pisang tahan hidup karena kandungan air dalam pelepah batang tanaman pisang antara 80 - 90 persen. Tanah yang cocok untuk kehidupan tanaman pisang adalah sedikit asam sampai agak basa atau antara pH 6 sampai 8. Pada tanah asam, tanaman pisang mudah terserang penyakit. Tanaman pisang akan tumbuh subur dan tumbuh dengan baik bila kadar humus pada tanah relatif tinggi, kondisi ini banyak dijumpai pada tanah liat yang menagndung kapur (Rismunandar, 1989).
Sinar matahari mutlak diperlukan oleh tanaman pisang. Iklim yang ideal untuk pertumbuhan tanaman pisang bila kondisi udara lembab, banyak sinar matahari dengan perubahan panas yang tidak menyolok. Sebaliknya pada daerah yang kekurangan sinar matahari, pertumbuhan tanaman pisang akan menjadi lambat (Supriyadi, dkk, 1993).
Tanaman pisang sangat baik di budidayakan pada tanah-tanah vulkanik atau alluvial dengan tekstur lempung, lempung berpasir, atau lempung liat berdebu. Tanah tersebut hendaknya berstruktur longgar (gembur) sehingga mudah menghisap atau melepaskan air. Keasaman tanah berkisar antara 4 - 6 dan pH optimal adalah 6 - 7. Kedalaman tanah (solum) minimal 50 cm. Walaupun pisang dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, tetapi akan lebih baik pertumbuhannya bila di tanam pada struktur tanah yang gembur atau struktur tanah yang remah dan tidak di tanam di tanah yang padas, dan pH tanah yang di kehendaki berkisar 4,5 - 7,5. Umumnya tanaman pisang lebih menyukai dataran rendah yang beriklim lembah, ketinggian yang dikehendaki 300 m di atas permukaan air laut. Akan tetapi ia juga mampu hidup sampai ketinggian 1000 m diatar permukaan air laut, namun pada ketinggian tersebut hasil seratnya akan berkurang (Supriyadi, dkk, 1993).
Tanaman pisang dapat hidup di daerah tropis sampai sub tropis. Suhu yang dikehendaki untuk tumbuh dengan normal antara 170C - 300C. Untuk tumbuh normal, tanaman pisang memerlukan curah hujan yang normal minimal 2.000 mm/tahun tetapi tidak menutup kemungkinan di bawah 2.000 mm/tahun, asalkan di adakan pengairan yang teratur karena tanaman pisang membutuhkan air yang cukup. Pengairan di sesuaikan kondisi kelembaban tanah kering/basah. Kelerengan yang dikehendaki tanaman pisang berkisar antara 15 - 25%. Kelerengan di atas 25% juga dapat dimanfaatkan asalkan di buat terasering untuk memudahkan pemeliharaan dan menghindari erosi tanah (Supriyadi, dkk, 1993).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penentuan jarak tanam yakni singkat kesuburan tanah, jenis, atau klon tanaman dan tingkat kemiringan lahan. Pada tanah yang subur, jarak tanam biasanya lebih besar jika di bandingkan pada tanah yang kurang subur. Jenis atau klon tanaman yang berkanopi lebar di tanam dengan jarak yang lebih besar di bandingkan dengan berkanopi kecil. Sedangkan pada tanah dengan topografi berbukit miring, biasanya jarak tanaman lebih besar karena harus mengikuti arah garis kontour. Pada pisang jenis mangundinao kita menggunakan jarak tanam 5 x 5 m ( P x L ) dan dalam kurun waktu empat bulan setelah tanam akan tumbuh 2 - 3 anakan (Rismunandar, 1989).
Penentuan waktu tanam berkaitan erat dengan kesediaan air di lokasi yang bersangkutan. Saat waktu tanam pisang yang baik adalah beberapa hari menjelang musim hujan tiba, yaitu pada pagi hari jam 07.00 - 10.30 dan sore hari jam 14.30 - 17.00. Mengacu pada usaha konservasi lahan terdapat 2 pola tanam yaitu untuk lahan dataran tinggi ditanam dengan pola monokultur, dan untuk dataran rendah dengan pola tumpang sari. Penanaman dengan pola monokultur untuk dataran rendah yakni penanaman satu jenis tanaman. Kelemahan monokultur yakni memberi peluang beradanya hama dan penyakit yang tidak pernah putus dan juga terjadinya ledakan hama karena persediaan makan tercukupi. Penanaman tumpang sari dengan cara penanaman tanaman pokok (pisang) dan diantara tanaman pokok juga ditanam satu jenis tanaman lain misalnya kedele, tanaman sela di tanam saat penanam tanaman pokok dan umur tanaman sela harus lebih pendek dari tanaman pokok (Rismunandar, 1989).
Sesuai dengan kemajuan teknologi, budidaya tanaman pisang mengalami kemajuan. Budidaya tanaman pisang diharapkan untuk mendapatkan hasil yang optimum dan buah pisang yang bermutu tinggi. Hal ini didukung oleh iklim yang cocok untuk pertumbuhan tanaman pisang. Walaupun demikian tidak semua wilayah merupakan sentra produksi tanaman pisang (Munadjim, 1984)..
Disisi lain budidaya tanaman pisang yang dilakukan oleh masyarakat menjadi penentu sentra produksi tanaman pisang. Produksi tanaman pisang di Indonesia pada tahun 1989 mencapai 2.457.760 ton. Indonesia merupakan penghasil buah pisang terbesar di Asia dengan menguasai produksi sebesar 50 persen dan setiap tahun terus meningkat (Munadjim, 1984).
Tanaman pisang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia. Selain buahnya, bagian tanaman yang lainpun dapat dimanfaatkan mulai dari bonggol sampai daun. Bagian tanaman pisang yang dapat dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak adalah umbi, batang, jantung pisang dan daun pisang. Pemanfaatannya dapat langsung diberikan kepada ternak, dapat juga dibuat dalam bentuk tepung terlebih dahulu. Cara pembuatan tepung daun pisang mula-mula daun segar dipotong dari pohonnya dan dipisahkan dari pelepahnya. Kemudian daun pisang dikeringkan dengan sinar matahari selama empat sampai tujuh hari dan akhirnya digiling (Trisaksono, 1994).
Menurut Trisaksono (1994) untuk memperbaiki nilai gizi tepung daun pisang maka dalam pakan ternak perlu ditambahkan bahan pakan lain sebagai campuran, seperti tepung ikan dan bekatul. Daun pisang mempunyai kandungan karbohidrat dan energi yang relatif tinggi di antara bahan pakan yang lain.
Kelemahan daun pisang sebagai alternatif bahan pakan unggas adalah adanya faktor pembatas yaitu kandungan tannin. Ada dua golongan tannin di dalam daun pisang yaitu tannin yang bebas yang dapat menyebabkan rasa pahit dan tannin tidak bebas yang sedikit pengaruhnya terhadap palatabilitas. Tannin merupakan polimer fenol yang dapat menurunkan palatabilitas, menghambat kerja enzim dan mempunyai kemampuan untuk mengikat protein. Pada unggas, tannin menyebabkan kejadian penurunan konsumsi. Selain itu juga mengurangi daya cerna protein karena menghambat aktivitas enzim proteolitik khususnya tripsin. Tannin juga menyebabkan retensi nitrogen tertekan dan mengakibatkan penurunan daya cerna asam amino. Daun pisang dapat digunakan sebagai bahan pakan ayam dan mempunyai pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan ayam petelur (Santoso, 1987).
Selanjutnya dilaporkan juga bahwa aras pemberian tepung daun pisang sebesar 9 persen dalam pakan sebagai pengganti daun lamtoro tidak banyak mempengaruhi konsumsi, konversi dan efisiensi pakan ayam broiler. Berdasarkan analisis ekonomi, pemberian tepung daun pisang ternyata lebih ekonomis dari pada daun lamtoro. Daun pisang dapat digunakan untuk makanan sapi dan kerbau pada waktu musim kemarau apabila kekurangan rumput (Rismunandar, 1989).
Penelitian Trisaksono (1994) menunjukkan bahwa pemberian tepung daun pisang yang ditambahkan enzim sellulase menunjukkan semakin meningkat aras pemberian tepung daun pisang memberi efek terhadap peningkatan konsumsi pakan yang maksimum pada aras pemberian 10 persen, tetapi memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap konversi pakan. Selanjutnya dinyatakan bahwa pemberian tepung daun pisang yang paling baik digunakan sebagai bahan campuran dalam pakan adalah aras 20 persen karena dari hasil analisis varian memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap konversi pakan.