Monday, September 23, 2013

Menghitung Hujan Epilog by Santhy Agatha

Malam yang tenang dan syahdu, Diandra keluar dari ruang keluarga dan menatap Axel yang menunggunya di ruang tamu. Kedua orang tua Diandra, dan seluruh keluarga berkumpul di rumah sang nenek di bandung untuk acara temu keluarga yang diadakan rutin setahun sekali.

Dan Diandra memilih waktu yang tepat untuk membuka semuanya kepada orang tua dan seluruh keluarganya, bahwa dia sudah tahu kenyataan dirinya sebagai anak angkat.
Ibunya menangis dan ayahnya cemas, takut Diandra akan berubah sikap kepada mereka, tetapi Diandra berhasil meyakinkan semuanya, bahwa dia tetaplah Diandra yang sama, entah dia anak kandung atau bukan. Bahwa dia tetaplah puteri mereka yang mencintai dan dicintai oleh mereka.


Acara keluarga itupun berlangsung dengan haru, dengan tangis dan peluk-pelukan yang memenuhi akhirnya.

Diandra menghela napas panjang, merasakan kelegaan memenuhi dadanya, bersyukur sepenuh hati bahwa dia memiliki keluarga yang selalu siap sedia mendukungnya... dan juga memiliki Axel.

Sudah beberapa bulan berlalu, dan Axel selalu setia menemaninya, seperti yang dijanjikannya. Lelaki itu dengan semangat mengunjungi Diandra kalau Diandra sedang di Jakarta, pun dia selalu menyambut dengan gembira kalau Diandra lebih banyak menghabiskan waktunya di Bandung, di tempat neneknya.

Hati Diandra sudah hampir sembuh, dia bahkan sudah tidak pernah memikirkan Reno lagi, bahkan ketika menerima kabar pernikahan Reno dengan Nana, Diandra sama sekali tidak merasa sakit hati, mereka semua diundang tentu saja, tetapi Diandra memutuskan tidak akan datang, karena dia tahu kehadirannya akan menimbulkan kecanggungan tersendiri.

Tetapi bukan itu yang penting, yang penting baginya adalah ketika dia benar-benar menyembuhkan luka hatinya, ketika kemudian dia bisa menelepon Reno dan Nana, mengucapkan selamat dengan tulus tanpa rasa pedih sedikitpun.

Ya, Diandra sekarang sudah sembuh, dulu dia pernah mencintai dengan sangat dalam. Tetapi kemudian cintanya tak tepat hati. Dan dengan tegar, Diandra berhasil menyembuhkan diri dengan sempurna. Dia telah benar-benar bisa berbahagia dan tak mengharapkan Reno lagi. Baginya, Reno hanyalah sebuah sejarah masa lalu yang bisa dijadikan pembelajaran.

Ada sebuah tawaran kerja di Bandung yang sesuai dengan bidang pendidikan Diandra, dan Diandra berpikiran untuk menerimanya. Bandung, kota ini memang membawa kesakitan untuk dirinya, kesakitan ketika kehilangan kekasihnya. Tetapi Diandra sudah jatuh cinta kepada kota ini, kota yang diselimuti mendung dan kesejukan, hujan alami yang kadang turun tanpa permisi, dan udara basah yang menyenangkan.

Dan juga... ada Axel di kota ini. Axel pasti akan senang kalau mengetahui rencana Diandra, tetapi Diandra bertekad akan menyimpannya dulu sebagai kejutan untuk lelaki itu.
“Aku sangat bangga padamu Diandra.” Axel menatap Diandra dengan tatapan mata berbinar, memuji ketegaran perempuan itu ketika mengungkapkan semuanya di hadapan keluarga mereka. “Kau sangat kuat, tegar dan mengagumkan.”

Pujian Axel itu membuat pipi Diandra memerah karena malu,

“Kau berlebihan.” Gumamnya lembut, “Tetapi setidaknya hal ini membuatku lega.” Gumamnya pelan. “Ketika kita tidak menyimpan rahasia lagi, ternyata menyenangkan. Aku pikir hal ini juga membuat orang tuaku lega, bertahun-tahun mereka menyimpan rahasia ini dariku, demi menjaga perasaanku, sekarang mereka bisa bersikap bebas dan apa adanya.”

“Ya. Dan mereka tetap mencintaimu dengan tulus, tidak berubah setitikpun.” Axel mendekat, berdiri di sebelah Diandra yang merenung menatap ke luar ke arah jendela kaca yang memantulkan pepohonan besar di halaman rumah nenek mereka, “Dan akupun juga merasa sedikit lega.”

“Lega?” Diandra mengalihkan perhatiannya ke wajah Axel, menemukan kegugupan misterius di sana. Lelaki ini sungguh tampan. Sekali lagi Diandra menggumamkan kenyataan itu kepada dirinya sendiri.

“Ya, aku merasa lega.” Axel tersenyum, “Karena setelah seluruh keluarga tahu bahwa kita tidak sedarah, aku bisa mendekatimu dengan terbuka.”

Pipi Diandra memerah, “Kau juga harus menjelaskannya kepada masyarakat karena mereka semua berpikiran kalau kita sedarah.”

“Tidak masalah, aku sudah memikirkan semuanya, bahkan aku sudah berpikir untuk mengurus surat-suratnya kalau memang diperlukan supaya bisa mensahkan secara hukum.”

“Surat-surat?” Diandra mengerutkan alisnya dengan bingung, “Apa maksudmu, Axel?”

“Surat-surat. Kalau kita akan menikah nanti, ada surat-surat yang harus diurus. Kau tahu, mungkin akan sedikit repot karena kau diadopsi secara resmi dan dinyatakan sebagai anak yang sah secara hukum, itu berarti secara hukum pula aku adalah saudara sepupumu yang sah, yang membuat pernikahan kita akan dipertanyakan. Tetapi aku sudah berkonsultasi dengan ahli hukum dan dia mengatakan bahwa pernikahan ini masih bisa dilakukan, mungkin urusannya memang jadi lebih rumit dari pernikahan normal biasa, tetapi tetap bisa dilakukan.” Axel terus berbicara, tidak mempedulikan wajah terkejut Diandra.

“Pernikahan? Apa maksudmu, Axel....apa....” kata-kata Diandra terhenti ketika melihat Axel mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya, sebuah kotak. Dan ketika Axel membuka kotak itu, lalu menunjukkannya di depan Diandra, Diandra ternganga, luar biasa kagetnya.

“Diandra. Aku mencintaimu sudah sejak lama, bahkan mungkin sejak aku melihatmu dalam gendongan mamamu, bayi yang montok dan lucu, sejak itu aku bertekad menjagamu, ingin menjadi pangeranmu yang selalu siap untukmu.” Axel mendesah, “Meskipun ketika dewasa aku menyadari bahwa aku tidak boleh mencintaimu, karena kita bersaudara, aku tetap menyimpan cinta itu dan mengubahnya menjadi cinta saudara.” 

Senyum Axel terkembang, penuh cinta, “Lalu Tuhan memberikan kesempatan kepadaku, dengan mengetahui bahwa kita tidak sedarah, dengan mengetahui bahwa aku masih punya kesempatan memperjuangkan cintaku. Dan aku akan memperjuangkannya Diandra, tak mungkin ada lelaki yang bisa mencintaimu sebesar aku, kau sempurna, kau yang paling indah, kau adalah segalanya bagiku. Dan seandainya kau mau menjadi isteriku, aku bersumpah akan membahagiakanmu dengan sepenuh hatiku.” Suara Axel tertelan di tenggorokkannya dan dia tampak gugup, “Diandra... aku membelikanmu cincin ini dengan harapan, untuk mengikatmu menjadi milikku dan memberikan diriku untuk menjadi milikmu, maukah kau mengabulkan harapanku ini dengan menerima lamaranku?”

Axel tampak begitu sungguh-sungguh dengan perkataannya, membuat mata Diandra berkaca-kaca, membuat bibirnya gemetar menjalar ke seluruh tubuhnya.

Tidak pernah dia menyangka akan dicintai sedalam itu, semurni itu dan dengan sepenuh hati. Diandra pernah disakiti, pernah dilukai sampai akhirnya berusaha menyembuhkan dirinya sendiri, mengembalikan rasa percaya dirinya yang telah mati, dan sekarang Axel berdiri di depannya, mengatakan bahwa dia adalah wanita segalanya, bahwa dia adalah segalanya bagi Axel.

Dan tidak akan ada, tidak akan pernah ada lamaran seindah ini, selain dari Axel.

Jantung Diandra berdebar ketika dia menjawab dengan gemetar,

“Ya Axel... aku mau. Aku mau menjadi isterimu.” Jawabnya pelan, air mata bergulir dari sana, air mata haru dan bahagia.

Axel memejamkan matanya, mendesah penuh kelegaan,

“Terimakasih Tuhan.” Dan kemudian dia meraih jemari Diandra, memasangkan cincin itu di sana lalu mengecup jari Diandra dengan lembut dan penuh cinta,

“Aku mencintaimu sayang.” Lelaki itu menghela Diandra ke dalam pelukannya dan memeluknya erat-erat, “Aku akan menjagamu.”

Diandra membalas pelukan Axel dan memejamkan matanya yang penuh air mata di pundak lelaki itu,

“Terimakasih Axel, aku juga mencintaimu.”

Kedua sejoli itu berpelukan dengan begitu bahagia, tidak menyadari ketika orang tua mereka menengok dari ruang tengah dan melihat anak-anak mereka sedang berpelukan.

Papa Axel mengedipkan matanya kepada papa Diandra, lalu merangkul adiknya itu masuk kembali ke dalam supaya tidak mengganggu kedua sejoli yang sedang menumpahkan rasa itu.

“Kurasa, selain menjadi kakak adik, kita akan menjadi besan sebentar lagi.” Papa Axel terkekeh, yang disambut dengan gelak papa Diandra,

“Dan kita akan sibuk menjelaskan kepada semua orang karena mereka akan menganggap semua ini aneh.” Tawanya, “Tetapi tidak apa-apa, yang penting anak-anak kita bahagia.”

“Tentu saja.” Sahut papa Axel, “Tak ada yang paling diinginkan orang tua, selain kebahagiaan anak-anaknya.”

Dan kemudian mereka semua tersenyum dalam hati, mengucap syukur bahwa anak-anak mereka telah menemukan jodoh yang dicintai sepenuh hati.