Monday, September 23, 2013

Menghitung Hujan Part 16 by Santhy Agatha


Semua mata langsung memandang ke arah Nana, membuat Nana merasa canggung luar biasa. Diandra sendiri tampak tenang, perempuan itu tersenyum dan menghampiri Nana,

“Ayo Nana, aku kenalkan kepada mama dan papa Reno.” Gumamnya cepat, meraih tangan Nana hingga Nana terlepas dari Nirina yang masih terduduk shock. Nana tersendat-sendat mengikuti langkah Diandra yang menarik lengannya,


“Mama, papa, ini Nana. Mama dan papa pasti sudah mendengar namanya dari Reno.” Diandra tersenyum ceria, kemudian menepuk bahu Nana, “Ayo, masuklah ke sana, dokter pasti akan mengizinkan kita menambah satu orang untuk membesuk Reno, apalagi kalau mengetahui itu akan memberikan efek yang bagus bagi kesembuhan Reno.”

Semua orang masih terpaku bisu dalam suasana yang canggung, kecuali Diandra yang memasang wajah ceria, seperti tidak ada hal yang aneh di balik suasana ini.

Papa Reno yang kemudian tersadar dan berusaha memecah suasana canggung itu,

“Saya papanya Reno.” Gumamnya mengulurkan tangan yang segera di sambut Nana dengan gugup. “Saya tahu Nana pasti sangat ingin menengok Reno, iya kan ma?”

Mama Reno yang masih menelusuri seluruh penampilan Nana dengan tatapan mata menyelidik tampak kaget karena namanya disebut.

Dia kemudian menganggukkan kepalanya meskipun tampak tidak rela.

“Silahkan, Reno pasti sangat ingin bertemu denganmu, Nana.”

Dengan Izin dari mama Renopun, Nana masih ragu-ragu, dia benar-benar kebingungan akan keadaan yang tidak diduga-duganya ini. Tetapi kemudian Diandra mendorongnya dan terkekeh ceria,

“Ayo, masuklah ke dalam sana.” Gumamnya setengah mendorong Nana, membuat Nana mau tak mau melangkah masuk ke dalam ruangan tempat Reno terbaring.

***

Begitu Nana masuk dan menghilang di balik pintu, mama Reno langsung menyambar Diandra dengan pertanyaan,

“Kenapa kau lakukan itu Diandra?” tanyanya tajam.

Diandra menatap lembut ke arah mama Reno,

“Itu yang seharusnya dilakukan, mama. Kita tidak boleh memisahkan dua pasangan yang saling mencintai.”

“Tetapi Diandra... bagaimana denganmu? Kau...”

“Diandra tidak apa-apa, mama. Diandra sudah sampai di suatu titik untuk menyadari bahwa Reno mungkin memang bukan jodoh Diandra, banyak sekali kejadian sebelum ini yang menunjukkan kepada Diandra akan kenyataan itu.” sekilas Diandra melirik ke arah Axel yang segera tahu apa maksudnya. Semua kejadian sebelumnya.... kenyataan bahwa Diandra adalah anak angkat, kenyataan bahwa Diandra mempunyai kakak lelaki yang ternyata adalah Rangga....

Diandra meremas jemari mama Reno,

“Diandra sudah merelakan Reno, mama. Tetapi mama tidak usah kuatir, hal ini tidak akan merenggangkan sayang Diandra kepada mama, Diandra akan selalu menjadi puteri mama.”

Air mata bergulir dari mata mama Diandra, perempuan setengah baya yang masih cantik itu menangis, lalu memeluk Diandra erat-erat.

***

Axel menggenggam jemari tangan Diandra erat-erat dalam perjalanan mereka pulang dari rumah sakit, mereka sudah berada di tempat parkir. Dengan sopan Axel membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Diandra masuk, dia kemudian duduk di balik kemudi.

Diandra masih memasang ekspresi datar, tetapi kemudian dia menyadari bahwa Axel tidak segera menjalankan mobilnya, lelaki itu malahan menatap Diandra dengan intens, membuat Diandra mengerutkan keningnya,

“Kenapa kita tidak segera jalan Axel?” Diandra akhirnya bertanya dengan bingung.

Axel menghela napas panjang,

“Kita sudah di sini berdua, Diandra dan kau tidak perlu berakting lagi. Kau bisa menangis di depanku.” Bisiknya lembut.

Kata-kata Axel itu meluluhkan hati Diandra yang sejak tadi telah dipasangi benteng melingkar yang rapat, benteng itu runtuh seketika, bersamaan dengan air mata yang meleleh di pipinya.
“Aku.... sesungguhnya aku masih tak rela aku selalu merasa bahwa cintaku kepada Reni yang paling kuat.....” suara Diandra tercekat oleh tangis, “Tetapi memang semua sudah seharusnya begitu... aku juga tidak mungkin bisa bersama Reno, apalagi setelah mengetahui bahwa jantung Rangga... jantung kakakku... yang ada di dadanya... sepertinya semua sudah diatur agar aku tidak berjodoh dengan Reno.” Diandra bergumam di antara tangisnya, di antara kepedihan yang meluap di dadanya.'

Benak Axel terasa diremas, dia langsung meraih Diandra ke dalam pelukannya, mengusap rambutnya dengan sayang dan mengecup puncak kepalanya dengan lembut,

“Aku di sini untukmu Diandra, kau boleh menangis semaumu di dadaku. Gunakan aku Diandra, aku milikmu, aku sangat mencintaimu sayang.” Axel berbisik lembut di antara kata-kata penghiburannya, memeluk Diandra semakin erat, berusaha meredakan kepedihan perempuan itu, berusaha menyerap seluruh kepedihan dari diri Diandra.

Dia akan mendampingi Diandra dengan sepenuh hatinya, akan menunggu Diandra dengan setia sampai Diandra menyembuhkan diri dan mau membuka hati untuknya.

Saat itu mungkin akan tiba untuk Axel. Bahkan kalaupun nanti hati Diandra tidak tertambat kepadanya, sepenuh hatinya Axel rela. Tidak apa-apa. Yang penting dia bisa melihat Diandra yang berbahagia, yang tersenyum cerah dan menghangatkan hatinya, yang tidak digayuti kepedihan lagi.

Saat itu akan tiba pada akhirnya, karena waktu akan menyembuhkan segala luka.

***

Ketika menyadari siapa yang masuk, Reno hampir saja menegakkan tubuhnya, melupakan rasa nyeri yang menggayutinya.

“Nana?” suaranya serak, penuh kesedihan, melihat perempuan yang sangat dicintainya itu berjalan mendekat.

Nana mendekat dan menatap Reno dengan sedih,

“Maafkan aku Reno, maafkan aku atas kata-kata terakhirku sebelum kau pergi. Maafkan aku.” Setetes air mata bergulir di pipinya, membuat suaranya bergetar, “Aku bersikap egois dan tidak mempedulikan perasaanmu... aku berikap jahat... hingga... hingga kau jadi seperti ini.”

Reno tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya kepada Nana, dengan lembut menyentuh jemari Nana,

“Semua bukan salahmu, dan semua bukan kesengajaan. Percayalah Nana, tidak pernah ada niat di benakku untuk mengakhiri hidupku dan bersikap tidak bersyukur kepada Tuhan yang telah memberiku kesempatan kedua. Aku ingin kau tahu bahwa itu adalah murni kecelakaan.”

Nana langsung merasakan kelegaan memenuhi sekujur tubuhnya. Syukurlah dugaan pahitnya tidak benar. Reno tidak sedang mencoba bunuh diri, ini adalah murni kecelakaan.
“Setidaknya meskipun kakiku sakit, aku masih bisa bersyukur karena semua kejadian ini membuat kau datang kepadaku.” Reno tersenyum lembut, menatap Nana penuh cinta, membuat air mata Nana semakin mengalir deras,

“Nana...” Reno melanjutkan perkataannya, “Semua pertanyaanmu di apartemen Rangga waktu itu mungkin ada benarnya. Kalau aku jadi kau aku pasti akan bertanya-tanya juga. Pasti kau meragukan apakah aku mencintaimu karena ada jantung Rangga di sini, ataukah karena aku memang benar-benar mencintaimu? Pasti kau berpikir apakah jantung Rangga yang mencintaimu, ataukah Reno? Aku sendiri tidak bisa menjawabnya Nana...” Tatapan Reno meredup, penuh cinta. “Tetapi satu hal yang aku tahu pasti, ketika bersamamu aku merasa nyaman, kau membuatku merasa telah berlabuh, setelah berkelana sekian lama... kau membuatku merasa lengkap. Hanya itu saja. Aku tidak mau bertanya-tanya bagimana seandainya aku tidak mendapatkan jantung Rangga, bagaimana seandainya jantung orang lain yang ada di dalam dadaku, apakah semuanya akan berbeda? Semua itu hanya Tuhan yang tahu jawabannya. Dipikirkan seperti apapun, toh yang terjadi sekarang adalah Reno memiliki jantung Ranga di dadanya dan itu adalah takdir yang tidak bisa diubah, salah satu rencana Tuhan.” Reno meraih tangan Nana dan menggenggamnya, “Yang aku tahu. Bahwa aku mencintaimu dan bahagia bersamamu, dan ingin bersamamu.”

Air mata Nana mengalir deras mendengar pengakuan cinta Reno itu, dadanya terasa sesak dipenuhi oleh rasa haru, syukur yang bercampur kepedihan. Tetapi ada satu rasa yang sangat menonjol di sana, rasa yang akhirnya mampu diakui oleh Nana, di antara isakannya, Nana bergumam lembut,

“Aku mencintaimu Reno.”

Reno... dan bukan Rangga.

***

Sementara itu kedua orang tua Reno tampak mengawasi Nana dan Reno dari balik kaca besar itu. Papa Reno memeluk mama Reno yang masih menatap semuanya dalam keheningan,

“Kurasa kita harus membiarkan anak kita berbahagia dan menentukan pilihannya.”

 Mama Reno masih terdiam, mengamati wajah anak tunggalnya yang menatap wajah Nana dengan penuh cinta. Dia menghela napas panjang dan kemudian menghela napas panjang. Tidak tahu harus berkata apa.

***

Ketika Axel dan Diandra sampai di rumah, Axel masih memeluk pundak Diandra yang rapuh dengan hati-hati,

“Bagaimana dengan pengetahuanmu itu Diandra? Apakah kau akan membicarakan dengan orangtuamu?”

Diandra termenung kemudian menganggukkan kepalanya, “Kurasa aku akan memberitahukan kepada papa dan mama bahwa aku sudah tahu kenyataan diriku bukan anak kandung mereka. Aku tidak bisa menyimpannya terus..” desahnya pelan,.

Dalam hati Axel merasa lega. Kalau Diandra membuka kenyataan tentang dirinya kepada keluarga mereka. Akan terbuka kesempatan bagi Axel untuk mendekati Diandra secara terang-terangan. Semua akan lebih nyaman kalau seluruh keluarga tahu bahwa Axel dan Diandra sama sekali tidak berhubungan darah.

Kemudian Diandra mengangkat kepalanya dan menatap Axel dengan serius.

“Tetapi mengenai masalah Rangga adalah kakakku, aku ingin kita menyimpannya untuk diri kita sendiri Axel, cukup kita yang tahu, bahwa jantung yang ada di dada Reno adalah jantung kakak kandungku, bahwa Rangga dan aku mempunyai hubungan darah, aku ingin menyimpan semua itu sendiri dulu, sampai aku bisa menelaah semuanya.”

Axel menganggukkan kepalanya,

“Kau tahu aku sellau bisa menyimpan rahasia.” Gumamnya pelan. “Aku akan tetap diam sampai saatnya nanti kau siap untuk membuka semuanya.”

Diandra menghela napas panjang. Entah kapan dia siap. Kenyataan bahwa Rangga adalah kakak kandungnya masih membuatnya shock.

“Rasanya menyedihkan, mempunyai kakak kandung yang hubungan darahnya begitu dekat dengan kita, tetapi tidak menyadarinya.” Mata Diandra tampak sedih, “Bahkan aku tidak akan pernah dan tidak akan pernah bisa melihat kakak lelakiku dan bertemu dengannya.”

Axel tersenyum tipis, “Aku selalu bisa menjadi kakak lelakimu kalau kau mau.”

Diandra mencibir, “Seorang kakak lelaki tidak mungkin mencium adiknya sendiri.” Meskipun pipinya merona ketika mengungkit ciuman itu, tetapi Diandra merasa puas bisa menggoda Axel. Yah. Kehadiran lelaki itu yang menopangnya sedikit banyak telah membantu Diandra supaya tegar dan kuat. Bahkan dia bisa dengan gagah berani melepaskan Reno.

Dan ternyata setelah dia ikhlas melepaskan, semuanya jadi terasa lebih ringan. Batinnya terasa tenang dan ringan, tidak digayuti dengan berbagai kesedihan, kemarahan dan perasaan dikhianati... mungkin sudah sejak lama dia harus melakukan ini.

Apa yang sudah terjadi tidak bisa dibalik lagi. Sebagai manusia, dia hanya bisa terus melangkah dan menjalaninya.

Sementara itu pipi Axel tampak sedikit merona ketika mendengar godaan Diandra kepadanya. Axel tentu saja tidak sengaja bersikap impulsif, mencium Diandra seperti itu.. tetapi memang perasaan cintanya yang bertumbuh makin besar kepada perempuan di depannya ini sulit untuk dibendungnya.

“Aku tidak akan melakukannya lagi kalau kau tidak mau. Aku berjanji.” Gumam Axel sungguh-sungguh. Dia tidak mau ciuman itu menjadi batu sandungan kedekatannya dengan Diandra.

Kalau saat ini Diandra menginginkan keberadaannya sebagai kakak laki-lakinya, sepupunya atau apalah. Axel akan melakukannya, dia akan berusaha sedapat mungkin agar Diandra nyaman bersamanya.

Diandra sendiri hanya tersenyum simpul penuh rahasia.

“Siapa bilang aku tidak mau?” dan kemudian setengah menahan senyumnya, perempuan itu membalikkan badannya, dan masuk ke kamar, meninggalkan Axel yang masih terpaku mendengar kata-kata Diandra yang sama sekali tidak diduganya itu.

Apakah Diandra sedang bercanda, ataukah perempuan itu serius dengan kata-katanya?

Axel terpaku, tidak menemukan jawabannya. Matanya masih menatap pintu kamar Diandra yang tertutup rapat dengan sia-sia.

***

“Aku akan menunggu di rumah sakit.” Nana bergumam lembut kepada Nirina setelah di keluar dari ruangan Reno, sementara itu Nirina menatap Nana penuh perhatian,

“Kau tidak apa-apa? Semua baik-baik saja?”

Air mata Nana bergulir, tetapi itu bukan air mata kesedihan,

“Semua baik-baik saja.”

Jawaban Nana sederhana, tetapi Nirina mengerti, itu sudah cukup untuk mencakup semuanya. Nirina memeluk sahabatnya dengan lembut,

“Syukurlah kalau begitu, aku akan pulang ke rumahmu dan kembali kemari untuk membawakan baju ganti.”

“Kau tidak perlu repot-repot, Nirina.” Nana tersenyum sungguh-sungguh tidak mau merepotkan sahabatnya itu.

Tetapi Nirina menggelengkan kepalanya dan membantah perkataan Nana,

“Aku sahabatmu, jadi jangan pernah memikirkan akan merepotkanku. Kurasa akan datang saatnya nanti ketika akulah yang akan merepotkanmu.” Nirina tersenyum jahil. “Kalau begitu aku pergi dulu ya, nanti aku kembali lagi.”

Nana menganggukkan kepalanya dan masih menyimpan senyumnya sampai Nirina menghilang dari pandangan.

Kemudian dia menyadari ada orang yang berdiri di dekatnya. Dia menolehkan kepalanya dan mendapati mama Reno berdiri di belakangnya. Perempuan itu tampak canggung menatap Nana,

“Papa Reno sedang check in di hotel terdekat dari rumah sakit ini. Dan Reno sedang tidak boleh dibesuk, jadi saya pikir, kalau Nana ada waktu, kita bisa duduk dicafetaria dan berbicara.”

Jantung Nana berdebar, tiba-tiba saja merasa gugup.

***

“Saya pernah meneleponmu waktu itu, Nana. Dan maafkan saya karena pada akhirnya tidak datang menemuimu untuk menepati janji. Kau tahu, keadaan begitu rumit waktu itu dan Reno melarang saya.” Gumam mama Reno datar sambil menyesap tehnya.

Nana menganggukkan kepalanya, menangkupkan jemarinya di mug cokelat panas di depannya. Mereka duduk di sudut cafetaria besar yang ada di lantai dasar sayap rumah sakit itu.

Cafetaria itu dulunya mungkin adalah aula besar, dengan langit-langit yang tinggi dan kios-kios penjual makanan yang elegan di sepanjang sisi kanannya. Sementara itu di sisi kirinya berupa jendela kaca berukuran besar-besar yang menampilkan pemandangan taman yang hijau.

“Saya mengerti.” Gumam Nana lemah.

Mama Reno mengamati Nana, meneliti. Nana memang cantik, meskipun tidak secantik Diandra, ada kelembutan dalam pembawaannya. Meskipun begitu, mama Reno masih tidak yakin mengenai Nana, benarkah perempuan di depannya ini yang terbaik untuk anaknya?

“Masalah ini begitu rumit, dan kau mungkin sependapat denganku bahwa hal ini bahkan sulit dipahami oleh akal sehat.” Mama Reno menghela napas, “Bolehkah aku asumsikan bahwa kau sudah mengetahu segalanya tentang Reno? Tentang jantung itu?”

Nana menganggukkan kepalanya lemah,

“Ya, saya sudah tahu semuanya, dan saya sungguh-sungguh terkejut.”

“Tentu saja.” Mama Reno mendesah, “Memang tidak adil menyalahkanmu atas rusaknya hubungan Diandra dengan Reno.... karena Reno bahkan meninggalkan Diandra sebelum bertemu denganmu, kau memang tidak pernah menjadi orang ketiga di antara mereka. Pun ketika akhirnya kau mulai membuka hatimu untuk Reno, anak itu masih merahasiakan semuanya kepadamu. Karena itulah saya... tidak mungkin menyalahkanmu atas semuanya.” Tatapan mama Reno tampak dalam, menembus jauh ke dalam hati Nana,

“Maukah kau ceritakan kepadaku kisah tentang Rangga? Mungkin dengan begitu saya bisa lebih memahami kejadian ini, dan mencoba mengerti.”

Nana menganggukkan kepalanya. Dan kemudian mulai bercerita, semuanya, tentang kisahnya dengan Rangga, tentang kematian Rangga menjelang hari pernikahan mereka, tentang Reno yang datang kemudian, dan tentang kesadaran Nana bahwa dia mencintai Reno, tidak peduli jantung siapa yang ada di dadanya.

Mata mama Reno tampak berkaca-kaca setelah Nana bercerita, perempuan setengah baya itu menghela napas panjang berkali-kali dan kemudian menyusut air matanya dengan sapu tangan yang dibawanya.

“Saya rasa.... kalau kau memang benar-benar mencintai Reno, bukan hanya karena jantung di dadanya, saya bisa menerima bahwa kau mungkin perempuan yang bisa membuat Reno bahagia, apalagi mengingat betapa besarnya cinta Reno kepadamu.”

Nana menghela napas panjang, menatap mama Reno dalam senyuman tipis.

“Terimakasih.... saya.. saya akan mencoba sebaik mungkin membahagiakan Reno.”

Mama Reno menganggukkan kepalanya,

“Ya. Saya percaya kau akan bisa melakukannya, Nana.” Perempuan itu setengah beranjak dari duduknya, “Diandra memang akan selalu menjadi puteri kesayanganku, dan tak akan tergantikan. Tetapi mungkin aku bisa menambah satu puteri lagi.” Perempuan setengah baya itu berdiri, dan ketika Nana mengikutinya berdiri, tanpa diduga, Mama Reno memeluk Nana dengan lembut.

***

Meskipun kakinya masih di gips, Reno sudah bisa bergerak sekarang dan tidak tergantung pada infus. Pagi itu suster membantunya pindah ke kursi roda. Dan sekarang dia sedang berada di taman, menatap ke arah pemandangan rumput yang menghijau dan ditata dengan indah, dengan Nana berdiri di belakangnya,

“Aku senang semua akhirnya berlangsung dengan baik antara kau dan keluargaku.” Gumam Reno kemudian, memecah keheningan yang syahdu.

Nana terdiam, menatap keindahan di depannya, lalu menatap puncak kepala Reno dan tersenyum sendu.

Mereka sudah bisa bersama dan direstui sekarang. Keluarga Reno sudah menemui keluarga Nana, ada saling pengertian yang terjalin di antara mereka, pengertian bahwa kedua anak mereka memang benar-benar saling mencintai dan ditakdirkan bersama.

“Aku bersyukur semua baik adanya Reno.” Air mata Nana menetes, “Berjanjilah setelah ini kau akan berhati-hati kalau menyetir, bahwa kau akan menjaga dirimu untukku.”

Reno meraih jemari Nana yang berdiri di belakangnya dan mengecupnya,

“Aku berjanji sayang, dulu bahkan aku merasa tidak punya harapan hidup lagi, tetapi jantung Rangga di sini telah memberiku kesempatan kedua. Kesempatan untuk mencintaimu dengan sepenuh hatiku, dan aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu. Betapa aku mencintaimu Nana, di hatiku, di kepalaku. Aku mohon segera setelah aku sembuh, menikahlah denganku.”

Nana tertegun. Lamaran untuk menikah, diucapkan di taman rumah sakit yang indah. Sungguh romantis dan menggugah hati, meskipun tanpa cincin.

Reno mendongak, berusaha mencari wajah Nana yang terdiam dan kemudian, lelaki itu menatap Nana dengan ragu,

“Apakah kau mau menikah denganku, Nana?”

Air mata bergulir di pipi Nana, air mata kebahagiaan.

“Ya Reno. Aku mau. Aku mau menikah denganmu.”

Reno menatap Nana dengan tatapan mata berkaca-kaca, “Terimakasih Nana, aku.... bahagia.”

Dan kemudian dua anak manusia itu berpegangan tangan dengan eratnya, seperti halnya dua hati mereka yang terjalin penuh cinta dan kepercayaan.

Nana pernah patah hati, pernah hancur karena cinta, dan Renolah yang telah membawanya kembali, membuatnya berani untuk mencintai. Mungkin jantung Rangga di dalam sana memberikan pengaruh, mungkin juga tidak, Nana sudah tidak memikirkannya lagi.
Yang terpenting sekarang, dia menyayangi Reno, dia membuka hatinya untuk Reno sekaligus membuka masa depan mereka untuk bersama. Mereka memang telah melalui segalanya, menyakiti satu sama lain dan kemudian dipersatukan lagi. Tetapi satu hal yang pasti Nana yakini. Reno mencintainya dengan tulus, setulus cinta Nana kepada lelaki itu.

Dan mereka akan menjaga cinta itu selama Tuhan mengizinkan mereka. Sampai di suatu titik jantung mereka akan berdebar satu sama lain untuk saling setia.

Bukan lagi jantung Rangga, tetapi jantung Reno. Bukan lagi mencintai kenangan, tetapi mencintai kesempatan yang dihadiahkan Tuhan kepada mereka berdua