Saturday, September 21, 2013

Menghitung Hujan Part 10 by Santhy Agatha

"Tentang Reno dan Diandra?" Nana mengernyitkan keningnya. Siapa itu Diandra? Nana berusaha mengorek-korek ingatannya tetapi dia tetap tidak menemukan ingatannya tentang seseorang bernama Diandra.

Axel menjawab dengan cepat, "Diandra... yang kemarin kita bertemu di depan Cascade."

Nana mengedipkan matanya, "Diandra.. maksudmu Dian?"
Axel langsung sadar kalau Diandra memperkenalkan dirinya sebagai Dian kepada Nana, "Ya, maksudku Dian."

"Kalau begitu, Reno dan Diandra..... apakah maksudmu Reno mengenal Diandra?" Nana mengernyitkan keningnya. Kalau begitu kenapa kemarin Dian dan Reno bersikap tidak saling kenal? bahkan sepanjang ingatan Nana, mereka bukan hanya tidak saling menatap, tetapi juga tidak saling menyapa. Sampai kemudian setelah mereka pergipun, Reno sama sekali tidak mengindikasikan bahwa dia mengenal Diandra.....

Nana mengalihkan pandangannya dan menatap Axel dengan bingung. Lelaki ini tidak dikenalnya, datang menemuinya ingin menjelaskan tentang Reno dan Diandra, dari kesimpulan cepat Nana, mungkinkah lelaki ini adalah kekasih Diandra?

"Ceritanya sedikit kompleks dan panjang, bisa aku minta waktu Nana? mungkin kita bisa duduk di suatu tempat?"

Nana menatap Axel, penampilan lelaki ini tampaknya tidak mencurigakan, tetapi bagaimanapun juga Nana tidak kenal dengan Alex, apalagi penjahat-penjahat sekarang malahan kebanyakan berpenampilan meyakinkan agar tidak dicurigai.'

"Nana?" teguran Axel itu mengagetkan Nana dari lamunan liarnya, membuat pipinya memerah malu ketika menyadari bahwa dia melamun di depan Axel.

Dengan cepat, Nana mengambil keputusan paling aman.

"Kita bisa berbicara sambil duduk di kantin kampus."

*** 

Kantin kampus sebenarnya bukan tempat yang tepat untuk melakukan pembicaraan serius karena suasananya biasanya ramai. Tetapi untunglah, karena menjelang jam pulang kampus, suasana kantin agak sedikit lengang. Hanya ada beberapa mahasiswa yang duduk mengobrol dengan tenang di berbagai sudut. Dan tempat ini merupakan tempat ideal bagi Nana karena tempat umum yang banyak orang merupakan tempat yang paling aman ketika berbicara dengan orang yang baru dikenalnya ini.

Mereka memilih duduk di sebuah sudut yang nyaman, cukup ada privasi untuk bercakap-cakap tapi tetap bisa dilihat dan melihat orang banyak. Pelayan menawarkan menu dan Axel memesan minuman jeruk sementara Nana memesan kopi kesukaannya. Axel mengangkat alis melihat pesanan Nana,

"Kopi siang-siang?" tanyanya penuh arti sambil tersenyum.

Nana membalas senyuman Axel. "Aku belum minum kopi hari ini. Biasanya sehari satu mug."

Axel terkekeh mendengarnya. Dia menatap Nana dan menyadari bahwa perempuan di depannya ini adalah perempuan yang menyenangkan. Seandainya tidak ada konlik  yang melibatkan Diandra yang sangat disayanginya, mungkin mereka bisa berteman. Sekarang Axel didera perasaan bersalah karena harus mengungkapkan kenyataan.... kenyataan yang mungkin akan menyakiti hati Nana.

"Jadi?" Nana memandang Axel karena tampaknya lelaki itu malahan tercenung dan tampak ragu, "Ingin bicara tentang apa?"

Axel tergeragap, lalu menghela napas panjang.

"Sebelumnya aku minta maaf karena membahas kehidupan personal. Tetapi karena ini menyangkut Diandra... dia sepupuku dan aku sangat menyayanginya..."

Jadi Diandra adalah sepupunya. Nana mengerutkan keningnya, sayang sekali, karena ketika mereka berjalan bersama kemarin, mereka tampak sangat serasi.

"Mungkin hal yang kuberitahukan kepadamu ini akan mengejutkanmu. Tetapi aku harus mengatakannya. Ini tentang Reno.... kulihat kau akrab dengannya."

Pipi Nana memerah, dia tidak menjawab, tapi Axel tahu ada tatapan berbinar penuh cinta di sana ketika Axel menyebut nama Reno.

"Apakah kau tahu bahwa Reno pernah punya tunangan sebelumnya?" Axel bertanya hati-hati.

Nana mengerutkan kening, langsung teringat akan telepon aneh dari perempuan yang mengatakan bahwa dirinya adalah ibu Reno dan mengajak bertemu, mengatakan tentang Reno dan tunangannya... perempuan itu tidak muncul pada janji temu mereka, dan Reno mengatakan supaya Nana tidak usah memikirkannya lagi....

"Aku tahu, Reno menceritakan kepadaku bahwa dia sudah putus dengan tunangannya sebelum dia pindah ke Bandung."

Tatapan Axel makin intens, "Apakah kau tahu apa alasan Reno meninggalkan tunangannya?"

"Itu bukan urusanku kan?" Nana mulai merasa tidak nyaman. Apa yang menjadi permasalahan Reno sebelumnya dengan tunangannya bukanlah urusan Nana.... apalagi Nana baru bertemu dengan Reno setelah lelaki itu putus dengan tunangannya - seperti yang dijelaskan Reno kepadanya. Reno tampak enggan mengungkit-ungkit masa lalunya itu, dan Nana merasa tahu diri serta tidak mau bertanya-tanya.

"Mungkin kau merasa bahwa itu bukan urusanmu, tetapi sebenarnya itu terkait erat denganmu Nana, amat sangat terkait."

Apa maksudmu?" Nana semakin bingung, "Reno mengenalku setelah dia pindah ke Bandung, jauh setelah dia putus dengan tunangannya, aku tidak ada hubungannya dengan permasalahan Reno dan tunangannya."

"Ada hubungannya. Reno memutuskan pertunangannya karena dirimu, Nana."

"Karena aku? Tidak mungkin, bagaimana bisa...." Nana mulai membantah.

"Dengarkan aku dulu, biarkan aku menjelaskan..." Axel menyela sebelum Nana sempat berkata lain. Setelah Nana terdiam dan tampaknya mau menjelaskan, Axel memulai, "Tunangan Reno.... atau mungkin mantan tunangan Reno adalah Diandra."

Nana terperanjat, "Apa?"

"Ya..." Axel tersenyum tipis, "Dia sepupuku, aku sangat menyayanginya, bahkan ketika aku tidak setuju akan keputusan yang diambilnya untuk datang ke Bandung dan mengejar Reno."

"Mengejar Reno?" Nana mulai membeo setiap perkataan Axel, semua informasi ini terlalu mendadak dan bertumpuk-tumpuk di benaknya, membuat dadanya sesak.

"Aku mengerti kau bingung, aku akan menjelaskannya dari awal." Axel menghela napas panjang, "Dulu kondisi Reno sangat lemah... sejak kecil dia menderita kelainan katup jantung... hidupnya hampir sebagian besar dihabiskan di rumah sakit...... melalui operasi demi operasi, sampai akhinya dokter mengatakan bahwa tidak ada harapan lagi, Reno harus melakukan operasi cangkok jantung untuk menyelamatkan hidupnya." tatapan Axel tampak sedih, "Diandra adalah teman masa kecil Reno... mereka... mereka saling mencintai. Hanya Diandra tempat Reno menyandarkan diri, dan semenjak dulu Diandra menempatkan dirinya sebagai penopang Reno...dia bahkan tidak peduli bahwa umur Reno dinyatakan tidak akan lama, bahwa seluruh penantian dan pengorbanannya akan sia-sia. dia tetap setia mendampingi Reno, mereka bahkan sudah merencanakan pernikahan....." Mata Axel tampak berkaca-kaca, "Kalau kau melihat mereka berdua saat itu, kau pasti juga akan menitikkan air mata... dua pasangan yang begitu saling mencintai, mencoba untuk berbahagia di waktu mereka yang sempit....."

Dada Nana bergemuruh, ini benar-benar informasi yang sangat mengejutkannya. Reno pernah menjelaskan bahwa dia pernah sakit, tetapi lelaki itu mengatakan bahwa dia tidak mau membahasnya lebih lanjut... Nana tidak pernah menyangka bahwa hubungan Reno dengan tuangannya begitu eratnya. Perempuan bernama Diandra itu... benak Nana melayang, tungan Reno itu sangat cantik, lembut dan feminim.... tetapi kalau memang cinta mereka berdua sedemikian besarnya... kenapa pertunangan mereka putus? Kenapa Reno semudah itu jatuh cinta kepadanya? Dan kondisi Reno saat ini bisa dikatakan sangat sehat bukan? Tidak selemah seperti yang diceritakan oleh Axel....atau apakah...

"Apakah Reno berhasil mendapatkan donor jantung dan berhasil dalam proses operasi cangkok jantungnya?" Nana mengungkapkan kesimpulan paling logis yang bisa diungkapnya, hanya itulah satu-satunya alasan Reno bisa sesehat ini.

"Ya." Axel menganggukkan kepalanya, bibirnya menipis, menatap Nana lekat-lekat, "Dia mendapatkan donor jantung yang sangat pas dengannya, jantung itu menyelamatkan hidupnya.... jantung itu berasal dari kekasihmu, Rangga."

Kalau semua informasi tadi terasa begitu mengejutkannya, informasi Axel yang terakhir ini bagaikan sambaran petir ke seluruh diri Nana, membuat tubuhnya gemetar tiba-tiba. Kenyataan ini terlalu.... terlalu tak tertahankan untuk dibayangkan..

"Apa?" Nana berseru lemah, matanya menyipit, mulai berkaca-kaca.

"Aku tidak tahu bagaimana detailnya, tetapi kekasihmu... Rangga... dia terdaftar sebagai donor jantung, jadi ketika dia meninggal karena kecelakaan itu, dokter mengambil jantungnya... dan Reno menerimanya sebagai donor yang paling cocok untuknya..."

"Aku... aku..." Jemari Nana, seluruh tubuh Nana gemetaran, "Aku harus pergi dari sini." Nana tidak bisa mendengar lagi penjelasan Axel. Membayangkan bahwa Rangga dikuburkan tanpa jantung, bahwa jantung itu sekarang berdetak di dalam dada Reno amat sangat tak tertahankan oleh batinnya, dia tidak kuat membayangkannya, dia harus pergi dan menenangkan diri kalau tidak dia akan pingsan.

Ketika Nana hendak berdiri, Axek meraih tangannya dengan tatapan meminta maaf

"Maafkan aku Nana karena menceritakan ini semua aku tahu ini menyakitkan tapi percayalah aku tidak bermaksud begitu, aku hanya ingin kau tahu semua kenyataan yang ada. Jantung itu membuat Reno berubah, dia mengatakan bahwa jantungnya tidak berdebar untuk Diandra lagi, dia meninggalkan Diandra dengan kejam, lalu pindah ke Bandung untuk mengejar perempuan yang katanya didebarkan oleh jantungnya, untuk mengejarmu....."

Nana menghempaskan tangan Axel dengan sedikit kasar, dia melirik Axel dan bergumam pedih, "Maafkan aku, tapi aku harus pergi."

Setengah berlari Nana meninggalkan kantin kampus itu. Meninggalkan Axel yang masih duduk terpaku di sana, menatap Nana sampai perempuan itu menghilang dari pandangannya.

Lalu Axel menghela napas panjang,

Dia sudah menanam benihnya......sekarang entah bagaimana akan ada yang menuai hasilnya.

*** 

Reno menunggu sampai tiga jam lamanya, tetapi Nana tidak juga muncul di cafe kopi tempat mereka suka duduk bersama, menghitung hujan. Dia sudah beberapa kali mencoba menghubungi ponsel Nana, tetapi ponselnya tidak aktif.

Langit semakin menggelap dan mendung, Reno mulai cemas. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, Reno menelepon Nirina, mungkin Nirina tahu kenapa Nana  tidak datang ke pertemuan mereka - yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

"Halo?" suara Nirina tampak ceria di seberang sana. Syukurlah. Reno tersenyum, sepertinya Nana tidak apa-apa.

"Nirina? Kau tahu dimana Nana?"

Hening. Nirina tampak tercenung di seberang sana. "Lho.. bukannya Nana sedang bersamamu Reno? Tadi di kampus Nana bilang ingin segera ke cafe tempat kalian berjanji bertemu."

Jantung Reno langsung berdebar. "Nirina... Nana tidak datang ke tempat pertemuan. Aku sudah tiga jam menunggu di sini."

"Apa?" Nirina tampak benar-benar kaget, dia lalu tampak teringat sesuatu, "Oh ya, aku ingat.... sebelum aku pulang tadi, sebelum aku berpisah dengan Nana di kampus, ada seorang lelaki yang mencari-cari Nana... lelaki itu sempat memperkenalkan diri kepadaku yang baru keluar dari ruang kuliah dan mengatakan dia ingin menemui Nana... Nana lalu menemuinya di lobby kampus."

"Seorang lelaki? Apakah kau tahu ciri-cirinya, apakah kau pernah melihatnya? Apakah dia menyebutkan namanya?" Reno mulai panik.

Nirinya menghela napas panjang, "Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya... tetapi dia menyebutkan namanya kepadaku... kalau tidak salah namanya Axel..."

Axel! Sepupu Diandra! Oh Ya Tuhan! Apa maksud Axel menemui Nana? Apakah lelaki itu disuruh Diandra menceritakan semuanya kepada Nana? Oh ya Ampun... Nana! Apa yang dirasakan Nana ketika menerima kenyataan ini?

Reno mengernyitkan keningnya, mulai merasakan sakit menyerang kepalanya, "Terimakasih Nirina, kurasa aku mengenal pria bernama Axel itu."

"Kau mengenalnya? Jadi sekarang dimana Nana?"

"Aku tidak tahu." Reno mendesah, "Tetapi Axel priba baik-baik, yang pasti Nana menghilang bukan karena Axel, atau mungkin  Nana sudah pulang ke rumah?" Reno berpikir kalau Axel benar-benar mengungkapkan semuanya pada Nana, sudah pasti Nana tidak akan mau menemuinya dulu. Mungkin Nana langsung pulang ke rumah untuk menenangkan pikirannya?

"Nana belum pulang ke rumah...." Nirina mengernyitkan keningnya, "Aku... sebelum kau menelepon aku menelepon rumah Nana, karena kalau dia sudah pulang, aku akan main ke sana, rencananya aku menginap di rumah Nana malam ini... tetapi kata mamanya, Nana belum pulang...." Nirina terengah, "Aku akan ke rumah Nana sekarang, menunggu di sana kalau-kalau Nana pulang, aku akan mengabarimu."

"Terimakasih Nirina..." Reno memejamkan matanya. Kalau begitu kau dimana Nana?

"Reno?" Nirina rupanya menangkap nada panik di dalam suara Reno, "Apakah semua baik-baik saja? Ada apa?"

Reno meringis, "Ceritanya sangat panjang dan kompleks, aku akan menceritakannya kepadamu nanti. Sementara ini aku akan mencari Axel dan juga mencari Nana."

"Oke. Kabari aku terus ya."

Setelah Nirina menutup telepon. Reno langsung membayar pesanan kopinya dan melesat pergi.

***

Diandra sedang duduk dan membaca buku-bukunya di sofa rumah neneknya yang damai dan tenang itu, langit yang gelap sudah terpecahkan, menjadi titik-titik hujan yang berhamburan menimbulkan suara gemericik dan aroma hujan yang khas.

Suasana ini sangat pas dengan suasana hatinya yang sedang pilu, senada juga dengan kisah novel yang dibacanya, Jane Eyre - meski dalam hatinya berniat tidak akan membaca buku itu, karena buku itu sangat direkomendasikan oleh Nana, perempuan yang merupakan duri dalam kisah cintanya, tetapi Diandra tidak bisa menahan diri, dia membaca dan tidak bisa berhenti, sampai sekarang dia tiba di bagian dimana tokoh utama dalam kisahnya gagal dari sebuah upacara pernikahan yang sudah di depan mata, yang hanya tinggal mengucapkan janji pernikahan, dan dihancurkan oleh kenyataan yang tidak disangka...

Jadi itulah sebuah rahasia yang merupakan jawaban dari semua misteri yang tersirat dari awal novel. Inilah kejutan yang diceritakan Nana untuk diantisipasinya. Diandra meletakkan novel itu di pangkuannya dan tersenyum tipis, mendadak merasa kagum pada novel dalam pegangan tangannya. Ini adalah novel buatan abad ke delapan belas, tetapi kisahnya benar-benar luar biasa....

Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Diandra melirik dan mengernyit, ada nama Reno berkedip-kedip di sana lengkap dengan foto mereka berdua saling berpelukan menghadap kamera dalam tawa yang sepertinya akan tersimpan selamanya. Diandra mendesah, dia bahkan belum mampu mengganti foto profil Reno di phonebook ponselnya, tetap berpura-pura bahwa mereka akan selalu baik-baik saja. Tetap tersenyum seperti yang ditampilkan dalam foto itu..

Sejenak Diandra ragu, telepon Reno yang kemarin sungguh sangat tidak menyenangkan, membuatnya menangis semalaman dan begitu murung setelahnya. sekarang kenapa Reno meneleponnya lagi? Apakah lelaki itu akan menyakitinya lagi?

Ponsel itu berkedip-kedip tanpa menyerah meskipun Diandra mengabaikannya, akhirnya dia menguatkan hati dan mengangkatnya,

"Reno?"

"Kenapa kau lakukan itu Diandra?"

Diandra mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu Reno?"

"Jangan pura-pura. Kau menyuruh Axel menemui Nana hari ini kan? Apa maksudmu? Apakah kau menyuruh Axel menceritakan semuanya kepada Nana? Setega itukah kau kepada Nana, Diandra? Selama ini aku menjaganya supaya dia tidak tahu apa-apa, dan kau dengan rencanamu yang keji itu menghancurkan semuanya!"

Diandra terperangah mendengar rentetan tuduhan Reno itu, "Aku tidak menyuruh Axel melakukan apapun!" Diandra setengah berteriak menyela Reno, karena tampaknya lelaki itu masih akan melanjutkan semua tuduhannya.

Reno terdiam, lalu menghela napas dengan keras. "Kalau begitu sepupumu sudah bertindak di luar batas, mencampuri urusan kita." Suara Reno berubah dingin, "Sekarang Nana menghilang, tidak mau menemuiku. Dan kalau sampai terjadi sesuatu pada Nana.... aku akan mengucapkan selamat kepadamu Diandra, impianmu akan tercapai, kau ingin aku mati saja bukan daripada hidup dengan jantung yang tidak bisa mencintaimu? Maka kau akan mendapatkan keinginanmu. Kalau sampai terjadi sesuatu kepada Nana akibat tindakan ceroboh sepupumu... aku akan mati sesuai keinginanmu!"

Lalu telepon ditutup dengan kasar. Meninggalkan Diandra terperangah tak bisa berkata-kata.

***
Begitu Axel datang, Diandra langsung menyemburnya dengan kemarahan,

"Apa yang kau lakukan Axel?"

Axel menatap Diandra yang penuh airmata, perempuan itu menangis habis-habisan, membuatnya mengernyit, "Apa Diandra?"

"Nana! Kau menemui Nana  bukan? Kau menceritakan semua kepadanya? Sekarang Nana menghilang dan Reno melemparkan semua kebenciannya kepadaku!!" Apa maksudmu Axel? Kenapa kau lakukan itu? Aku tidak mau dibenci oleh Reno! Aku tidak mau!"

"Aku memang melakukannya Diandra, tetapi semua itu kulakukan demi dirimu, Nana juga harus tahu kenyataan yang ada. Selama ini dia buta karena Reno menyembunyikan semuanya darinya."

"Tetapi aku tidak mau kau melakukan itu! Itu tidak akan membuat Reno kembali kepadaku! Dia akan semakin membenciku!" Diandra berteriak histeris menghambur ke arah Axel dan mulai memukulinya.

Axel menangkis pukulan-pukulan feminim Diandra dengan tenang, "Aku memang tidak bermaksud membuat Reno kembali kepadamu."

Tiba-tiba Axel mencengkeram pergelangan tangan Diandra, menarik perempuan itu mendekat, dan mencium bibirnya.

Kejadiannya begitu mengejutkan hingga Diandra yang masih berlinangan air mata dan berseru histeris hanya bisa membelalakkan matanya kaget ketika dicium oleh Axel.

***