Saturday, September 21, 2013

Menghitung Hujan Part 9 by Santhy Agatha

Axel setengah membanting gelas kopinya ke meja, tak bisa menahan emosinya. Mereka duduk di cafe kecil di lantai atas gedung itu, suara air gemericik sebenarnya cukup bisa menenangkan suasana, pun dengan air terjun buatan dengan kolam minimalis penuh ikan koi berukuran besar-besar yang bahkan cukup jinak untuk dielus kepalanya. Tetapi rupanya itu tidak mempan bagi Axel, dia marah besar kepada Reno dan caranya memperlakukan Diandra, sepupunya yang sangat dia sayangi.

Meninggalkannya begitu saja dengan alasan yang tidak bisa diterima dengan nalar. Bahkan kalaupun alasan itu benar adanya, Reno masih tidak berhak meninggalkan Diandra begitu saja. Dia tahu persis meskipun tidak satu kota dengan Diandra, bahwa Reno dulunya begitu lemah karena penyakitnya dan Diandra dengan sepenuh hati selalu mendampinginya. 

Meninggalkan Diandra karena jantungnya mencintai perempuan lain?? HUH!

Axel tanpa sadar mencibirkan bibirnya penuh penghinaan sambil membayangkan Reno. 

"Jangan marah ya." Diandra bergumam pelan sambil mengamati ekspresi Axel yang berubah-ubah. "Aku sendiri sudah terlalu lelah untuk marah. Pada akhirnya aku hanya bisa sabar dan menerima."

"Kalau aku tahu kisah ini dari tadi, sudah kuhajar Reno."

Diandra menggelengkan kepalanya, "Kekerasan tidak akan menghasilkan apapun Axel....dan bahkan perempuan itu..." , ekspresi Diandra tampak sedih, "Perempuan bernama Nana itu sepertinya tidak tahu kisah yang sebenarnya."

"Kalau begitu perempuan itu harus tahu kisah yang sebenarnya, supaya dia sadar dia sedang berbahagia di atas penderitaan orang lain." sela Axel tegas.

"Haruskah aku melakukannya?" Diandra tampak ragu.

Axel menganggukkan kepalanya. "Bagaimanapun juga kalian mencintai lelaki yang sama, kalian mempunyai hak yang sama dalam memperjuangkan cinta kalian. Dan posisi kalian harus sama."

Diandra tercenung mendengar kata-kata Axel. Matanya menatap ke luar, ke arah hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya.

*** 

Suatu malam Rangga pernah menyeduhkan secangkir kopi untuk Nana di apartementnya, dia menyerahkannya kepada Nana sambil tersenyum lembut, Nana menerima kopi itu dan membalas senyuman Rangga, mengucapkan terimakasih dengan manis.

Hujan turun dengan derasnya di sebelahnya, dan Rangga menjatuhkan tubuhnya di sofa sebelah Nana, mereka menatap hujan yang turun dengan derasnya. Mereka hanya berdua di apartement Rangga ini, sendirian. Rangga memang sebatang kara di dunia ini, orang tuanya sudah meninggal dan dia tidak punya saudara, dia tinggal diapartement studionya yang penuh dengan jendela kaca lebar, memungkinkan mereka bisa menikmati memandang tetesan hujan sepuasnya. 

Nana sangat suka bersantai di apartement Rangga ini, suasananya syahdu dan melankolis, membuat hati terasa tenteram, apalagi ketika hujan mulai turun dengan derasnya dan Rangga akan membuka tirai jendelanya lebar-lebar, membuka jendela kamarnya. Air bercipratan masuk dan suasana dingin menelusup, membuat kamar ini seakan menyerap suasana hujan di luar. 

Dengan senang Nana menyandarkan kepalanya di bahu Rangga, dia sudah menyesap kopinya dan meletakkannya di mejanya,

"Aku bisa duduk di sini selamanya, menatap hujan bersamamu dan tak merasa bosan." gumam Nana, memecah suara derasnya hujan yang mendominasi ruangan.

Rangga terkekeh, "Aku juga." dia lalu mengecup dahi Nana dengan lembut, "Aku ingin selamanya bersamamu, Nana." Tiba-tiba lelaki itu mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya, kotak mungil berwarna hitam.

Nana membelalakkan matanya, menatap Rangga dengan ragu, ragu sekaligus berdebar. 

Rangga membuka kotak itu, sebuah cincin mungil dari emas putih dengan berlian kecil di tengahnya, sederhana, tetapi cantik.

"Maukah kau menikah denganku Nana?" Suara Rangga terdengar serak dilatarbelakangi suara hujan yang romantis.

Mata Nana berkaca-kaca, dia menatap cincin itu, lalu mengalihkan matanya kembali, menatap Rangga, dan menemukan keseriusan di sana.

"Aku mau." suaranya bergetar penuh perasaan, "Aku mau Rangga."

...............

*** 

Mereka berdiri di depan makam Rangga, makam itu seakan terpaku sendirian di sana, di bawah sebatang pohon yang teduh. Rangga meninggal tanpa sanak keluarga, dan dia mewariskan seluruh miliknya kepada Nana. Apartement itu, seluruh barang-barangnya, rekening tabungannya, semua diserahkannya kepada Nana. Meskipun sampai sekarang Nana belum berani mengunjungi apartemen Rangga, apalagi melihat barang-barang Rangga yang masih tertinggal di sana, tertata persis seperti ketika Rangga meninggalkannya untuk terakhir kalinya sebelum kecelakaan itu.

Nana menahankan perasaan yang menyesakkan dada ketika menatap makam itu, dia lalu menatap Reno yang tampak merenung di sebelahnya,

"Ini Rangga." gumamnya serak.

"Hai Rangga." Reno bergumam pelan, "Aku Reno, dan aku hanya ingin mengatakan bahwa kau tidak perlu cemas, mulai sekarang, aku akan menjaga Nana.'

Jantung Reno terasa berdegup kencang. Membuat Reno memejamkan matanya, bergumam dalam hati untuk Rangga.

Ya Rangga.... kau bisa tenang. Kekasihmu kini sudah ada dalam pelukanmu lagi.... berdetaklah untuknya selalu...

***

"Kenapa kau ada di Bandung? Dan kenapa kau bisa mengenal Nana? Apa sebenarnya rencanamu? " Reno langsung memberondongkan pertanyaan itu ketika Diandra mengangkat teleponnya di seberang.

Diandra terpaku sejenak, tidak menyangka bahwa kalimat pertama yang diucapkan Reno setelah meneleponnya adalah kalimat penuh tuduhan 

"Aku ke Bandung untuk menengok nenekku." gumam Diandra berusaha tenang, "Dan aku tidak sengaja bertemu Nana di toko buku." untuk jawaban kedua ini Diandra memang berbohong, 

Reno terdiam, "Aku tidak percaya." gumamnya akhirnya, "Jangan berbohong padaku Diandra, apakah kau menyusul kemari karena kau belum berhenti berharap?" suara Reno tampak sedih, "Aku mohon, Diandra, aku mohon dengan sangat... lupakan aku, carilah cinta sejatimu, aku yakin kau akan menemukannya kalau kau bisa melepaskan aku."

Kata-kata Reno, yang diucapkan tanpa perasaan kepadanya itu bagaikan sembilu yang menyayat hati Diandra, teganya Reno mengucapkan hal itu kepadanya? Menyuruhnya melupakan Reno? Apakah Reno pikir hal itu demikian mudahnya dilakukan sementara selama ini, yang ada di hati Diandra hanya Reno, yang menjadi tumpuan dan tujuan hidupnya hanyalah bersama lelaki itu hingga ujung hidupnya. Bagaimana bisa Reno menyuruhnya melupakannya?

"Kau menyakitiku Reno." Suara Diandra bergetar penuh air mata, "Mungkin kau bisa dengan mudahnya melupakan aku, membuang aku dari hatimu. Tetapi maaf, aku tidak sedangkal itu. Aku akan berjuang untuk mendapatkan Renoku yang dulu!"

Kemudian, tanpa memberi kesempatan Reno untuk menjawab, Diandra menutup teleponnya dan menangis sejadi-jadinya.

Sebuah tangan menyentuh pundaknya dengan lembut, membuat Diandra menoleh. Axel berdiri di sana menatap miris wajah Diandra yang penuh air mata, lalu lelaki itu merengkuh Diandra, membiarkan perempuan itu menumpahkan tangis di dadanya.

*** 

"Kenapa kau bahkan masih mengharapkannya setelah perlakuan kejamnya kepadamu?" Axel mengernyitkan keningnya dengan gusar. Setelah Diandra tenang, mereka duduk berhadapan di kamar itu, dan Axel berhasil membuat Diandra bercerita tentang telepon dari Reno yang diterimanya barusan.

Diandra tercenung dan menatap Axel sedih, "Kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana perasaanku."

"Sejujurnya aku bisa." Axel merenung, "Aku melihat sendiri bagaimana kau merawat Reno dengan setia, bahkan dengan kenyataan bahwa lelaki itu kemungkinan tidak bisa hidup lebih lama lagi. Perlu cinta yang luar biasa besar untuk melakukan itu semua." Axel menatap Diandra dengan hati-hati,  "Tetapi yang sekarang terjadi, Reno sudah meninggalkanmu." Axel meringis melihat wajah Diandra yang tampak terpukul. "Maafkan aku harus mengatakannya tetapi kau harus menghadapi kenyataan Diandra, apakah.... bukankah lebih baik daripada menyiksa diri... kau melepaskan Reno dari hatimu dan mulai menyembuhkan diri? Mungkin di luar sana ada jodoh terbaik untukmu yang sedang menunggumu."

Wajah Diandra pucat pasi dan suaranya bergetar ketika berkata, "Aku tidak bisa berhenti, Axel. Kau sendiri yang bilang bahwa aku punya cinta yang luar biasa besar. Dan aku akan memperjuangkan cintaku sampai aku tak mampu lagi."

*** 

Lelaki muda itu ingin menemuinya, Nana mengernyitkan keningnya ketika mengawasi lelaki yang menemuinya di depan kampus itu. Tadi Nirina mengatakan bahwa ada lelaki yang mencari-cari dan ingin menemuinya. Semula Nana takut menemui lelaki yang tidak dikenal di depan kampusnya. Tetapi kemudian, lelaki itu masuk ke ruang depan kampusnya, dimana ada banyak mahasiswa yang lalu lalang, dan banyak yang akan menolong Nana  kalau-kalau terjadi apa-apa yang tidak diharapkannya, karena itulah Nana mau menemuinya pada akhirnya

Lelaki itu melepas kacamata hitamnya dan tersenyum, lalu mengulurkan tangannya,

"Perkenalkan saya Axel."

"Apakah saya mengenal anda?" Nana bertanya segera karena kilasan ingatannya membawanya pada pertemuan kemarin dengan perempuan bernama Dian, lelaki ini yang ada di samping Dian waktu itu, yang hanya diam dan tidak berkata apa-apa.

Axel tersenyum, "Ya. Anda bertemu dengan saya kemarin. Saya memang tidak mengenal anda, tetapi saya mengenal orang-orang yang berhubungan dengan anda. Saya kemari untuk memberitakukan tentang hal-hal yang tidak anda ketahui."

"Hal-hal yang tidak aku ketahui?" kerutan di dahi Nana semakin dalam, kebingungan.

"Ya." Axel menghela napas panjang, "Mungkin ini akan mengejutkan bagi anda, Tetapi saya ingin mengungkap kenyataaan tentang Reno, dan juga tentang Diandra."