Saturday, September 21, 2013

Menghitung Hujan Part 2 by Santhy Agatha

"Namanya Rangga." Nana tersenyum mengenang. "Dan aku akan selalu mencintainya."
Mereka duduk di sudut warung kopi yang biasa, hujan di luar tidak deras, hanya rintik-rintik yang menyenangkan untuk dipandang. Nana merenung sambil memandangi tetes demi tetes hujan yang membentuk gumpalan serupa air mata di kaca, menghitungnya dengan seksama. Hari itu Nana bercerita tentang masa lalunya, tentang Rangga, kekasih sejatinya yang direnggut sehari sebelum pernikahannya.
Reno mengamati Nana, "Aku ikut sedih atas kehilanganmu Nana."
"Tidak apa-apa. Rangga akan selalu hidup di sini." Disentuhnya rongga dadanya, tempat jantungnya berada. Rangga memang sudah meninggal, jantungnya sudah tak berdetak lagi untuk Nana seperti janjinya. Tetapi jantung Nana masih berdetak untuk Rangga, semoga selamanya.
***


"Lihat itu siapa yang menunggumu." Nirina tersenyum sambil menunjuk ke depan pintu gerbang kampus. Beberapa orang tampak berkumpul, dan beberapa mahasiswi tampak berbisik-bisik dengan penuh semangat, menatap ke arah gerbang, dimana ada sosok yang menarik perhatian mereka.

Itu Reno. Sang pangeran hedonis itu berdiri di sana, seolah-olah tidak sadar kalau dia menimbulkan kehebohan karena penampilannya yang mencolok. Lelaki itu memakai cardigan cokelat tua dan celana jeans yang tampak pas membungkus tubuhnya, berdiri sambil bersandar di mobilnya yang berwarna orange cerah. Penampilannya luar biasa tampan, apalagi untuk standar di kampus Nana yang dipenuhi para kutu buku dan mahasiswa-mahasiswa lugu. Reno tampak begitu modern dan berkelas.
"Kenapa dia ada di sini?" Nana bergumam, lebih kepada dirinya sendiri.
"Bukannya kau memberitahukan kampusmu kepadanya?" Nirina tersenyum.
"Ya dia bertanya, jadi aku beritahu." Nana mengernyit, "Tetapi aku tidak pernah menduga kalau dia akan menyusul ke kampus."
"Mungkin Reno memutuskan bahwa dia ingin lebih mengenalmu, bukan hanya dari pertemuan-pertemuan singkat di warung kopi.... yang... sudah berapa kali Nana? Aku pikir sudah hampir tiga bulan kalian rutin bertemu di warung kopi."
Tepatnya Tiga bulan tiga belas hari. Gumam Nana dalam hati. Dan dua kali seminggu, mereka bertemu di suatu sore yang singkat, kebanyakan sambil diiringi hujan, membahas segala hal, membuat mereka semakin dekat.
Ya Nana dan Reno semakin dekat seiring dengan semakin seringnya pertemuan mereka, tetapi Nana tidak berani melangkah lebih jauh. Di dalam hatinya selalu ada Rangga. Kekasihnya itu sudah mengambil sebuah tempat permanen di hatinya, tak akan tergantikan oleh lelaki manapun. Dan meskipun Nana merasa nyaman dan hangat bersama Reno, dia menahan hatinya, tak mau melangkah lebih.
"Kau tidak mau mengenalkan aku kepada Reno? dilihat dari penampilannya, dia memang sesuai dengan apa yang kau deskripsikan Nana, seorang pangeran Hedonis."
"Tapi pangeran Hedonis yang ini sangat suka membaca komik Naruto dan Novel-novel petualangan fantasi, ayo, kukenalkan kau dengannya, kau pasti menyukainya." Nana meraih tangan Nirina, mendekati Reno.
Lelaki itu langsung menegakkan tubuhnya ketika melihat Nana.
"Hai." gumamnya sambil tersenyum manis.
"Hai juga." entah kenapa Nana kehilangan kata-kata. Astaga, kenapa dia ini? Dia baru tersadar ketika Nirina menyenggol pinggangnya dengan siku. "Eh.. kenapa kau ada di sini?"
Reno mengangkat bahu, "Kuliahku selesai lebih awal, dan kita janji bertemu di Purnama sore ini, aku pikir tidak ada salahnya aku menjemputmu dulu, toh kampusmu sejalan denganku."
"Oh..", Nana termangu lalu menoleh ke arah Nirina, "Ini.. ini temanku Nirina."
Reno menatap Nirina lalu tersenyum manis dan mengulurkan tangannya, "Hai Nirina, Nana sering cerita tentangmu."
"Benarkah." Nirina membalas uluran tangan Reno dan tersenyum, "Kuharap dia bercerita yang baik-baik."
Reno tertawa, "Sebagian besar."
Nirina sengaja melirik jam tangannya, "Oh baiklah, aku harus segera pulang, kalau tidak mama akan mencariku, sampai jumpa besok Nana. Bye Reno."
"Kau tidak ikut dengan kami?" Reno menawarkan, membuat Nirina menggelengkan kepalanya.
"Tidak, terima kasih Reno, aku bawa motor, diparkir di belakang."
Dan Nirina-pun melangkah pergi, meninggalkan Nana berdiri sendirian, berhadap-hadapan dengan Reno.
"Semoga kau tidak marah aku lancang menjemputmu di kampus ini."
Nana memutar bola matanya, mendapati beberapa pasang mata penuh ingin tahu menatapnya dan Reno.
"Tidak, tapi sungguh, kau sangat menarik perhatian di sini." Nana tersenyum, "Bisakah kita pergi dari sini?"
***
"Aku merasa sangat nyaman bersamamu." Reno menatap Nana lembut, lalu menghela napas, "Bersamamu selalu menyenangkan."
Nana menghela napas panjang. Bersamamu selalu menyenangkan... itu kalimat yang sama, yang diucapkannya kepada Rangga.
"Terimakasih Reno. Kuharap kita bisa berteman seperti ini seterusnya. Aku juga senang menghabiskan waktu bersamamu."
Wajah Reno sedikit memucat, dia lalu tersenyum miris,
"Hanya sebagai teman. Itukah yang kau inginkan?"
"Ya." Nana tersenyum, mencoba terdengar mantap. "Kau tahu aku tidak bisa lebih dari itu."
"Karena Rangga?"
"Kumohon Reno."
"Tetapi benar kan? Karena Rangga? Aku melihatmu waktu itu, ketika kau bercerita tentang tragedi sebelum pernikahanmu. Matamu yang kosong, seolah sudah kehabisan air mata... dan aku sadar, dia belum mati bagimu."
"Dia memang belum mati bagiku. Rangga akan selalu ada di sini." Nana menunjuk dadanya, menahan tangis.
"Dan kemudian bagaimana kau akan melanjutkan hidupmu? Seperti ini terus menerus? mencoba menjaga kenangan tentang Rangga di hatimu itu, sementara dunia terus berjalan, meninggalkanmu menangisi kekasihmu yang telah meninggal?"
"Hentikan."
"Tidak. Kau harus sadar Nana, Ranggamu sudah meninggal. Ya, kau memang mencintainya. Lalu kenapa? Hidup Rangga sudah berhenti, tetapi hidupmu masih berlanjut, mau tak mau kau harus menjalaninya, kalau tidak kau akan berdosa kepada sang pemberi kehidupan."
"Kau tidak berhak mengatur-ngatur kehidupanku. Aku ingin tetap seperti ini. Hidup bersama kenanganku tentang Rangga."
"Aku memang tidak berhak. Siapalah aku ini." Reno tersenyum sedih. "Tetapi ketahuilah, aku mencintaimu Nana.."
"Tidak."
"Ya! Aku mencintaimu!" Suara Reno sedikit meninggi, membuat beberapa pengunjung yang sedang menikmati kopi menoleh ke arah mereka dengan penuh ingin tahu. "Dan hatiku sakit melihatmu seperti ini. Jantungku serasa diremas melihatmu tak pernah bisa bangkit dari kesedihanmu..."
"Cukup. Aku tidak mau mendengar lagi." Nana berdiri menyusut airmatanya, "Aku pikir engkau mengerti. Tetapi ternyata memang tak ada yang mengerti."
"Nana." Reno mencoba memanggil, tetapi Nana sudah tidak mau mendengarnya. Sambil menahan tangis dia berlari pergi.
Dan hujanpun turun, seakan mengiringi tangisnya.
***
"Jadi kau akan terus berlaku kekanak-kanakan dan menghindari Reno?" Nirina berkacak pinggang sambil menatap Nana yang begitu muram, duduk memeluk lututnya di sudut ranjang.
"Dia jahat, menyuruhku melupakan Rangga."
"Dia tidak jahat. Dia hanya ingin kau bangkit di dunia nyata. Melangkah lagi, menikmati hidupmu."
"Dengan melupakan Rangga?"
"Kau tidak harus melupakannya. Kau tetap bisa menyimpan kenangan tentangnya di dalam hatimu. Tetapi kau tidak boleh berkubang dalam kenangan itu. Kau harus melangkah maju, Nana."
"Gaya bicaramu sudah seperti Reno, aku curiga kalian berkomplot."
Nirina tertawa, "Dengarkan sahabatku yang cantik, kami berdua meyayangimu. Dan karena kami menyayangimu maka kami berpikiran sama. Mungkin juga Rangga di sana juga akan berpikiran sama dengan kami."
Nana tercenung, meresapi kata-kata Nirina dalam diam.
***
Waktu itu mereka sedang memilih cincin, dan mengukirkan nama masing-masing di cincin itu. Nana sangat bahagia, dan menatap Rangga dalam senyuman,
"Kalau kita sudah menikah nanti, dan kau menyematkan cincin itu di jemariku, aku akan mengenakan cincin ini selamanya."
Rangga, sepertia biasa menatap Nana dengan kelembutannya, "Aku juga Nana. Cincin itu tanda bahwa aku mengikatkan hati kepadamu."
"Kita akan selalu seperti ini kan Rangga?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Karena kebahagiaan ini terasa terlalu sempurna. Aku kadang-kadang takut semua direnggut dariku...."
Rangga tertawa, merangkul Nana ke dalam pelukannya, "Jalan Tuhan tidak ada yang tahu. Yang penting kita mensyukuri saat ini, saat ketika aku dan kamu dipersatukan. Bukankah itu cukup?"
"Ya itu cukup." Senyum Nana melebar, lalu ekspresinya berubah serius, "Tetapi kalau nanti aku meninggal duluan, kau boleh melepas cincin itu dan menikah lagi."
Rangga terbahak, "Jangan berpikir yang bukan-bukan." dia lalu mengedipkan matanya menggoda, "Kalau aku yang meninggal duluan? Akankah kau menikah lagi?"
Nana langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat mendengar pertanyaan Rangga itu,
"Tidak! Aku akan menjanda selamanya."
Dengan lembut Rangga menghela Nana ke dalam pelukannya, lalu mengecup lembut dahinya.
"Jangan biarkan sebuah kenangan menghalangi langkahmu untuk maju sayang. Aku akan sangat sedih jika ternyata aku meninggal duluan dan kau menutup hatimu. Ketika hidupku berhenti dan hidupmu masih berlanjut, kau berhak untuk menemukan bahagiamu yang ada di depan sana. Berjanjilah padaku."
"Tidak mau." Nana cemberut, "Lagipula kau tidak akan meninggal duluan, tidak ada yang akan meninggal. Bisakah kita membicarakan hal-hal yang menggembirakan saja?"
Rangga tergelak, menggandeng tangan Nana dengan riang meninggalkan toko cincin itu.
***
Ketika terbangun, wajah Nana penuh air mata. Mimpi itu... kenapa mimpi tentang kenangan percakapan itu muncul sekarang?
Apakah Rangga ingin menyampaikan suatu pesan kepadanya? Tentang Reno?
Nana memejamkan matanya lagi, bingung setengah mati.
***
Reno ada di sana di kursinya yang biasa. Kali ini lelaki itu tidak membaca buku. Hanya secangkir kopi yang tampaknya tidak tersentuh di mejanya, dan lelaki itu sedang merenung, menatap hujan deras yang menghantam-hantam jendela kaca. Tampak sedih.
Seharusnya dia mengungkapkan semuanya kepada Nana dari awal. Semuanya.
Kenyataan ini, yang selama ini disembunyikannya dari Nana. Bahwa jantungnya, berdegup untuk Nana, mencintai Nana. Sepenuh hati.
mata Reno lalu terpejam, mengenang masa lalu, setahun yang lalu ......
***
"Mamamu bilang mereka sudah mendapatkan donor jantung untukmu." Diandra memeluk Reno dengan bahagia, "Ahkirnya Reno, penantian kita berujung."
Reno tersenyum menatap tunangannya. Diandra-nya yang cantik. Gadis itu adalah teman masa kecilnya yang kemudian menjadi tunangannya. Diandra selalu setia menunggunya, meskipun masa depan mereka tak pasti, meskipun Reno bolak balik harus masuk rumah sakit karena kondisinya. Reno bahkan didiagnosa tidak akan bisa hidup lama kalau dia tidak segera mendapatkan donor jantung.
"Syukurlah Diandra....  aku.. aku senang, setidaknya kalau operasi ini berhasil, aku bisa menjadi lelaki yang sempurna untukmu."
"Operasi ini pasti berhasil." Diandra menatap Reno dengan mantap, "Dan bicara apa kau tentang lelaki sempurna? Entah kau berjantung sehat atau tidak, kau adalah kekasih sempurna untukku."
"Tetapi aku takut. Aku takut ketika operasi berjalan, ternyata jantung itu tak cocok untukku."
"Jantung itu cocok untukmu, mereka sudah mengetest-nya."
"Bagaimana kalau terjadi komplikasi dan pada akhirnya aku tetap akan mati di meja operasi?"
"Reno." Diandra menyela, mengingatkan. "Hidup dan mati itu Tuhan yang menentukan, yang penting kau semangat, dan berjuang. Tuhan pasti melihat betapa inginnya kau hidup. Betapa inginnya aku agar kau hidup." Dengan lembut Diandra mengecup dahi Reno, "Operasi itu pasti akan berhasil, percaya padaku."
Reno tersenyum dan menggenggam jemari Diandra dengan lembut,
"Terimakasih sayang, kau tahu, aku selalu mencintaimu."
"Dan akupun demikian adanya, sayang."
***
Operasi itu berhasil. Jantung baru itu cocok dengan sempurna di rongga dadanya. Reno bisa merasakan detaknya yang kuat, penuh vitalitas, memompa darahnya ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa kuat.
Siang itu Reno terbangun lagi, karena mimpi itu, mimpi yang selalu mengganggunya sejak dia dioperasi, mimpi tentang seorang gadis, dengan cincin dan gaun pengantin, yang sedang menangis. Menangis sejadi-jadinya.
"Sayang." Diandra menggenggam jemarinya, mencoba menenangkan napas Reno yang memburu, "Kau mimpi buruk lagi?"
Reno mencoba memfokuskan matanya, dan menemukan wajah Diandra yang cantik, sedang menatapnya dengan cemas. Dia lalu mengernyit. Diandra masih tetap sama, masih tetap cantik, masih tetap setia, masih tetap mencintainya sepenuh hati. Tetapi kenapa dia tidak bisa merasakan hal yang sama? Jantungnya sudah tidak berdebar penuh cinta ketika melihat Diandra, debaran itu tidak terasa lagi, hampir terasa hambar, hampir seperti Reno... sudah tidak mencintai Diandra lagi. Tetapi bagaimana bisa? Reno seharusnya tidak berubah secepat ini, tidak ada yang berubah darinya, kecuali..... Jantungnya.
Ya. Meskipun tidak bisa dijelaskan secara logika. Jantung baru itu tidak berdebar untuk Diandra. Jantung itu hanya berdebar untuk seorang perempuan. Perempuan yang selalu ada di mimpinya....
"Apakah kau memimpikan perempuan itu lagi?" suara Diandra gemetar dan air mata menetes ketika Reno memalingkan muka tidak bisa menjawab. "Apakah aku... apakah aku akan kehilanganmu, Reno?"
Hening.
Bahkan Reno sendiri tidak mampu berkata. Hanya detak jantungnya yang berdegup di keheningan ruang perawatan itu, seakan-akan memanggil kekasihnya.
***
"Sebenarnya sangat tidak dianjurkan sang penerima donor mengetahui dari mana donornya." Dokter Sam, Dokter spesialis jantung, yang merupakan paman Reno sendiri mengernyitkan keningnya sambil membaca berkas di tangannya, "Tetapi karena pihak keluarga pendonor sendiri tidak meminta supaya dirahasiakan, kurasa kau tidak melanggar peraturan menanyakannya."
"Siapa yang mendonorkan jantungnya untukku Paman?"
"Kenapa kau sangat ingin tahu Reno? Bukankah kau sebaiknya tidak tahu? Jadi kau bisa menjalani hidupmu ke depan dengan baik, menata ulang hidupmu, karena setahuku jantung itu sangat sehat dan cocok untukmu."
Reno memijit ujung atas hidungnya, merasa pening di kepalanya. Pertanyaan itu telah begitu menghantuinya, dan mimpi-mimpi itu selalu hadir setiap malam, sampai-sampai Reno merasa itu nyata.
"Aku butuh tahu, karena alasanku sendiri."
Sang Paman menghela napas,
"Apakah ini ada hubungannya dengan kau membatalkan pertunanganmu dengan Diandra? Kau membuat gadis baik itu begitu sedih."
Reno meringis merasakan penyesalan yang amat dalam,
"Aku sangat menyesal melakukannya, aku juga sedih. Tetapi Diandra berhak mendapatkan lelaki yang mencintainya."
"Dan kau tidak? Selama ini yang paman lihat, kau mencintainya."
"Sekarang tidak lagi." Reno menunjuk ke dadanya. "Entah paman percaya atau tidak, jantung ini mencintai perempuan lain."
Sang paman menatap Reno lama, lalu menghela napas. Jelas sekali sang paman tidak percaya dengan kata-kata Reno. Dia seorang dokter dan secara medis, tidak mungkin jantung donor membawa kenangan tentang pemilik sebelumnya. Bagaimana mungkin?
Tetapi sang Paman tidak mau mengkonfrontasi Reno, lelaki itu belum sepenuhnya pulih dari operasinya. Dan dia berharap informasi ini bisa menghilangkan mimpi-mimpi yang mengganggu Reno setiap malam.
"Jantung itu berasal dari seorang lelaki bernama Rangga."