Saturday, September 21, 2013

Menghitung Hujan Part 3 by Santhy Agatha

"Aku harus pergi." Reno menatap sedih ke arah Diandra, yang sedang merapikan pakaian-pakaian Reno dan memasukkannya ke dalam tas.
Jemari Diandra berhenti sejenak, kemudian melanjutkan memasukkan pakaian-pakaian Reno, kali ini jemari itu bergetar,
"Mencari perempuan itu?"
Reno menghela napas panjang, "Maafkan aku Diandra."
"Tidak." Suara Diandra pecah oleh tangis, "Bagaimana mungkin aku memaafkanmu? Kau meninggalkan aku untuk mengejar perempuan lain, seorang perempuan yang bahkan belum pernah kau temui hanya karena mimpi-mimpimu."
"Mimpi-mimpi itu nyata Diandra, dan perempuan itu juga, begitu juga jantung yang sekarang berdetak di dadaku ini."
Diandra mengusap air matanya dan menatap Reno dengan pilu,
"Tidakkah kau mencintaiku Reno? Tidakkah kau mengenang masa kita bersama dulu? Aku selalu mencintaimu, bahkan sejak kita kecil. Aku selalu mendampingimu, di saat-saat sulit sekalipun, percaya bahwa masih ada masa depan untuk kita.... apakah kau tega membuang itu semua?" suara Diandra terisak-isak tak kuasa menahan perasaannya.
Hal itu membuat Reno mengernyitkan dahi, mencoba menekan rasa bersalahnya. Perempuan ini tidak terbantahkan adalah pasangan yang sempurna, sangat tulus mencintainya dan selalu bersamanya di saat dia sakit. Tentu saja Reno merasakan rasa bersalah yang luar biasa karena mencampakkannya seperti ini, dia bukannya tidak punya perasaan, masalahnya... jantung ini... jantung ini tidak menginginkan Diandra, dan selalu memanggil-manggil perempuan lain, perempuan itu, yang selalu muncul di dalam mimpinya.
"Aku tidak tahu harus berkata apa." Reno meremas rambutnya frustrasi, "Aku tidak bisa berkata apapun selain maaf..."
"Katakan kalau kau mencintaiku Reno..." tatapan Diandra penuh permohonan, penuh air mata.


Reno tahu setidaknya kalimat itu akan membuat Diandra tenang. Tetapi dia tidak bisa mengatakannya. Dia tidak bisa.
Diandra tahu itu, matanya terpejam berusaha menahankan rasa sakit yang memenuhi dadanya. Tidak pernah disangkanya dia dan Reno akan berujung seperti ini.
"Setiap malam, ketika menggenggam tanganmu di rumah sakit, aku selalu berdoa semoga Tuhan memberikan jantung baru untukmu, supaya kau bisa sehat, supaya kita punya masa depan bersama, supaya kita bisa menua bersama, menatap anak-anak kita nanti dengan bahagia." Rasa sakit di suara Diandra terdengar nyata, "Aku sangat bahagia ketika kau mendapatkan donor jantung itu... sangat bahagia..... tapi ternyata aku salah."
Diandra menutup tas Reno di atas ranjang dan melangkah mundur, menatap Reno yang hanya bisa diam membatu.
"Kalau saja aku tahu bahwa jantung itu akan merenggutmu dariku, lebih baik kau tidak pernah mendapatkan donor jantung."
Dan dengan kata-katanya yang penuh dengan kesakitan, Diandra melangkah pergi, berurai air mata.
***
Ketika malam mulai temaram dan senja beranjak menjadi gelap. Reno duduk menghadap mamanya dan menceritakan semuanya. Mamanya hanya menatapnya dengan sedih.
"Jadi begitu saja? Kau tinggalkan Diandra begitu saja?"
Reno mendesah sedih, "Aku tahu semua orang akan menyalahkanku karena perlakuan jahatku kepada Diandra... tapi kuharap mama bisa mengerti aku. Aku... jantung ini.. jantung ini menginginkan perempuan lain."
"Bagaimana mungkin Reno? Apa yang kau rasakan itu tidak bisa dijelaskan dengan logika, mama bingung dengan sikapmu. Mama sedih melihat Diandra, Reno. Dia sangat kecewa, dia hancur, dan bukan hanya itu, persahabatan mama dan papa dengan kedua orangtua Diandra menjadi rusak karena masalah ini, mereka tidak mengerti." Sang mama menghela napas sedih, "Tetapi mama percaya kepadamu nak. Mama sudah melalui saat-saat dimana mama hampir kehilanganmu, berkali-kali." Perempuan itu menyusut air matanya, "Jantung itu membuat mama tidak akan cemas kehilanganmu lagi, dan......kalau kau bilang jantung itu mencintai perempuan lain, mama akan berusaha mendukungmu, karena kalau yang kau bilang itu benar, mama berhutang budi kepada perempuan itu. Perempuan yang jantung kekasihnya didonorkan untukmu."
Reno langsung memeluk mamanya. Erat. Menahan resapan air mata yang sedari tadi berusaha menyeruak keluar. Semua orang boleh membencinya, tetapi asalkan mamanya mendukung, Reno bisa melangkah maju.
"Terimakasih mama." Suara Reno serak oleh emosi, dipeluknya mamanya, wanita tua bertubuh kecil yang begitu tegar berjuang untuk anak tunggalnya yang sakit. Reno sangat menyayangi mamanya.
"Jadi, kemana kau akan mencari perempuan itu?"
"Bandung, aku sudah mendaftar untuk mengambil magisterku di sana."
***
Pertama kalinya Reno melihat Nana adalah ketika perempuan itu keluar dari toko kelontong di ruko itu, dan melangkah di trotoar.
Saat itu mendung sudah menggelap, mengirimkan pesan bahwa dia akan menjatuhkan muatannya ke bumi. Reno sudah menyelesaikan segala urusannya untuk tinggal di Bandung, administrasi perkuliahannya sudah beres, dan dia sudah menemukan tempat tinggal baru, sebuah rumah mungil di kompleks perumahan Bandung atas yang dingin dan rimbun oleh pepohonan tua yang menjulang ke langit, mengarahkan batangnya bagaikan lengan-lengan terentang yang ditumbuhi dedaunan dan menyejukkan sukma. Setelah itu, dia menelusuri alamat rumah Rangga, mencari informasi sedapat mungkin dari para tetangga. Dia mendapatkan informasi cukup penting, bahwa Rangga meninggal dunia sehari sebelum pernikahannya dengan Nana. Kesedihan seperti apa yang mungkin ditanggung oleh Nana ketika itu? Reno tak berani membayangkannya.
Butuh waktu dua hari sampai akhirnya Reno menemukan alamat kampus Nana. Oleh salah seorang teman kampusnya, dia diberitahu bahwa Nana sedang mencari bahan tekstil untuk sampling kegiatan perkuliahan mereka di kawasan belakang pasar baru. Reno memutuskan memarkir mobilnya dan berjalan menelusuri kawasan itu.
Hampir dua jam Reno menelusuri jalan-jalan kawasan kota lama itu, yang masih kokoh memeluk kenangan mereka tentang masa lalu, peninggalan jaman kolonial belanda, hingga tak terasa dia sudah melangkah begitu jauh. sampai akhirnya dia menemukan sosok itu.
Reno hanya pernah melihat Nana sekilas di sebuah foto hasil pencariannya di internet. Tetapi dia yakin bahwa perempuan yang berjalan tergesa seolah dikejar mendung di seberangnya itu adalah Nana. Dia tahu. Jantungnya tahu.
Jantungnya berdegup kencang memanggil perempuannya.
Dorongan pertama Reno adalah menghampiri Nana dan memperkenalkan diri, tetapi ketika baru satu langkah berjalan dia berhenti. Apa yang akan dikatakannya kepada Nana?
Apakah dia akan datang dan dengan santainya berkata : "Hai aku Reno, aku adalah orang sakit yang beruntung mendapatkan donor jantung dari kekasihmu, Rangga." atau mungkin dia akan berkata : "Hai aku Reno, kau mungkin akan menganggapku aneh, tetapi aku mencintaimu. Jantung kekasihmu, Rangga yang sekarang menjadi jantungku masih berdebar untukmu."
Debaran jantung itu makin mengencang, dan Reno tersenyum, menepuk dadanya pelan, "Hei. Aku tahu kau tidak sabar bertemu perempuanmu. Tetapi kita tidak bisa menerobos masuk tanpa perhitungan dulu. Aku harap kau sabar."
Lalu Reno terkekeh sendiri, dia benar-benar seperti orang gila, berbicara sendiri dengan jantungnya sambil berdiri di trotoar seperti ini
Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi kepalanya, butirannya makin lama makin membesar seolah langit meminta agar para manusia menyingkir sehingga dia bisa menumpahkan muatan kelabunya ke bumi. Reno melempar pandangannya kepada Nana, perempuan itu tampak berdiri bingung ketika hujan juga mulai menimpanya, lalu dia memasuki cafe itu. Cafe tua dengan sebutan Warung Kopi Purnama di papan namanya.
Sementara itu Reno tetap berdiri di sana, entah berapa lama dia tidak tahu. dia berdiri bagaikan orang idiot, bingung harus bagaimana. Hujan makin membesar, dan tetesannya mulai membasahi rambut dan mengalir turun ke bahunya, membasahi pakaiannya. Lalu dia menelan ludah, menyeberang jalan dan melangkah memasuki cafe itu. Sejenak berdiri meragu di depan pintu, kemudian melangkah masuk.
Nana duduk di sudut sana, matanya mencuri pandang. Tepat saat Nana mengangkat kepalanya dan mengadu tatapan dengannya. Dengan gugup Reno memalingkan muka, mencoba bersikap acuh, lalu memilih tempat di sudut yang lain memesan kopi, lalu duduk kebingungan memikirkan bagaimana dia bisa mendekati Nana.
Dan rupanya dia terlalu lama berpikir, karena sejenak setelah hujan sedikit mereda, Nana berdiri dan meninggalkan cafe itu. Meninggalkan Reno dalam kekosongan. Jantungnya yang tadinya berdebar penuh semangat kini terasa hampa.
***
Sejak itu Reno selalu datang. Di jam yang sama, memilih tempat duduk yang sama sambil menatap cemas ke arah pintu dengan setia. Hanya satu hari dia terlambat datang, dan di satu hari itu, entah kenapa  Tuhan membuat Nana datang kesana, meninggalkan bukunya.
lalu perkenalan itu terjadilah, mengalir begitu saja. Pun ketika Nana tidak kunjung datang lagi ke cafe itu sesuai janjinya, Reno tetap menunggu.
Dan ternyata penantiannya tidak sia-sia. Nana akhirnya datang menemuinya, membuat Reno yakin bahwa sadar atau tidak Nana merasakan panggilan dari jantung ini untuknya.
Mereka terus bertemu dan semakin dekat. Tetapi kemudian pertemuan-pertemuan mereka diisi oleh kisah kenangan Nana bersama Rangga. Membuat Reno merasakan sesuatu yang membakar di dalam dadanya. Sebuah perasaan yang bisa dideskripsikan sebagai : Cemburu.
Ya. Reno cemburu. Sangat cemburu kepada Rangga. Pria sempurna di mata Nana, yang kini jantungnya berdegup di dalam rongga dadanya. Reno mencintai Nana, itu pasti. Perasaan cintanya tidak bisa dideskripsikan dengan logika, tidak bisa dianalisa dengan kata-kata.  Perasaan cintanya ada begitu saja, memenuhi rongga dadanya, menjajah hatinya. Sementara yang dicintai Nana adalah Rangga. Selalu Rangga.
Dan dengan bodohnya Reno memicu pertengkaran itu. Membuat Nana makin menjauh darinya.
Disesapnya kopinya dengan sedih. Dia masih duduk di sini., di sudut yang sama, tempat yang sama, waktu yang sama, menunggu dengan setia seperti yang selalu dia lakukan. Tapi kali ini Nana tak kunjung datang, dan Reno meragu apakah Nana akan datang kali ini.
Kalau Nana tak mau datang, aku akan hancur oleh patah hati. Reno merasakan jantungnya berdenyit menimbulkan rasa nyeri di rongga dadanya.
***
Nana melangkah dengan ragu di depan cafe itu. Masih cafe yang sama, bangunan tua yang sederhana tetapi menyimpan banyak sejarah di dalamnya, konon cafe ini adalah warung kopi tertua di Bandung, yang berdiri tahun 1920, tahun demi tahun berlalu, dan cafe ini masih menyajikan menu yang sama, seluruh hidangan kopinya berasal dari bahan kopi pilihan khas Bandung, Kopi Aroma yang pabriknya terletak di sudut lain kota lama Bandung, kopi yang sangat terkenal dengan proses pembuatannya yang juga tidak berubah dari tahun ke tahun, mempertahankan rasanya. Dan juga mempertahankan kenangannya, bagi beberapa orang.
Nana mendesah. Kenapa dia ada di sini? apakah itu berarti memberi kesempatan kepada Reno untuk mengalihkan perhatiannya dari Rangga? Tetapi Nirina bilang, dengan menerima Reno bukan berarti dia membuang Rangga. Rangga akan selalu ada dan akan selalu hidup di dalam hatinya.
Tetapi tidak terbantahkan, Nana juga menyayangi Reno. Perasaan itu tumbuh entah kapan. Mungkin sejak Reno memperkenalkan dirinya, mungkin juga sejak pertemuan rutin mereka di cafe itu dari waktu ke waktu. Nana tidak tahu. Yang pasti sekarang dia ingin mencari jawaban. Mencari jawaban atas semua pertanyaan yang menggelayuti benaknya.
Nana lalu melangkah masuk ke cafe itu. Dan mendapati Reno duduk di sana, di sudut yang sama tempat mereka biasanya duduk berdua. Lelaki itu tampak merenung, tidak melihat ke arah pintu, tetapi kemudian entah kenapa dia langsung menyadari kedatangan Nana. Kepalanya langsung tegak dan dia setengah berdiri ketika melihat Nana,
"Nana..."
Nana melangkah mendekati Reno, berdiri dengan ragu.
"Aku... aku mau minta maaf karena membentakmu di pertemuan kita terakhir waktu itu."
Reno tersenyum lalu duduk kembali,
"Duduklah Nana, aku akan memesankan pesananmu yang biasa."
***
Kopi dan roti pun dihidangkan, menu tetap mereka selama pertemuan mereka di sana. Reno menatap Nana dengan senyumnya yang tulus,
"Aku minta maaf, aku yang terlalu memaksamu. Percayalah Nana, mulai sekarang aku tidak akan mendesakmu lagi. Aku akan selalu ada, entah sebagai sahabatmu, entah sebagai saudaramu, entah sebagai apapun. Aku akan selalu ada untukmu."
Nana menundukkan kepalanya, lalu menatap Reno dengan senyum sedihnya, "Terimakasih Reno... aku.. aku tidak bisa menjanjikanmu apa-apa, tetapi kau masih begitu baik untukmu."
"Karena aku mencintaimu." suara Reno tercekat menahan rasa, menahan debaran jantungnya yang makin mendera, Tidak apa-apa kalau ternyata Nana tidak bisa membalas cintanya. Ternyata tidak apa-apa, ternyata cukup baginya bisa duduk di sini dan menatap perempuan itu. Ada, dan menghirup napas yang sama dengan dirinya.
Tidak apa-apa ternyata mencintai, dan hanya ingin mencintai, entah cintanya itu berbalas atau tidak....
***
Reno baru saja pulang dan membaringkan badannya di ranjang, matanya menatap nanar ke langit-langit kamar, membayangkan Nana.
Hanya membayangkan perempuan itu, senyumannya, tawanya, caranya berbicara saja bisa membuatnya tersenyum, dipenuhi oleh perasaan cinta,
Kemudian ponselnya berkedip, sekali. dua kali. Akhirnya Reno meraihnya.
Nama yang tertera di layar ponsel itu membuatnya menegang.
"Ya Diandra?"
Sejak perpisahan di rumah sakit itu Diandra memutuskan kontak dengannya. Sama sekali. Dan Reno terima, karena dia memang tidak pantas memohon maaf dari Diandra. Dan mungkin Diandra lebih baik dalam kondisi seperti ini. Reno terima kalau Diandra membencinya dan dia berharap dengan begitu Diandra akan mudah membuka hatinya untuk yang lain.
Suara di seberang sana penuh dengan isak tertahan.
"Reno... Reno... Aku sangat membutuhkanmu... aku tak kuat tanpamu.... " Diandra menangis tersedu-sedu di seberang sana, penuh dengan kesakitan tanpa ampun, membuat hati Reno terasa nyeri, "Pulanglah Reno.... aku mohon pulanglah kemari...."
***