Saturday, September 21, 2013

Menghitung Hujan Part 7 by Santhy Agatha

Diandra melangkah turun dari kereta menuju ke pintu keluar Stasiun besar bandung. Banyak orang lalu lalang, kebanyakan membelanjakan barang dagangan. Dia melangkah keluar dari pintu Stasiun itu, ke arah peron yang luas. Sejenak dia berdiri, dalam hening dan diam, menatap ke sekeliling. Menghirup udara di sebuah kota yang sering dikunjunginya semasa kecil.... Reno ada di kota ini, menghirup udara yang sama. Batin Diandra terasa pedih. Seharusnya kalau hubungan mereka baik-baik saja, Reno ada di sini untuk menjemputnya. Tetapi yang terjadi sekarang adalah dia melangkah sendirian di sini, dalam kesepian yang mencekik, merasa sedih dan ironi.

"Diandra? sudah lama menunggunya?"


Diandra menoleh mendengar panggilan itu, Lalu tersenyum ketika menyadari siapa yang menjempunya.


"Halo Axel." dengan cepat dia menghampiri sepupunya itu, meninggalkan tas nya di lantai dan memeluknya.


Axel membalas pelukannya dengan sayang, Diandra akan selalu menjadi adik kesayangannya, Axel adalah anak tunggal, dia tidak punya saudara dan satu-satunya orang yang bisa dekat dengannya adalah Diandra.


Diambilnya tas Diandra lalu mengerutkan keningnya, "Mana Reno?"


Pertanyaan Axel itu membuat mimik wajah Diandra berubah, meskipun dia berusaha menyembunyikannya di balik senyumnya yang pahit. Ya... keluarga besar mereka memang belum tahu tentang pembatalan pertunanagan sepihak yang dilakukan oleh Reno. Hanya ayah ibunya yang tahu dan Diandra melarangnya untuk memberitahukan kepada keluarganya yang lain. Itu semua karena Diandra masih berharap bahwa Reno akan kembali kepadanya, bagaimanapun caranya.


"Reno sedang sibuk." Diandra mengarang dengan cepat, "Lagipula aku kemari karena merindukan nenek."


Axel tertawa, "Dan nenek juga merindukanmu. Dari kemarin beliau sibuk menyiapkan kamarmu, dan menyuruh kami menyiapkan cemilan kesukaanmu, bahkan sekarang beliau sedang memasak makanan kesukaanmu." Axel mengedipkan sebelah matanya, "Kedatanganmu kemari benar-benar membuat nenek bersemangat...." Wajah Axel kemudian terlihat sedih, "Biarpun begitu kami tetap bisa mengerti kenapa bertahun-tahun kemarin kau tidak bisa mampir ke Bandung, apalagi mengingat kondisi Reno waktu itu yang begitu sakit, kami mengerti betapa kau mencintainya dan ingin tetap berada di sampingnya kalau-kalau yang terburuk terjadi."


Diandra merenung dengan sedih. Ya, demi Reno dulu, dia telah mengorbankan seluruh waktunya, keluarganya, hari-harinya dihabiskan untuk mendampingi Reno dan merawatnya.


Axel memperhatikan ekspresi sedih Diandra lalu menepuk punggungnya, memberikan semangat, "Hei.... kenapa kau murung? Sekarang keadaan sudah lebih baik bukan? Transplatasi jantung Reno yang sukses tentunya telah merubah hidup kalian, seperti sekarang, kau bisa main ke Bandung dan menengok kami lagi."


Ketika Axel berjalan sedikit di depannya, Diandra meringis, makin pedih. Transplatasi jantung itu memang telah merubah kehidupan mereka. Tetapi bukan ke arah yang Diandra inginkan....


*** 


"Bagaimana penampilanku?" Nana menatap ke arah cermin, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Nirina dengan cemas. Sementara Nirina sendiri tampak tersenyum geli melihat polah tingkah Nana.


"Nana... kau itu cantik memakai baju apapun dan berpenampilan apapun. Lagipula Reno mencintaimu, jadi kau memakai kertas koran sebagai bajupun dia akan bilang kalau kau cantik." gumam Nirina, tidak mampu menyembunyikan kegeliannya.


Pipi Nana memerah dia lalu duduk di tepi ranjang, menatap Nirina dengan malu, "Mungkin memang aku sedang gugup." Nana mengangkat bahunya, "Kau tahu ini adalah kencan pertamaku... sejak... sejak..."


"Sejak dengan Rangga?" Nirina melanjutkan dengan penuh pengertian. "Aku mengerti Nana. Tetapi bagaimanapun juga, kau masih muda, kau harus melanjutkan hidup. Aku yakin Rangga di sana pasti akan tersenyum bahagia melihat keadaanmu sekarang."


Nana mengangguk, tersenyum sayang ketika membayangkan Rangga. Rangganya pasti akan tersenyum karena Nana sudah bangkit dari kesedihannya, berani melangkah, memasuki cinta yang baru. 


"Kau tidak apa-apa kutinggal di sini?" Nana melirik ke arah Nirina yang sekarang sudah selonjoran di ranjangnya sambil membaca koleksi novel milik Nana.


"Aku kemari kan bukan buat menemuimu, tetapi mau mengicipi masakan mamamu yang enak." Nirina mengangkat alisnya dan tertawa, "Jangan pikirkan aku, aku akan bersenang-senang di rumahmu."


Nirina memang selalu kesepian di rumah, ibunya sudah meninggal dan dia tinggal bersama ayahnya yang selalu sibuk, bahkan di hari minggu. Karena itu Nirinya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Nana, dia sudah dianggap seperti anak sendiri di sini.


Ketukan di pintu membuat Nana terlonjak kaget. Nirina tersenyum geli dan menepuk pundak Nana dengan novel di tangannya, "Taruhan itu pasti mama yang bilang kalo Reno sudah datang."


mamanya memang yang ada di balik pintu itu dan mengatakan kalau Reno sudah menunggu di ruang tamu.


Nana menoleh gugup ke arah Nirina, "Aku... aku pergi dulu ya."


Nirina mengedipkan matanya, "Bersenang-senanglah."


*** 


Mama Nana menyapa Reno dengan ramah, sepertinya mamanya itu cukup senang dengan kedatangan Reno, selain karena Reno cukup santun dan baik, mama Reno juga menyadari bahwa Reno adalah lelaki pertama yang diajak Nana ke rumah setelah Rangga, hal itu berarti anak perempuannya ini sudah mampu bangkit dari keterpurukannya karena ditinggal Rangga.


Setelah berbasa-basi sejenak, mama Nana meninggalkan dua muda-mudi itu duduk berdua di ruang tamu.


"Mama menyukaimu." Nana berbisik pelan sambil menatap kepergian mamanya, lalu tersenyum malu-malu, "Terimakasih sudah mau datang menjemputku kemari."


"Aku senang melakukannya." Reno tersenyum tulus, "Aku juga berterimakasih karena kau mau mengundangku datang ke rumah, berkenalan dengan mamamu."


Nana tersenyum, tetapi kemudian ganjalan di hatinya itu muncul, kemarin dia masih ragu menanyakannya karena dia terlalu bahagia ketika menyadari besarnya perasaannya kepada Reno, dan takut merusak suasana.


Tetapi sekarang dia harus menanyakannya, karena semua hal harus diluruskan sebelum mereka melangkah maju.


"Reno." Ekspresi Nana berubah serius, "Ada yang ingin aku tanyakan..."


"Tentang apa?" Reno terlihat tenang, tetapi matanya bersinar waspada.


"Aku menerima telepon pada suatu malam...." Nana menatap Reno dalam-dalam, "Katanya dari mamamu, dan kalau dia memang benar-benr mamamu, dia bilang aku harus membujukmu agar mau pulang menemui tunanganmu yang sakit.." Nana menghembuskan napas panjang, "Katanya semua akan dijelaskan... tetapi kemudian aku datang ke resroran yang telah disepakati, menunggu sampai dua jam dan tidak ada siapapun yang datang." Nana menatap Reno penuh pertanyaan, 'Kau bisa menjelaskan tentang itu semua?"


Reno menghela napas panjang. Dia tahu pertanyaan ini akan datang juga dari Nana, telepon mamanya memang tidak mungkin bisa diabaikan begitu saja. Haruskah Reno menjelaskan semuanya kepada Nana? Tetapi dia masih merasa belum waktunya. Ikatan perasaan antara dia dan Nana harus lebih diperdalam sebelum pada akhirnya dia membuka  seluruh rahasianya kepada Nana.


"Itu memang mamaku." Reno akhirnya berkata, "Tetapi yang dia bicarakan adalah mantan tunanganku."


"Mantan tunanganmu?" Nana mengeryitkan keningnya kaget.


"Ya... aku sudah memutuskan hubunganku dengannya karena aku sampai pada suatu titik kesadaran bahwa aku tidak mencintainya lagi." Reno menatap Nana dengan sedih, "Kemarin dia sakit jadi mamaku yang merasa ikut bersalah memutuskan menghubungimu, dia tahu bahwa aku mencintaimu dan berpikir bahwa kau mungkin bisa mengetuk nuraniku untuk menjenguk mantan tunanganku itu. Mama mungkin membatalkan niatnya untuk menemuimu karena aku saat itu sudah pulang untuk menjenguk mantan tunanganku."


Nana menelan ludahnya, "Apakah kau memutuskan pertunanganmu karena aku?" Rasa bersalah menyergap perasaannya, kalau Reno sampai memutuskan pertunangannya karena jatuh cinta kepadanya, dia tidak akan sanggup menahan rasa bersalahnya. Bayangan dirinya bersenang-senang di atas penderitaan perempuan lain sungguh tidak tertahankan.


Reno menggelengkan kepalanya, "Tidak Nana, aku memutuskan pertunangan itu bahkan sebelum aku pergi ke Bandung, sebelum aku bertemu denganmu, dan sebelum aku jatuh cinta kepadamu." Reno tidak bohong dalam hal ini, dia memang memutuskan Diandra sebelum dia bertemu Nana. "Aku memutuskan pertunangan itu karena menyadari bahwa sudah tidak ada cinta untuknya, jantungku tidak berdebar karena bersamanya, dan aku rasa tidak baik mempertahankan sesuatu yang hambar, apalagi sampai dibawa ke jenjang pernikahan."


Nana tercenung memikirkan penjelasan Reno, dia memang tidak bisa menyalahkan Reno kalau itu memang yang menjadi alasan keputusan Reno.... sedikit banyak dia lega karena Reno memutuskan tunangannya bukan karena dirinya. Ditatapnya Reno dengan hati-hati, "Apakah mantan tunanganmu itu baik-baik saja sekarang?"


Reno menganggukkan kepalanya, "Kemarin aku pulang untuk menemuinya, dia perempuan yang kuat, aku yakin dia akan bangkit dan bisa menemukan seorang laki-laki yang bisa mencintainya dan dicintainya dengan sepenuh hati." Reno lalu beranjak, mencoba mengalihkan percakapan dari suasana yang membuat murung itu,


"Yuk kita jalan. Jangan dibahas lagi ya, itu masa lalu dan sekarang aku sudah melangkah maju." Reno mengulurkan tangannya kepada Nana, "Bersamamu."


Sejenak Nana ragu, lalu dia membalas uluran tangan Reno.


***


"Jadi setelah ini kita kemana?" Mereka hendak keluar dari gedung itu, setelah menonton film pilihan mereka. Ternyata hujan sedang turun dengan derasnya di luar, membuat benteng segaris air yang kelabu menutup pemandangan saking derasnya. Langit gelap bahkan di jam sorepun sudah tampak seperti tengah malam yang pekat.


Akhirnya Reno mengajak Nana kembali masuk ke gedung itu, mereka duduk di Cafe di lantai empat yang berdinding kaca bening, sehingga pemandangan hujan yang menghantam-hantam kaca tampak begitu jelas. Nana dan Reno memilih tempat yang langsung berdekatan dengan dinding kaca itu.


Seharusnya Nana tidak menyukai suasana ini, seperti kebanyakan orang yang menggerutu karena hujan telah merusak hari mereka.  Tetapi tidak, dia malahan merasa senang, karena hujan baginya telah menciptakan aura yang membungkusnya, aura melankolis yang membuatnya semakin yakin bahwa dia telah jatuh cinta.


Nana tersenyum kepada Reno, "Kita di sini saja dulu, menghitung hujan."


"Menghitung hujan?" Reno mengernyitkan keningnya, "Bagaimana bisa?"


"Aku selalu melakukannya kalau sedang sedih.....Kau lihat itu?" Nana menunjuk ke arah kaca di sebelahnya.


"Lihat apa?" Reno mendekatkan tubuhnya dengan tertarik ke arah yang ditunjuk Nana 


"Buliran-buliran air hujan yang menempel di kaca. Ketika aku melamun aku selalu menghitungnya, mengamatinya sampai buliran itu meleleh dan hilang... lalu mengitung lagi dan lagi." Nana menatap Reno yang melihatnya sambil mengangkat alis, lalu menundukkan kepalanya malu, "Maafkan aku, aku aneh ya."


Reno tergelak, mengulurkan jemarinya untuk mengacak rambut Nana, "Ya kau memang aneh, tapi kau orang aneh yang kucintai." 


Mereka bertatapan, saling bertukar pandang, penuh cinta. Hati mereka diliputi oleh kebagagiaan yang luar biasa, jantung Reno berdegup ringan, merasa bahagia. Tetapi bukan hanya jantungnya saja yang berbahagia, Sekujur tubuh Reno seolah bernyanyi, mengucap syukur atas kebahagiaan yang telah lama diimpikannya ini. Kebahagiaan karena bisa ada di dekat Nana, kebahagiaan karena bisa memiliki hati Nana.


"Aku dulu juga suka menghitung hujan tanpa sadar." Reno bertopang dagu, menatap ke arah kaca itu, "Dulu aku sempat sakit dan dirawat di rumah sakit lama."


"Kau sakit apa?" sela Nana dengan cemas.


Reno tersenyum samar, "Bukan sakit yang penting." Elaknya, "Dan aku sering merasa hujan di rumah sakit. Saat paling menyenangkan buatku adalah ketika hujan turun, lalu aku akan menatap tetesan demi tetesannya yang berjatuhan dari jendelaku yang terbuka." Dia tersenyum menatap Nana, "Sepertinya kita sama ya."


Nana terkekeh lalu membiarkan jemarinya direngkuh ke dalam genggaman tangan Reno, "Kita bisa duduk dan menghabiskan waktu diam berdua tanpa bosan, sambil menghitung hujan."


"Ide yang bagus." Reno mengangkat alisnya, "Mari kita lakukan."


Dan demikianlah Reno dan Nana. Duduk berdua, bergenggaman tangan, menghitung hujan bersama-sama.


*** 


Nana sedang mengunjungi toko buku kecil langganannya di lokasi dekat kampus, Nirina tidak ada bersamanya karena sahabatnya itu sedang kuliah  tambahan. Dengan asyik Nana menelusuri barisan buku-buku yang tertata rapi di bagian fiksi, mencari kisah romantis baru untuk di bawa pulang.


Ketika tidak menemukan apa yang dicarinya, Nana berbalik, hendak menuju bagian new release di sudut lain toko itu, ketika kemudian dia menabrak seseorang yang sedang membawa tumpukan buku-buku hingga yang dibawanya itu jatuh berserakan di lantai.


"Oh maaf." Nana dan orang yang dtabraknya itu sama-sama berjongkok untuk mengambil buku itu, Nana mendongak dan menatap orang yang ditatapnya, seorang perempuan .... sangat cantik. Dengan cekatan Nana mengambil buku-buku yang berserakan itu lalu berdiri diikuti perempuan itu, dan menyodorkan buku-buku itu kepada perempuan itu. 'Maafkan saya ceroboh, saya tidak tahu ada orang di belakang."


Perempuan cantik itu menerima buku-buku dari Nana dan memeluknya di tangannya, "Tidak apa-apa, aku juga tadi berjalan lurus saja, tidak melihat ke kanan dan ke kiri."


"Itu Jane Eyre." Nana tidak bisa menahan diri ketika melihat sampul salah satu buku yang berada di bagian depan di pelukan perempuan itu, "Aku juga punya satu di rumah."


"Oh ya?" perempuan itu melirik ke arah bukunya dan tersenyum malu-malu, "Aku sedang berlibur di Bandung, dan sengaja membeli buku-buku yang banyak sebagai teman kebosananku. Dari sinopsisnya di bagaian belakang buku, sepertinya ini buku yang menarik."


"Sangat menarik. Ini adalah buku romance dari tulisan sastra lama inggris, diterbitkan pertama kali tahun 1847 dan kisah cintanya masih bertahan sampai sekarang." Nana memutar bola matanya, "Ketika Charlotte Brontte menerbitkannya pada tahun itu, buku ini menuai banyak kontroversi."


"Kenapa?" Perempuan itu tampak tertarik.


"Karena kisah cintanya yang tidak biasa. Jane Eyre adalah perempuan mandiri dari keluarga kaya, ketika ayahnya meninggal dia terusir begitu saja dengan hartanya dikuasai oleh ibu dan adik tirinya, mirip kisah cinderella yah." Nana terkekeh, "Tetapi kemudian dia menjadi guru untuk mengajar seorang anak kecil, anak dari bangsawan kaya yang sudah menjadi duda, dia harus tinggal di sebuah kastil gelap, dimana kabarnya kastil itu berhantu dan sang pemilik adalah bangsawan yang sangat menakutkan, tetapi tidak pernah ada di rumah karena begitu sibuknya dengan bisnisnya. Dia mengajar anak bangsawan itu, seorang gadis kecil yang sangat mencuri hatinya sehingga Jane sangat menyayanginya. Tetapi kemudian bangsawan itu pulang ke kastilnya, dan Jane melihat bahwa bangsawan itu sangat tampan meskipun sikapnya misterius dan menakutkan." Nana mengedipkan sebelah matanya, "Ada begitu banyak misteri di kastil itu dibalut kisah romance yang sangat menarik antara sang guru pribadi dengan sang bangsawan, ..... kisha misterinya digambarkan dengan baik, bahkan aku sampai merinding membacanya, tetapi begitu membacanya kau tidak akan bisa berhenti, karena kau pasti sangat ingin tahu rahasia gelap dan mengerikan apa yang tersembunyi di kastil itu....aku tidak akan menjelaskan lebih lanjut kepadamu karena nanti akan merusak kejutannya."


Perempuan itu terkekeh, "Kau membuatku ingin cepat-cepat pulang dan membacanya untuk mengetahui rahasia gelap apa yang ada di sana." Lalu perempuan itu mengulurkan tangannya, "Kita sampai lupa berkenalan... namaku Diand.....", perempuan itu berdehem, "..... panggil aku Dian."


Nana tersenyum ramah dan membalas uluran tangan itu, menjabatnya dengan hangat, "Dan aku Nana."


***