Saturday, September 21, 2013

Menghitung Hujan Part 6 by Santhy Agatha

Reno menyuapi Diandra dengan bubur dari rumah sakit. Diandra memang belum boleh menyantap makanan yang keras karena perutnya masih belum bisa mencernanya, tetapi dia sudah bisa makan bubur sehingga tidak tergantung lagi pada infusnya.

Mereka tidak pernah membahas lagi tentang perpisahan. Reno menahan dirinya, mencoba bertahan untuk berada di samping Diandra dan merawatnya ketika perempuan itu sakit.

Semua orang benar, Reno menyimpan hutang budi yang luar biasa kepada Diandra, dia baru menyadarinya sekarang, bahwa merawat orang sakit ternyata melelahkan. Dan Diandra telah melakukan bertahun-tahun untuknya, merawatnya ketika dia lemah tak berdaya.

Mungkin jauh di dasar hatinya Reno berharap apa yang dilakukannya ini bisa menebus hutang budinya kepada Diandra. Meskipun ia yakin bahwa itu tidak mungkin. Hutang budinya terlalu besar, dan hanya bisa dibayar kalau dia melanjutkan pertunangannya dengan Diandra menuju jenjang pernikahan.

Tetapi bisakah sebuah pernikahan dijalankan atas dasar hutan budi? Dasar itu terlalu lemah untuk menjadi fondasi mereka. Diandra bilang kalau dia akan berusaha dan dia pasti bisa membuat Reno kembali mencintainya. Tetapi Reno meragu. Jantungnya tidak berdebar bersama Diandra. Cintanya sudah pasti bukan lagi untuk Diandra. Kalau Reno melanjutkan pertunangan ini kembali, itu sama saja dia sudah mati. 

Raganya hidup tapi jiwanya mati....

*** 

"Reno?" bisikan Diandra lirih, membangunkan Reno dari lamunannya. Lelaki itu tergeragap dan mengalihkan matanya ke arah Diandra.

"Apa Diandra?"

Diandra mengamatinya dalam-dalam, lalu menatap ke arah mangkuk yang dibawa Reno, "Buburnya sudah habis."

Reno menunduk dan mengamati mangkuk di tangannya. Mangkuk itu sudah habis isinya, dia bahkan tidak ingat sudah menyuapi Diandra sampai habis. Ditatapnya Diandra dengan malu, "Maaf."

Diandra tersenyum lembut, "Tidak apa-apa Reno."

Reno kemudian berdiri dan meletakkan mangkuk itu ke nampan piring kotor, setelah itu dia menoleh ke arah Diandra, "Bagaimana keadaanmu?"

Diandra meringis, "Masih sakit."

Hal itu membuat Reno menghela napas, kondisi Diandra sudah membaik, itu pasti. Rona mukanya sudah cerah, bahkan dokterpun mengatakan bahwa Diandra sudah boleh pulang asal beristirahat di rumah dengan intens. Tetapi Diandra selalu mengatakan bahwa dia masih sakit dan tidak mau meninggalkan rumah sakit, dia selalu mengeluh perutnya sakit dan kepalanya pusing. Semula Reno bingung, tetapi kemudian Reno menyadari, bahwa Diandra selalu mengatakan bahwa dirinya sakit karena ketakutan, dia takut ditinggalkan Reno lagi kalau ternyata dia sudah sehat.

Apa yang dilakukan Diandra itu membuat Reno sedih. Oh ya ampun, kenapa perempuan ini begitu mencintainya? Kenapa dia tidak bisa melepaskan Reno dengan mudah? Kenapa dia begitu menginginkan Reno bersamanya? 

Pemikiran itu membuat Reno merasa frustrasi, tetapi dia menahannya. Diandra pernah berakhir dalam kondisi buruk ketika Reno bersikap tegas dan menolaknya. Reno tidak mau Diandra berakhir di rumah sakit lagi atau menanggung resiko fatal kalau dia meninggalkannya lagi kali ini. Kalau dia meninggalkan Diandra, dia ingin perempuan itu sudah melepasnya dengan besar hati, tidak meratapinya lagi.

Reno duduk di kursi di tepi ranjang dan menatap Diandra lurus-lurus,

"Aku harus kembali kuliah. Aku sudah bolos hampir dua minggu."

Wajah Diandra langsung berubah sedih dan tersiksa, "Kau akan meninggalkanku?" tiba-tiba bening mengalir di pipinya, "Kau akan kembali kepada perempuan itu?"

Reno menghela napas pahit, "Bagaimanapun juga aku harus kembali ke sana Diandra, kuliahku sudah terbengkalai, padahal aku baru memulainya."

"Kau bisa memulai kuliahmu kapanpun." Diandra menatap keras kepala, "Dulu ketika sakit kau menunda kuliah maguistermu dan kau baik-baik saja. Kenapa sekarang kau tidak bisa melakukan hal yang sama?"

"Diandra.." Reno bergumam frustrasi, "Tidak semudah itu, aku tidak bisa berhenti begitu saja, aku harus mengajukan cuti, mengikuti prosedur dan lainnya. Kalau tidak kuliahku selama ini akan hangus sia-sia."

"Biarkan saja." Diandra tersenyum pahit, "Toh kau mengambil kuliah itu bukan murni untuk kuliah, itu hanya salah satu alasanmu supaya bisa ke kota itu dan menemui perempuan itu."

"Diandra." suara Reno agak keras, mengingatkan. Membuat Diandra terdiam dan mengusap air matanya yang meleleh semakin deras.

"Aku tidak bisa lama di sini, aku harus kembali."

"Demi perempuan itu? Kau tega melakukannya kepadaku, Reno?"

"Ini bukan masalah tega atau tidak.." Reno mengerang, seperti kesakitan, "Aku harus kembali, Diandra."

Diandra membeku, dengan air mata masih mengalir, ketika dia menatap Reno kemudian, tatapannya penuh dengan kesakitan dan kepedihan.

"Aku membenci perempuan itu." Akunya dengan getir, "Aku tidak pernah bertemu perempuan itu, tetapi aku sudah membencinya. Dia merenggutmu dari sisiku, hanya karena jantung kekasihnya ada di dadamu. Padahal seharusnya kisah cintanya sudah berakhir, kekasihnya sudah mati. Dia seharusnya tidaj punya kisah cinta lagi. Tapi... perempuan itu ternyata memilih merebut kisah cintaku, merebut kau."

"Nana tidak pernah merebutku Diandra, ingat. Dia bahkan tidak mengetahui tentang transplatasi jantung ini. Aku yang mengejarnya."

Diandra seolah tidak mendengarkan perkataan Reno, matanya menerawang menatap langit biru di jendela luar, "Seorang perempuan yang berbahagia padahal dia telah merenggut kebahagiaan perempuan lainnya, adalah perempuan paling hina di dunia."

Reno bagaikan tertampar mendengar perkataan Diandra. Perempuan itu seolah menutup diri, mencoba menipu diri bahwa bukan Reno yang meninggalkannya melainkan Nana yang merebut Reno. Diandra seolah membangun tembok kokoh yang dia percaya, menolak untuk menerima bahwa Reno tidak mencintainya lagi.

Apa yang harus kulakukan? Reno berbisik putus asa ke dalam jiwanya. Suaranya bergaung tak tentu arah, tak menemukan jawabannya.

*** 

"Kalian sudah begitu cocok bersama." Mama Reno menatap sedih ketika Reno mengepak pakaiannya di kamar. "Sebegitu tegakah kau menyakiti Diandra lagi?"

"Aku harus kembali, mama."

"Jangan." Mamanya bergumam sedih, "Jangan Reno, mama mohon. Seandarinya kau tahu betapa kalutnya perasaan mama. Mama malu dengan orang tua Diandra, mereka telah menerimamu dengan baik waktu itu, tahu bahwa kau sakit, tahu bahwa puterinya menghabiskan waktunya merawatmu meskipun tidak jelas apakah kau akan bertahan hidup atau tidak. Mereka tetap menerimamu dengan lapang dada dan menganggap kau sebagai anak kandung mereka. Begitupun mama, menganggap Diandra sudah seperti anak mama sendiri...." Mata mamanya mulai berkaca-kaca, "Perasaan mereka, mama tahu persis. Merasakan anak mereka dicampakkan begitu saja karena alasan yang tidak logis... mama juga merasakan sakit karena sudah menganggap Diandra anak mama sendiri, dan mama tambah sakit karena anak kandung mamalah yang bersikap kejam seperti ini."

"Mama." Reno mengernyit, "Jangan berkata seperti itu."

"Apakah hatimu tidak terketuk sedikitpun melihat kondisi Diandra seperti itu? dia sampai jatuh sakit karena meratapimu." Sang mama mulai terisak, "Jantung itu benar-benar mengubahmu menjadi orang yang berbeda,"

"Semua orang menyalahkan jantung ini." Reno menggertakkan giginya, "Mungkin kalian semua berharap bahwa lebih baik aku mati saja dengan jantung yang rusak daripada hidup dengan jantung ini lalu mengikuti debarannya sesuai kata hatiku."

"Reno! bukan begitu maksud mama."

"Ya! Maksud mama begitu." Reno mendesis, mencoba menahan emosinya, "Mama tidak bisa menerima kondisi Reno yang sekarang, mama menginginkan Reno yang dulu dengan jantungnya yang rusak. Itu sama saja mama menginginkan Reno lebih baik mati saja daripada mendapatkan jantung ini."

"Bukan begitu, Reno." sang mama berurai air mata, kehabisan kata-kata.

"Reno sudah merasa bersalah ma, dan dengan kejamnya mama membebani Reno dengan rasa bersalah lagi, lagi dan lagi seolah tak pernah puas. Apa yang mama inginkan? Agar Reno mengorbankan hati dan kebahagiaan Reno demi persahabatan mama, demi moral, demi semua norma sosial dan perihal balas budi? Kalau mama melakukannya, sama saja mama sudah membunuh Reno." Mata Reno menyala, "Reno tidak mencintai Diandra, kalau mama memaksa Reno menerima Diandra dan menikah dengannya, sama saja mama sudah membunuh Reno dengan tangan mama sendiri!"

Sang mama tertegun kaget menerima kemarahan anaknya. Dia tidak menyangka Reno begitu serius seperti ini. Dia berpikir bahwa mungkin Reno cuma terbawa perasaan setelah operasi sehingga mengejar perempuan bernama Nana itu. Tetapi sepertinya Reno sungguh-sungguh dengan perasaannya, walaupun tidak dapat dikelaskan dengan logika, Reno benar-benar sungguh-sungguh.

Dia masih membeku ketika Reno melewatinya sambil membawa tas berisi pakaian yang sudah di packingnya, sambil mengucapkan selamat tinggal dengan kaku.

*** 

Sebelum pergi, Reno menemui Diandra, bertekad untuk memberikan ketegasan kepada perempuan itu. Dia sudah mencoba membalas budi, dia sudah mencoba melembutkan hati ketika merawat Diandra dua minggu lamanya, tetapi perasaannya tidak berubah. Hatinya tetap memanggil-manggil dan merindukan Nana. 

Debaran jantungnya hanya untuk Nana.... begitupun cintanya yang sekarang bertumbuh makin dalam kepada perempuan itu.

Ketika dia memasuki kamar Diandra, perempuan itu sedang duduk dan melamun, kesedihan langsung muncul di matanya ketika Reno  masuk dan membawa tas pakaiannya.

"Kau tetap pergi?" Diandra tampak seperti hampir menangis, tetapi Reno menguatkan hati.

"Kau setega itu?" Diandra menatapnya tak percaya, tampak rapuh lagi dengan baju rumah sakit dan infus yang ada di tangannya.

Reno menghela napas panjang, "Kau tahu aku tidak bisa di sini terus."

"Kau bisa... kenapa kau tidak mencoba?" Diandra mulai menangis lagi.

Reno memalingkan mukanya, "Kau tahu aku sudah mencoba."

"Waktunya terlalu singkat... mungkin kita bisa mencoba lebih lama, mengunjungi tempat-tempat kenangan kita, mencoba menelusuri masa lalu kita yang indah...."

Reno menggeleng, wajahnya mengeras, berusaha menegarkan hati menghadapi kesedihan Diandra, 

"Selamat tinggal Diandra."

"Tidak! Reno! Reno! Jangan pergi Reno....Reno!"

Diandra berteriak berusaha mencegah Reno. Tetapi keputusan Reno sudah bulat, dia membalikkan badannya, meninggalkan kamar itu, menulikan telinganya dari teriakan-teriakan Diandra yang memilukan, memanggil-manggil namanya dengan putus asa.

*** 

Kuliah siang sudah selesai, Nana keluar bersama Nirina yang mengamatinya hati-hati. Hujan kembali turun deras di luar, mereka menyusuri lorong kampus sambil menyiapkan payung.

"Beberapa hari ini kau tampak murung Nana, kenapa?"

Nana menghela napas, "Aku sudah cerita tentang telepon aneh yang mengaku sebagai mama Reno bukan?" Nana menatap Nirina dan melihat Nirina mengangguk, "Dan sampai sekarang Reno menghilang, tidak bisa dihubungi."

"Kau berpikir bahwa informasi di telepon itu benar? bahwa Reno pulang untuk menemui tunangannya yang sakit?"

Jantung Nana terasa diremas, menyakitkan. "Aku.. entahlah... mungkin informasi itu memang benar. Buktinya kebetulan sekali setelah telepon itu dia menghilang."

Nirina mengamati Nana dengan seksama, "Apakah kau pada akhirnya mencintai Reno, Nana?"

Nana merenung lama, lalu menghela napas panjang, "Kurasa.... aku memang mencintainya." gumamnya pelan.

"Dan kau tidak menganggapnya sebagai pengganti Rangga? kau tahu dulu kau pernah bercerita bahwa kau nmerasakan Reno mirip seperti Rangga, meskipun bukan secara fisik....."

"Bukan." Nana menggeleng, "Rangga selalu punya tempat di dalam hatiku.... jauh tersimpan di dalam sini." Nana menyentuh jantungnya lembut. "Tetapi Reno berbeda, dia tidak berusaha mengusir Rangga dan menggantikan tempatnya, Reno datang dan berusaha menemukan tempatnya sendiri di hatiku...dan ketika aku menyadarinya, dia sudah ada di dalam sana."

Nirina menghela napas panjang. "Kalau begitu Nana, begitu kau bisa menemui Reno, kau harus memastikan tentang informasi itu. Apakah Reno memang sudah bertunangan atau belum.... apakah memang mamanya yang meneleponmu waktu itu...." Nirina menatap Nana hati-hati, "Kau tidak mau melangkah di awal yang salah kan?"

Nana mengangguk. "Aku akan menanyakannya kepada Reno."

Itu kalau dia bisa menemui Reno.... sekarang dia bahkan tidak tahu di mana Reno berada...

*** 

Nana sampai di dekat gerbang kampus dan mengembangkan payungnya. Nirina berjalan di sebelahnya dan menawarkan,

"Kau yakin tidak mau ikut aku pulang naik motorku?"

Nana menggeleng, "Tidak.. aku mau ke kedai kopi itu." Dan terus berharap Reno akan datang, seperti ketika dia menunggu dan menunggu di hari-hari sebelumnya sampai kedai tutup, pulang dengan kecewa karena Reno tidak muncul.

Ketika Nana melangkah keluar dari gerbang kampusnya, hujan deras menerpanya, angin kencang langsung menghembusnya sehingga dia harus memegang payungnya erat-erat. Dia baru berjalan selangkah menembus hujan dan terpana. 

Reno ada di sana, memarkir mobil orange cerahnya di depan kampus dan berdiri di dekat mobilnya. Lelaki itu berteduh di bawah pohon besar yang membuatnya sedikit terlindungi, meskipun percikan air yang kencang masih membasahi rambut dan pakaiannya.  Senyumnya langsung mengembang ketika melihat Nana,

Nirina yang berada di samping Nana langsung tersenyum penuh arti, "Well sepertinya itu tandanya aku harus pergi. Ingat kata-kataku Nana, tanyakan dulu kepadanya sebelum kau memutuskan melangkah maju."

Nana menganggukkan kepalanya, melambai ke arah Nirinya yang bergegas pergi ke arah parkiran motor di luar gerbang kampus.

Kemudian Nana menatap Reno lagi. Senyum Reno mengembang lebar dan lelaki itu membuka kedua tangannya.

Di dorong oleh perasaannya, Nana menghambur ke dalam pelukan Reno yang langsung menangkapnya. Payungnya jatuh mengembang berguling di tanah, tetapi dia tidak peduli.

Reno memeluknya kuat-kuat setengah mengangkatnya, menenggelamkan tubuh Nana dekat kepadanya, menghirup aroma wangi yang sangat dirindukannya, meresapi kenikmatan ketika jantungnya berdebar penuh cinta karena bisa memeluk perempuan yang dikasihinya.

Lama mereka berpelukan di bawah hujan, dan hampir basah kuyup namun mereka tidak peduli, 

Reno tersenyum, senang dengan sikap impulsif Nana yang menghambur ke pelukannya, Nana selalu menahan diri di dekatnya, inilah saat ketika dia tampak lepas di depan Reno. Mungkin perpisahan selama dua minggu itu ada manfaatnya juga.

"Sepertinya kau sangat merindukanku." Reno tersenyum menggoda, menatap Nana dengan sayang.

Pipi Nana merona, tetapi dia tidak mundur, "Aku sangat merindukanmu, Reno." Perasaannya meluap-luap, penantiannya selama dua minggu ini tanpa kepastian membuatnya menyadari berapa dia  membutuhkan Reno ada di sampingany. Dan sekarang dia ada di dalam pelukan Reno, semuanya jadi terlupakan. Segala kesakitannya, keraguannya, kebingungannya, semuanya musnah. Yang ada di benaknya kini hanya Reno.. Reno dan Reno...

Reno mengusap air yang membasahi rambut Nana ke mukanya,"Kita basah kuyup, sebaiknya kita segera masuk ke mobil sebelum masuk angin." Lelaki itu tertawa, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

*** 

Diandra merapikan pakaiannya. Dia sudah boleh pulang dari rumah sakit hari ini dan bergegas merapikan baju-bajunya.

"Kau yakin nak?" mamanya duduk di pinggiran ranjang, menatapnya dengan hati-hati.

"Yakin mama."

"Tetapi kau belum sembuh benar, dan mama mencemaskanmu di sana."

Diandra tersenyum lembut, "Mama, aku kan tinggal di rumah nenek di sana, nenek pasti akan mengurusku. Mama jangan cemas ya, aku bisa menjaga diri.:"

Sang mama terdiam, masih menatap anaknya dengan kecemasan yang tidak bisa disembunyikannya, tetapi tidak punya daya upaya untuk mencegah niat bulat Diandra.

Sementara itu Diandra sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia akan menyusul ke Bandung, dia akan berkenalan dengan Nana, tentu saja tanpa sepengetahuan Reno, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya dilihat Reno dari Nana yang tidak dia miliki.

Nana.... Diandra merapal nama itu dalam hati. Well, nana harus tahu, kalau Diandra tidak akan menyerahkan Reno semudah itu. Dia akan memperjuangkan cintanya sekuat tenaga....

***