Sunday, September 14, 2014

Harga Seorang Perempuan

Sinopsis cerpen dari Oka Rusmini.

Pagi-pagi sekali Nyonya besar sudah mandi, itu berarti ia akan berdandan untuk acara khusus. Dan sperti biasa, kalau dia mulai berdandan, seluruh pelayan di rumah akan ikut repot. Rumah jadi berisik dan kacau.
“kau taruh di mana sepatu bermerek Italia, hadiah dari Nyonya Dubes minggu lalu?” perempuan tambun itu berteriak, suaranya memenuhi ruangan hingga membuat suaminya pindah ke ruang tamu lalu melanjutkan tidurnya sambil mengorok agar ia tidak lagi mendengar suara istrinya.

Melihat kelakuan suaminya Nyonya hanya bisa menarik napas. Lalu ia pun kembali berteriak, “cepat sedikit. Hari ini acaraya sangat spesial” teriak Nyonya besar kepada salah satu pelayan muda. Lalu Nyonya besar menyuruh pelayan itu mengurutnya dengan minyak beraroma kayu cendana, “sudah-sudah itu sudah sukup, sekarang kau berdiri di depanku dan hiruplah aroma tubuhku, apakah aroma alamnya terasa?” Tanya Nyonya besar sedikit gusar. “sangat” pelayan muda itu menarik napas dalam-dalam, tiba-tiba perutnya agak mual. Pelayan itu terdiam mencoba mengingat-ingat bau akar pohon yang sering diciumnya sewaktu ia sering menanam ketela pohon bersama orangtuanya dulu. Dia ingat seperti apa bau akar-akar itu, bau pohon-pohon yang ditebang, bau rumput dan dedaunan dipagi hari. Tapi bau parfum Nonya sangat berbeda, baunya menyesakkan dada dan membuatnya hampir muntah.

“hei sejak tadi kau hanya diam! Bagaimana? Tanya Nyonya besar.
Perempuan muda itu terdiam. Berbicara dengan perempuan kelas tinggi harus menggunakan etika tersendiri. Itu kata-kata ibunya yang diingat pelayan muda itu ketika pertama kali bekerja di rumah Nyonya Besar.
“ikutlah dengan Nyonya, kau pasti akan memiliki masa depan lebih baik” kata ibunya sebelum meninggal.
“tidak, aku tidak mau ibu, aku ingin tetap disini bersama ayah dan ibu, aku ingin dekat dengan kalian, apakah itu permintaan yang mahal?” perempuan setengah baya itu terdiam, lalu datanglah utusan dari Nyonya Besar yang akan menjemput pelayan muda tersebut. “jaga dirimu baik-baik. Kau akan belajar banyak dari Nyonya.” Ucap ibunya sebelum ia dibawa pergi.

Rumah Nyonya sangat besar. Setiap hari ada saja orang yang membawa kue, buah, dan berbagai macam barang untuk Nyonya besar. Kata perempuan sebayannya sangat menyenangkan menjadi Nyonya besar, tapi Ia  tidak berfikir demikian. Perempuan bernama Nyonya besar itu sangat lucu. Tubuhnya tinggi besar, pipinya tembam, dan rambutnya selalu disasak tinggi-tinggi. Kata pelayan-pelayan di rumah besar itu, sasak seperti itu mencerminkan perempuan kalangan atas. Dia ingin tertawa ketika pertama kali mendengar pendapat itu. Begitukah ciri-ciri perempuan kelas atas?

Terdengar kembali suara Nyonya besar. “hei kau belum jawab pertanyaanku.”
“sejak tadi saya sudah katakana parfum Nyonya luar biasa.”
“apa lagi?”
“hanya Nyonya yang pantas memiliki parfum beraroma akar pohon hutan-hutan Indonesia.”
“luar biasa pagi ini kau mampu membuatku bahagia. Sesungguhnya perempuan-perempuan sepertimulah yang bisa menilai sesuatu dengan jujur. Di duniaku sudah tidak lagi ada hal seperti itu.”
“Nyonya bicara apa? Saya tidak mengerti.”
“sudahlah. Kau tidak akan mengerti. Peranku dan peranmu sebagai perempuan berbeda. Hargamu dan hargaku juga jauh berbeda. Tugasmu hanya menyiapkan pakaianku.” Nyonya Besar menatap pelayan muda itu dengan tajam. Sering juga dia merasa iri pada keluguan perempuan muda itu memandang hidup. Aneh sekali, ditengah keterbatasannya, pelayan muda itu selalu terlihat bahagia. Setiap melihat perempuan muda itu ia selalu teringat pada masa lalu dimana ia masih menjadi perempuan yang dibesarkan dalam keluarga sederhana.

“pernahkah kau berfikir untuk menjadi perempuan seperti aku?” Tanya Nyonya besar kepada pelayan muda itu.
“kenapa Nyonya bertanya seperti itu?”
“aku yang bertanya. Bukan kau!”
“maaf Nyonya.” Pelayan muda iu berkata tenang.
“kau pernah ingin menjadi aku?” Nyonya Besar bertanya lagi. Pelayan muda itu diam. Dia terus berfikir, jawaban apa yang kira-kira diinginkan oleh perempuan bertubuh tambun ini?
“jawablah pertanyaanku. Apa pun jawabanmu, aku senang!” ucap Nyonya Besar.

Pelayan muda itu menatap wajah majikannya dingin. Dia pernah mendengar dari para pelayan lain, dulu Nyonya besar serang wanita yang baik. Dia sangat sederhana dan penuh perhatian. Sejak jabatan suaminya naik, dia bergaul dengan perempuan-perempuan aneh. Dan Nyonya Besar mulai berubah.
Pelayan muda itu menarik napas. Biar. Biarpun dia tidak tamat SD, dia tidak ingin membohongi Nyonya Besar.

“saya tidak ingin menjadi Nyonya Besar”
“Kenapa?” Nyonya Besar mendelik.
“Nyonya terlalu banyak bohong. Orang-orang juga sering berbohong karena Nyonya. Bohong yang seragam. Bohong yang bukan hanya diketahui Nyonya sendiri. Saya sudah belajar bohong untuk membuat Nyonya senang. Lama-lama saya bosan. Saya ingin pulang, Nyonya. Saya capek. Saya tidak mau menjadi perempuan seperti Nyonya. Harga saya beda, tidak akan pernah ternilai maupun dibeli dengan uang. dan di dunia saya tidak ada kebohongan. Saya bahagia menjadi diri saya sendiri.”

Nyonya Besar terpaku. Untuk pertama kalinya dia merasakan kesepian panjang meringkus tubuhnya.

        Kenali dirimu dan hargailah, janganlah pernah bangga menjadi Perempuan yang katanya berkelas tetapi tidak bermoral. Janganlah pernah bangga menjadi perempuan cantik yang selalu disanjung karena material yang hanya bisa dilihat dengan mata, tetapi banggalah menjadi perempuan yang memiliki akhlak yang mulia baik secara vertikal maupun horizontal.