Friday, May 10, 2013

TEORI PEMBENTUKAN BUMI

1.Teori Letusan Hebat (Big Bang)
Berdasarkan Theory Big Bang, proses terbentuknya bumi berawal dari puluhan milyar tahun yang lalu. Pada awalnya terdapat gumpalan kabut raksasa yang berputar pada porosnya. Putaran yang dilakukannya tersebut memungkinkan bagian-bagian kecil dan ringan terlempar ke luar dan bagian besar berkumpul di pusat, membentuk cakram raksasa. Suatu saat, gumpalan kabut raksasa itu meledak dengan dahsyat di luar angkasa yang kemudian membentuk galaksi dan nebula-nebula. Selama jangka waktu lebih kurang 4,6 milyar tahun, nebula-nebula tersebut membeku dan membentuk suatu galaksi yang disebut dengan nama Galaksi Bima Sakti, kemudian membentuk sistem tata surya. Sementara itu, bagian ringan yang terlempar ke luar tadi mengalami kondensasi sehingga membentuk gumpalan-gumpalan yang mendingin dan memadat. Kemudian, gumpalan-gumpalan itu membentuk planet-planet, termasuk planet bumi.

Dalam perkembangannya, planet bumi terus mengalami proses secara bertahap hingga terbentuk seperti sekarang ini. Ada tiga tahap dalam proses pembentukan bumi, yaitu:
Awalnya, bumi masih merupakan planet homogen dan belum mengalami perlapisan atau perbedaan unsur.
Pembentukan perlapisan struktur bumi yang diawali dengan terjadinya diferensiasi. Material besi yang berat jenisnya lebih besar akan tenggelam, sedangkan yang berat jenisnya lebih ringan akan bergerak ke permukaan.
Bumi terbagi menjadi lima lapisan, yaitu inti dalam, inti luar, mantel dalam, mantel luar, dan kerak bumi.
Perubahan di bumi disebabkan oleh perubahan iklim dan cuaca.
Dalam perkembangannya, planet bumi terus mengalami proses secara bertahap hingga terbentuk seperti sekarang ini. Ada tiga tahap dalam proses pembentukan bumi, yaitu:
1. Awalnya, bumi masih merupakan planet homogen dan belum mengalami perlapisan atau perbedaan unsur.
2. Pembentukan perlapisan struktur bumi yang diawali dengan terjadinya diferensiasi. Material besi yang berat jenisnya lebih besar akan tenggelam, sedangkan yang berat jenisnya lebih ringan akan bergerak ke permukaan.
3. Bumi terbagi menjadi lima lapisan, yaitu inti dalam, inti luar, mantel dalam, mantel luar, dan kerak bumi.

2. Teori Keadaan Tetap

   Kalau kita kembali ke tahun 1948, tidaklah ditemukan informasi yang cukup untuk menguji teori letusan hebat itu (Big Bang). Ahli astronomi Inggris Fred Hoyle dan beberapa ahli astrofisika Inggris mengajukan teori yang lain, yaitu teori "KEADAAN TETAP", yang menerangkan bahwa jagat raya tidak hanya sama dalam ruang angkasa (ASAS KOSMOLOGI) tetapi juga tak berubah dalam waktu (ASAS KOSMOLOGI YANG SEMPURNA). Jadi asas kosmologi diperluas sedemikian rupa sehingga menjadi "sempurna" atau "lengkap" dan tidak bergantung pada peristiwa sejarah tertentu. Teori Keadaan Tetap berlawanan sekali dengan Teori Letusan Hebat (Big Bang). Dalam Teori Keadaan Tetap, ruang angkasa berkembang menjadi lebih kosong sewaktu berbagai galaksi saling menjauh. Dalam teori ini, kita harus menerima bahwa zat baru selalu diciptakan dalam ruang angkasa di antara berbagai galaksi, sehingga galaksi baru akan terbentuk guna mengantikan galaksi yang menjauh. Orang sepakat mengatakan bahwa zat baru itu ialah Hidrogen, yaitu sumber yang menjadi asal usul bintang dan galaksi.

   Penciptaan zat berkesinambungan dari ruang angkasa yang tampaknya kosong itu diterima secara skeptis oleh para ahli, sebab hal ini rupanya melanggar salah satu hukum dasar fisika; yaitu "HUKUM KEKEKALAN ZAT". Zat tidak dapat diciptakan atau dihilangkan tetapi hanyalah dapat diubah menjadi zat lain atau menjadi energi. Sebaliknya, sukar juga untuk menyanggah secara langsung penciptaan berkesinambungan, sebab jumlah zat menurut teori keadaan tetap, sangat lambat bertambahnya (kira-kira satu atom setiap seribu juta tahun dalam satu volume ruang angkasa).
KEHIDUPAN AWAL MASYARAKAT DI INDONESIA
A.      Teori Pembentukan Bumi
Geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi secara keseluruhan. Berdasarkan geologi, terjadinya bumi sampai sekarang dibagi ke dalam empat zaman. Zaman-zaman tersebut merupakan periodisasi atau pembabakan praaksara.

1.      Zaman Arkaekum
Zaman ini berlangsung kira-kira 2.500 juta tahun. Pada saat itu kulit bumi masih panas sehingga tidak ada kehidupan.
2.      Zaman Paleozoikum
Zaman ini berlangsung 340 juta tahun. Makhluk hidup yang muncul pada zaman ini adalah mikroorganisme, ikan, ampibi, reptil, dan binatang yang tidak bertulang belakang.
3.      Zaman Mesozoikum
Zaman ini berlangsung kira-kira 140 juta tahun. Pada zaman pertengahan ini jenis reptil mencapai tingkat yang terbesar sehingga pada zaman ini sering disebut juga dengan zaman reptil. Contoh hewan reptile adalah Dinosaurus. Setelah berakhirnya zaman sekunder ini, maka muncul kehidupan yang lain, yaitu jenis burung dan binatang menyusui masih rendah sekali tingkatannya. Sedangkan jenis reptilnya mengalami kepunahan.
4.      Zaman Neozoikum     
Zaman ini dibedakan menjadi dua zaman, antara lain sebagai berikut.
a.      Zaman Tersier
Zaman ini berlangsung sekitar 60 juta tahun. Yang terpenting dari zaman ini ditandai dengan berkembangnya jenis binatang menyusui seperti jenis primat. Misalnya, kera.
b.      Zaman kuarter
Zaman ini ditandai dengan adanya kehidupan manusia sehingga merupakan zaman terpenting. Zaman ini dibagi lagi menjadi dua zaman, yaitu zaman Plestosen dan Holosen. Zaman Plestosen/Dilluvium berlangsung kira-kira 600.000 tahun yang ditandai dengan adanya manusia purba. Zaman Holosen/Alluvium berlangsung kira-kira 20.000 tahun yang lalu dan terus berkembang sampai dewasa ini. Pada zaman ini ditandai dengan munculnya manusia jenis Homo Sapiens yang memiliki cirri-ciri seperti manusia sekarang.

Awal kehidupan manusia di muka bumi ini diperkirakan mulai ada sejak zaman Kala Plestosen atau zaman Dilluvium. Zaman Kala Plestosen atau Dilluvium berlangsung kira-kira antara 3.000.000 sampai 10.000 tahun yang lalu. Zaman itu disebut juga zaman es (zaman glacial). Disebut zaman es karena pada masa itu suhu bumi sangat rendah dan gletser es dari daerah Kutub Utara mencair hingga menutupi sebagian Benua Eropa, Benua Asia, dan Benua Amerika. Selanjutnya, pecahan es tersebut menyebar kedaerah-daerah di sekelilingnya. Keadaan alam yang melatarbelakangi kehidupan masa Kala Plestosen ditandai oleh beberapa peristiwa alam yang memengaruhi kehidupan manusia. Misalnya, meluasnya permukaan es di sebagian permukaan bumi, perubahan iklim, naik-turunnya permukaan air laut, munculnya daratan-daratan baru dari dasar laut, letusan gunung berapi, dan timbulnya sungai dan danau.nmeluasnya permukaan es pada masa Plestosen menyebabkan turunnya permukaan air laut. Surutnya air laut disebabkan selama masa perluasan es, bagian terbesar dari wilayah perairan di dunia membeku. Peristiwa tersebut mengakibatkan permukaan air laut turun 100-150 meter dari permukaan semula dan munculnhya daratan baru akibat pendangkalan laut. Daratan baru ini kemudian menjadi jembatan darat bagi manusia dan hewan untuk berpindah tempat dalam usahanya mencari makanan atau menghindari bencana alam. Turunnya permukaan air laut tersebut menimbulkanndaratan baru yang berbentuk daratan rendah atau perbukitan. Pada masa Kala Plestosen, bagian barat Kepulaun Indonesia yang sudah mulai stabil pernah terhubung dengan daratan Asia Tenggara. Kepulauan Indonesia bagian timur yang belum stabil seperti Pulau Papua dan sekitarnya pernah terhubung dengan daratan Australia. Daratan yang menghubungkan Indonesia bagian barat dengan Asia Tenggara  Kontinental disebut Paparan Sunda (sunda shelf). Namun, ketika terjadi kenaikan suhu, maka es dari kutub utara mencair sehingga membentuk lautan yang luas dan menggelamkan sebagian daratan-daratan rendah yang telah terbentuk sebelumnya. Akhirnya, wilayah Indonesia bagian barat terpisah kembali dengan wilayah Asia daratan dan wilayah Indonesia Timur. Perubahan-perubahan alam tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan kehidupan manusia purba di Indonesia.
Terjadinya perubahan-perubahan alam di dunia memunculkan beberapa teori dan penemuan tentang asal mula manusia purba di Indonesia. Seorang sarjana bangsa Belanda bernama Eugene Dubois menyatakan bahwa manusia purba hidup di daerah tropi karena iklim di daerah tropis stabil. Hal itu dibuktikan dengan penemuannya berupa fosil Pithecanthropus Erectus (manusia kera berjalan tegak) di daerah Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Setelah penemuan yang cukup penting bagi ilmu sejarah oleh oleh Eugene Dubois tersebut muncullah penemuan fosil Meganthropus Palaeojavanicus  (manusia raksasa dari jawa) dan fosil manusia homo oleh sarjana Belanda bernama Von Koenigswald.