Monday, September 23, 2013

Menghitung Hujan part 12 by Santhy Agatha

.Itu untukku..itu bukan untukku...
Dia untukku...dia bukan untukku...
 
 
 
 
 
 
 
“Aku mengetahuinya tanpa sengaja. Beberapa waktu yang lalu.” Axel menatap Diandra lembut, setelah lama akhirnya Diandra bisa sedikit tenang dan mendengarkan Axel, “Waktu itu ayah dan ibumu sedang berbicara dengan nenek di dalam, mereka membicarakan tentang adopsimu dan sebuah kabar dari panti asuhan tempatmu dulu di adopsi.... mereka tampak cemas... “ Axel menghela napas panjang, “Tentu saja aku terkejut luar biasa, aku kemudian diam-diam pergi  sehingga sampai sekarangpun, mereka tidak tahu bahwa aku tahu.”

Diandra terdiam menatap Axel, tiba-tiba merasa ingin tahu. Laki-laki ini, yang seumur hidupnya dianggap sebagai kakak kesayangannya, sepupunya yang paling dekat.... menciumnya. Apakah yang ada di benak Axel?

Axel rupanya sadar bahwa Diandra sedang menebak-nebak perasaannya, dia tersenyum dengan rasa bersalah yang kental,

“Maafkan aku... sejak aku mengetahui kenyataan itu, aku.... aku melihatmu dengan cara berbeda, perasaanku tidak sama lagi, terlebih aku melihat betapa setianya kau merawat Reno... betapa kau akan menjadi isteri yang sempurna....dan betapa irinya aku kepada Reno.” Mata Axel bersinar redup, “Aku mencintaimu Diandra., mungkin aku terlambat menyadarinya, mungkin keadaan kita rumit karena bagaimanapun juga, secara hukum dan dalam pandangan masyarakat, kau adalah saudara sepupuku. Tetapi aku bahkan sudah berjanji dalam hati... waktu Reno masih sakit keras itu, dan waktu aku yakin bahwa usia Reno tidak akan lama lagi, aku berjanji dalam hatiku, ketika Reno meninggal nanti, aku bersedia menjadi penopangmu, akan kuserahkan dirimu untuk membahagiakanmu.”

Kali ini Axel tidak menutup-nutupi perasaannya lagi, dia menatap Diandra dengan tatapan yang lembut, penuh cinta yang meluap-luap, membuat Diandra merona dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Ah. Apakah yang diharapkan Axel darinya? Diandra masih merasa canggung, masih merasa bingung, Dia tidak mungkin menumbuhkan perasaan itu, ini terlalu mendadak apalagi seumur hidupnya dia tumbuh dengan menganggap Axel sebagai saudaranya..... meskipun apa yang akan terjadi nanti, Diandra tentu saja tidak mengetahuinya.

“Aku tidak mengharapkan apapun darimu Diandra, aku tidak akan memaksamu membalas cintaku.” Axel sekali lagi, seolah bisa membaca apa yang berkecamuk di benak Diandra, “Sudah cukup bagiku bisa mencintai dan menyayangimu...” Lelaki itu lalu menghela napas panjang, “Kurasa itulah yang mendorongku untuk menemui Nana dan menjelaskan semuanya tanpa seizinmu. Ketika kau menceritakan semuanya aku merasa begitu marah kepada Reno, dia menyia-nyiakanmu, dia sungguh tidak menyadari betapa beruntungnya dirinya itu, maafkan aku Diandra atas sikap impulsifku.”

Diandra menatap Axel ingin tahu,

“Bagaimana reaksi Nana ketika kau menjelaskan semuanya?”

Axel mengangkat bahunya, “Dia terkejut luar biasa tentu saja, kurasa dia bahkan tidak pernah menduganya sama sekali, dan dia juga tidak tahu kalau kekasihnya mendonorkan jantungnya. Kurasa aku sedikit merasa kasihan kepadanya, Reno sama sekali tidak mengatakan apapun kepadanya, dia juga tidak tahu tentang dirimu.”

Tatapan mata Diandra menerawang, rasanya sakit ketika mengingat betapa Reno marah kepadanya tadi. Nana pergi... entah kemana. Diandra menghela napas panjang. Mungkin ini yang seharusnya terjadi, mungkin ini sudah diatur Yang di Atas sebelumnya, bahwa Nana harus mengetahui kenyataan yang sebenarnya, bahwa Reno tidak bisa lama menyimpan seluruh kebenaran itu dari Nana.

Pikiran Diandra tiba-tiba teralihkan oleh sesuatu,

“Axel... kau bilang  pada waktu kau tahu bahwa aku anak angkat, kau mendengar mereka membicarakan tentang panti asuhanku.”

“Ya. Aku tidak tahu mereka membicarakan apa, yang aku tahu mereka menyebut-nyebut nama panti asuhanmu dan nama ibu pengurusnya, kalau tidak salah ibu Dewi, dan mendiskusikan sesuatu, aku rasa mereka sedang berdebat apakah mereka akan memberitahumu atau tidak.”

“Memberitahuku tentang apa?” Diandra tampak sangat tertarik, tetapi Axel menatapnya dengan menyesal,

“Aku tidak tahu Diandra, aku terlambat mencuri dengar, mungkin mereka ingin memberitahumu bahwa kau bukan anak kandung mereka?”

Kata-kata Axel itu, walaupun diucapkan tanpa maksud melukai hatinya, tetap saja membuat hati Diandra serasa diremas-remas. Axel menatap Diandra dan wajahnya tampak sedih,

“Maafkan aku Diandra, aku harap hal ini tidak membuatmu sedih, seperti yang aku bilang anak angkat atau bukan, kau tetap anak kesayangan orangtuamu, mereka mengasihimu seperti anak mereka sendiri. Dan dengan menjadi anak angkat, bukan berarti derajatmu turun, Diandra.”

Diandra menghela napas panjang,

“Tetapi bahkan aku tidak tahu asal usulku sendiri.”

“Kau tidak perlu terus-terusan menoleh ke masa lalu, bukankah yang terpenting adalah masa sekarang? Diandra yang sekarang adalah hasil didikan kasih sayang orangtuamu, tidak peduli darimana asal-usulmu.”

Diandra menggelengkan kepalanya,

“Tetap saja itu menjadikan sebuah lubang besar di hatiku.” Mata Diandra tampak pedih, membuat Axel ingin memeluknya dan mengambil semua kepedihan itu, “Axel, apa nama panti asuhan tempat aku diadopsi?”

Axel tampak ragu, “Kuarasa itu bukan keputusan bagus Diandra, mengorek-ngorek masa lalu hanya akan menambah luka batinmu.”

Diandra sekali lagi menggelengkan kepalanya, menatap Axel penuh tekad,

“Aku harus mengetahui asal-usulku Axel, kalau tidak aku akan hidup dengan bertanya-tanya, kenapa orang tua kandungku membuangku, kenapa aku berakhir di panti asuhan, anak siapakah aku?” Dia menatap Axel dengan tatapan mata mengancam, “Kalau kau tidak mau memberitahuku, aku akan mencari tahu sendiri.”

Axel menatap Diandra dan tahu betapa keras kepalanya perempuan ini, dia mendesah dan menghela napas panjang,

“Oke. Baiklah, asal kuberitahu, asalkan kau izinkan aku mendampingimu ke sana.”

***


“Apartemen Rangga?”

Reno menatap mama Nana dengan ragu. Itu adalah informasi yang tidak pernah diberitahukan kepadanya oleh Nana.

Mama Nana melempar pandang ke arah Nirina, dan Nirina menganggukkan kepalanya,

“Itu adalah warisan Rangga untuk Nana..... hanya saja sejak kecelakaan itu, Nana sama sekali tidak pernah mengunjunginya, aku rasa dia terlalu sedih untuk ke sana, seluruh tempat itu menyimpan kenangannya dengan Rangga.” Lanjut mama Nana kemudian,

Reno tertegun. Tempat kenangan Nana dengan Rangga, dia lalu bertanya-tanya ke dalam benaknya sendiri. Bagaimana dengan dia? Mampukah dia datang ke sana? Kemudian melihat tempat kenangan Nana dengan Rangga? Tempat pribadi Nana dengan Rangga yang bahkan tidak dibagi Nana bersamanya?

Tiba-tiba saja Reno merasakan cemburu yang mengusik hatinya, perasaan cemburu yang membuatnya merasa seperti orang ketiga, disingkirkan di luar lingkaran, sendirian.

“Saya akan ke sana.” Reno beranjak berdiri, merasakan jantungnya berdenyut kencang, “Semoga Nana ada di sana.”

“Kabari kami ya.” Mama Nana ikut beranjak, mengantarkan Reno sampai ke depan.

Setelah mobil Reno, mama Nana dan Nirina saling berpandangan, lalu keduanya menghela napas panjang.

***

“Di sini tempatnya.” Axel menatap layar GPS di mobilnya kemudian menoleh ke arah Diandra di sampingnya.

Diandra menatap ke arah panti asuhan itu, lokasi panti asuhan ini cukup sejuk, di kawasan dekat pegunungan yang terkenal dengan udaranya yang bersih dan dingin. Bangunannya meskipun bangunan tua, tetapi terawat dan rapi. Halamannya sangat luas, dinaungi oleh rindangnya pepohonan, ada beberapa ayunan di halaman itu.

Setelah menghela napas panjang, Diandra membuka pintu mobil,

“Ayo.” Gumamnya sambil turun dari mobil.

Axel mengikuti dibelakangnya, lalu menjajari langkahnya ketika mereka menyeberangi halaman yang luas itu.

Mereka sampai di teras depan panti asuhan itu, suasana tampak lengang. Apakah ini karena sudah memasuki jam tidur?  Ada lonceng kuno di sebelah pintu, mungkin difungsikan sebagai bel, Diandra menarik rantainya dan membunyikan lonceng itu.

Setelah tiga kali bunyi lonceng, baru ada gerakan dari dalam rumah. Sesosok wajah mengintip dari balik gorden, lalu tampak mengernyit karena tidak mengenali tamunya, tetapi pada akhirnya pintupun di buka.

Seorang perempuan berpakaian rapi, dengan rambut digulung ke belakang membuka pintu itu, usianya mungkin sudah lebih dari setengah abad dengan sebagian rambutnya yang memutih, walaupun begitu perempuan itu tampak sehat.

“Ada keperluan apa?” suaranya berwibawa sekaligus ramah.

Diandra menoleh ke arah Axel, tiba-tiba saja merasa gugup dan bingung harus berkata apa. Untunglah Axel kemudian mengambil alih,

“Mohon maaf kami mengganggu kesibukan ibu.” Axel bergumam dengan sopan, “Kami ke sini untuk membahas sesuatu yang penting, mungkin akan panjang, bolehkah kami masuk?”

Ibu itu menatap Axel dan Diandra berkali-kali, benaknya memberikan firasat. Memang ada beberapa kali kejadian, selama berpuluh-puluh tahun dia menjadi ibu Panti Asuhan ini, bahwa ada beberapa anak yang sudah dewasa datang kembali ke panti asuhan ini untuk menelusuri akarnya. Kadangkala Ibu panti asuhan bersedia membantu dengan berbagai pertimbangan, kadangkala dia bahkan tidak punya data apapun sehingga terpaksa membuat kecewa.

Matanya menelusuri sosok Axel dan Diandra. Sungguh pasangan yang cocok, batinnya.

Apakah salah satu dari mereka sesuai dengan dugaannya? Datang kemari untuk menelusuri akarnya?

*** 


Nana duduk di sofa itu, tepat di saat hatinya begitu perih, hujanpun turun dengan derasnya. Airmatanya langsung mengalir lagi, membasahi matanya yang sudah sedemikian sembabnya.

Dia duduk di sofa itu sendirian dan mulai menghitung hujan yang tetes demi tetesnya menampar jendela kaca yang besar itu. Dia menghitung hujan sendirian.

Jemarinya tanpa sadar mengelus tempat kosong di sebelahnya di sofa. Dulu Rangga sering duduk di sana, menghitung hujan bersamanya.

Hati Nana terasa pedih dan perih. Ingin rasanya agar waktu berhenti dan dunia menelannya, sehingga dia bisa duduk di sini, tidak perlu menghadapi orang-orang, tidak pelu menghadapi segala permasalahan pelik yang menimpa dan menghancurkannya, dan kemudian selamanya berdiam di apartemen ini dengan kenangannya bersama Rangga.

Rangga... kalau memang lelaki itu ditakdirkan kembali kepadanya, kenapa harus dengan kisah yang seperti ini?

Kenapa Rangga mendonorkan jantungnya tanpa memberitahu Nana? Kenapa Nana harus menghadapi kebenaran akan Reno, bukan dari Reno sendiri melainkan harus dari orang lain?

Bahkan sekarang Nana bertanya-tanya akan perasaannya pada Reno, menelaah hatinya sendiri dan kebingungan. Apakah cintanya selama ini kepada Reno, hanya merupakan peralihan rasa cintanya kepada Rangga?

Apakah dia mencintai Reno karena ada jantung Rangga di dalamnya? Kalau begitu, jikalau keadaan berbeda, jikalau Nana dipertemukan dengan Reno, tanpa ada jantung Rangga di dadanya, akankah Nana mencintai Reno?

Dan pertanyaan lainpun menggelitik di benaknya. Jikalau bukan jantung Rangga yang didonorkan kepada Reno, akankah Reno mengejar dan mencintainya? Ataukah lelaki itu menjalani kehidupan yang seharusnya? Menikah dan hidup bahagia dengan tunangannya?

Semua itu begitu kompleks dan membuat kepala Nana pening. Tetapi kemudian dia menghela napas panjang, tidak. Hubungannya dengan Reno tidak mungkin dilanjutkan. Ini tidak adil bagi Reno karena Nana bahkan tidak tahu dia mencintai Reno ataukah mencintai Rangga yang ada di dalam diri Reno, pun dengan Reno yang pasti juga tidak bisa menelaah, apakah Reno pribadi yang mencintai Nana, ataukah itu semua hanya karena jantung Rangga di dadanya?

Dan itu tidak adil pula bagi Dian... Diandra...Mata Nana menerawang, membayangkan betapa cantiknya mantan tunangan Reno itu. Pasti amat sangat menyakitkan bagi Diandra waktu itu ketika mereka berpapasan dulu, ketika itu Reno sedang menggandeng Nana. Dari cerita Axel, Nana bisa menyimpulkan betapa cintanya Diandra kepada Reno....dan kemudian Reno berubah ketika berganti jantung.

Semua ini memang tidak bisa dinalar oleh akar pikirannya. Tetapi setidaknya Nana sudah memutuskan.

Dia harus menolak Reno dan membuat lelaki itu menjauh, meskipun sekarang dadanya berdebar kencang, merasakan jantung Reno memanggil-manggilnya.

***


Reno memarkir mobilnya di parkiran apartemen itu, lalu sekali lagi melirik alamat yang diberikan oleh mama Nana dan di catat di ponselnya, dia menatap tulisan yang menerangkan lantai dan nomor apartemen Rangga, lalu menghela napas panjang dan menaiki lift,

Ketika lift berhenti di lantai yang dimaksudkannya, Reno melangkah memasuki lorong yang sepi. Gema kakinya bergemerisik di karpet tebal yang melapisi lorong itu.

Dan kemudian Reno berhenti di depan pintu kamar itu, pintu apartemen Rangga, tempat Nana dan Rangga dulu sering menghabiskan waktu bersama.

Nana ada di dalam sana, entah kenapa Reno mengetahuinya. Dari jantungnya yang berdenyut kencang sampai terasa sakit, dari perasaannya yang tiba-tiba meluap-luap.

Reno akan menjelaskan semuanya kepada Nana, dan kemudian siap untuk memohon kepada perempuan itu agar mau menerimanya.

Nana adalah segalanya untuknya, perempuan yang didebarkan oleh jantungnya. Reno harap Nana mau mengerti.

***


Ibu Dewi sang ibu Panti asuhan mendengarkan penjelasan Axel dan Diandra yang bergantian. Dia mencatat nama dan seluruh informasi yang diberikan oleh pasangan itu dalam benaknya, kemudian menganggukkan kepalanya,

“Saya ingat tentangmu Diandra... dan kalau memang bisa membantu, Saya senang bisa memberitahukan informasi untukmu. Memang kadangkala ada aturan yang mengikat saya yang melarang saya untuk sembarangan memberikan informasi terlebih kepada mantan anak di panti asuhan saya... tetapi kadangkala dengan pertimbangan tertentu, saya mau memberikan informasi untuk membantu sanga anak menemukan jati dirinya dan tidak bertanya-tanya lagi tentang asal usulnya.” Ibu Dewi kemudian merenung, tampak mengingat sesuatu, “Dan sebenarnya, saya pernah menghubungi orangtuamu untuk memberitahu informasi penting menyangkut dirimu, saya pikir waktu itu kau berhak tahu... tetapi melihat kau sekarang, saya menyimpulkan bahwa orang tuamu memilih untuk tidak memberitahumu.”

Diandra mengeryitkan keningnya,

“Informasi tentang apa, ibu?”