Monday, September 23, 2013

Menghitung Hujan Part 13 by Santhy Agatha

Mungkin saya akan menjelaskan tentang orangtuamu sebelumnya, Diandra.” Ibu Dewi tersenyum lembut, meminta Diandra untuk bersabar, “Saya harap itu bisa membantumu menerima semuanya nanti.”

Diandra hanya bisa menganggukkan kepalanya menunggu, meskipun hatinya penasaran setengah mati.

“Tidak seperti anak-anak lain kebanyakan di sini, sebenarnya kau cukup beruntung. Sebagian besar yang ada di sini merupakan anak buangan, tidak bisa melacak asal usulnya lagi, benar-benar tidak bisa menemukan asalnya. Tetapi aku bisa memastikan asal-usulmu.” Ibu Dewi melanjutkan, “Orangtuamu sebenarnya sangat menyayangimu, mereka memang tidak kaya tetapi mereka berusaha mencukupimu, itulah yang kutangkap dari petugas dinas sosial ketika mengantarkan bayimu kemari, sayangnya umur mereka tidak panjang dan mereka tidak punya sanak keluarga, sama-sama sebatang kara. Karena kejadian itu, para tetangga menemui dinas sosial dan diputuskan untuk menitipkanmu di sini. ”

“Orang tua saya sudah meninggal?” Diandra merasakan dadanya ditonjok keras-keras. Meskipun sudah menduga hal ini sebagai kenyataan yang paling buruk, tetap saja informasi ini menghentak batinnya.

“Ya Diandra, maafkan saya harus menceritakan kenyataan ini kepadamu. Tetapi setidaknya kau bisa merunut asal-usulmu, kau bukan anak buangan yang tidak jelas siapa asal usulnya. Mereka mengalami kecelakaan dan meninggal, saat itu usiamu tiga bulan, dan kau selamat dari kecelakaan itu.”


Ibu Dewi lalu berdiri, dan melangkah ke laci besi besar yang ada di sudut ruangan,

“Sebentar, sepertinya arsip lamapun masih tersimpan dengan rapi di sini.” Perempuan setengah baya itu tersenyum, “Saya selalu menjaga setiap arsip sebaik mungkin supaya ketika ada yang datang dan bertanya saya bisa membantu.”

Diandra dan Axel saling bertukar pandang, Axel yang mengetahui kesedihan yang menohok hati Diandra mengulurkan jemarinya dan meremas jemari Diandra dengan lembut, Diandra mendongakkan kepalanya dan menatap Axel, lalu tersenyum.

Meskipun pahit, Diandra bersyukur ada Axel yang mendampingi dan menopangnya di sini.

Memerlukan beberapa menit untuk mencari arsip lama itu, sampai kemudian Ibu Dewi mengeluarkan sebuah map yang berwarna biru dan membawanya ke meja.

“Ini arsip tentangmu Diandra, di sana ada foto dan nama orang tua kandungmu.”

Jemari Diandra bergetar ketika menerima map itu, dan kemudian dia membukanya. Matanya terpaku pada copy akte kelahiran lamanya, yang kertasnya sudah menguning dimakan usia.

Namanya Diandra, sama seperti namanya sekarang, rupanya orangtuanya... orangtua angkatnya memutuskan untuk tidak mengganti namanya.

Kemudian matanya menatap foto itu, foto yang tak kalah tuanya.... di sana ada ibu kandungnya yang sedang menggendongnya dalam senyuman, juga ayahnya yang merangkul ibunya.....

Kemudian Diandra mengernyit, di dalam foto itu, ayahnya merangkul anak lain.

Diandra mengangkat matanya dan menatap ke arah Ibu Dewi dengan berlumur pertanyaan.

Ibu Dewi juga menatap foto itu, lalu menghela napas panjang,

“Ya Diandra, kabar yang waktu itu membuatku menghubungi orangtuamu, kabar itu menyangkut kakakmu. Kau mempunyai seorang kakak,  anak di dalam foto itu adalah kakakmu.”

Wajah Diandra langsung pucat pasi dan kebingungan. Axel meremas tangannya lembut, dan jemari Diandra yang menatap foto itu makin bergetar.

Dia... punya seorang kakak?

***


“Nana?” Reno memanggil dengan lembut, berusaha mengetuk pintu itu dengan pelan. Dia sudah memencet bel yang ada di samping pintu, tetapi tetap saja tidak ada jawaban.

Suasana tetap hening, membuat Reno bertanya-tanya dalam hatinya, apakah jangan-jangan Nana tidak ada di sini? Kalau Nana tidak ada di sini, kemana lagikah Reno harus mencari Nana?

Lalu gerakan itu terdengar, suara langkah kaki yang lemah mendekati pintu. Harapan Reno langsung melambung tinggi.

“Nana, itukah kau sayang?”

Hening yang lama, kemudian suara Nana yang lemah menyahut dari dalam,

“Aku belum ingin berbicara denganmu, Reno.”

Reno menghela napas panjang, tahu pasti bahwa Nana akan sangat marah kepadanya,

“Nana... bagaimanapun juga kita harus berbicara.” Reno mendekatkan dirinya di depan pintu, “Izinkan aku masuk dan kita akan berbicara.”

“Tidak.” Nana menyahut tegas, dan tiba-tiba saja hati Reno terasa sakit. Apakah Nana tidak memperbolehkannya masuk karena marah akan kebohongannya, ataukah karena Nana tidak ingin kehadirannnya menodai kenangannya bersama Rangga?

“Kita harus bicara Nana, semarah apapun kau kepadaku, kau harus menghadapinya. Aku memang bersalah karena tidak menjelaskan semuanya kepadamu sebelumnya. Buka pintunya untukku Nana, aku mohon.”

Lama sekali tidak ada jawaban hingga Reno memutuskan untuk menyerah dan berbalik pergi, menerima kenyataan bahwa Nana mungkin belum siap untuk bicara kepadanya.

Setidaknya dia cukup lega mengetahui Nana berada di mana, dan bahwa kondisi Nana baik-baik saja....

Detik yang sama, ketika Reno memutuskan untuk pergi, terdengar suara handel pintu dibuka. Reno menunggu dengan penuh harap, dan pintu itupun akhirnya terbuka.

Nana berdiri di sana, menatapnya dengan mata sembab. Perempuan itu pasti sudah menangis begitu kuatnya. Tiba-tiba saja hati Reno terasa mencelos, perih. Dialah yang telah menyebabkan Nana menangis sampai seperti ini.

“Boleh aku masuk?” Tiba-tiba saja jantung Reno berdebar, mengantisipasi jawaban Nana.

Sebagai jawaban, Nana memundurkan tubuhnya dan memberikan kesempatan kepada Reno untuk masuk,

Reno melangkah memasuki ruangan itu, matanya mengitari seluruh ruangan. Udaranya masih terasa pengap, mungkin karena sudah sejak lama ruangan ini tidak dibuka. Tetapi Nana sepertinya sudah membuka tirai dan jendela sehingga sirkulasi udara segar sudah masuk, dan karena di luar sedang hujan, suasananya terasa sangat khas, suasana sendu yang kelabu.

Mata Reno melirik ke arah sofa besar yang sepertinya sengaja diarahkan supaya menghadap ke jendela. Dan tiba-tiba saja Reno tahu, dia tahu bahwa Nana dan Rangga sering menghabiskan waktu dengan duduk di sana, menghitung hujan bersama-sama.

“Boleh aku duduk?”

Nana menganggukkan kepalanya, kemudian memimpin langkah Reno menuju ke sofa lain, sofa yang berhadapan di bagian depan ruangan khusus untuk tamu. Reno kemudian duduk dan Nana mengambil tempat di seberangnya, membuat hati Reno sakit karena Nana memperlakukannya seperti orang asing.

“Pertama-tama aku ingin minta maaf Nana, maafkan aku karena menyimpan semua kebenaran ini darimu, maafkan aku karena membohongimu dan memilih untuk tidak mengungkapkannya sejak awal mula.....”

“Kau membohongiku.” Nana menyela, menatap Reno dengan mata penuh tuduhan dan Reno sendiri bahkan tidak bisa menyangkalnya, matanya menatap Nana dengan sedih,

“Memang, aku berbohong kepadamu, tetapi Nana, menurutmu apa yang harus kulakukan? Mana mungkin aku mendatangimu dan kemudian mengatakan, ‘Hai aku Reno, kau tahu tidak, aku menerima transplatasi jantung, dan coba tebak, jantung yang kuterima adalah jantung kekasihmu yang sudah meninggal.’ Tidak mungkin aku berkata begitu bukan?” Reno mengernyit, ekspresi wajahnya tampak kesakitan.

Nana tertegun, berusaha menelaah seluruh kata-kata Reno dan kemudian, mau tak mau dia menyadari kebenaran kalimat Reno. Tetapi bukankah setelah pertemuan mereka, dan kedekatan mereka kemudian, ada banyak sekali kesempatan bagi Reno untuk mengungkapkan kebenaran itu? bahkan Nana mengajak Reno ke makam Rangga bukan? Itu sebenarnya adalah momen yang tepat bagi Reno untuk bercerita.

“Aku tahu, kau pasti berpikir kenapa aku tidak mengungkapkannya lebih cepat, bahkan di saat kita begitu dekat dan bersama-sama.” Reno meremas rambutnya dengan frustrasi, “Aku bingung.”

Nana menatap Reno, dan kemudian mau tak mau matanya melirik ke arah dada kiri Reno.... menyadari bahwa di dalam situ ada jantung Rangga yang sedang berdetak di sana...

Oh Tuhan, kenapa kisah cintanya bisa sepelik ini?

Reno melirik ke arah Nana kemudian tersenyum pahit, jemarinya meraba dada kirinya, menghela napas panjang,

“Aku benar-benar kebingungan. Aku takut kalau aku mengungkapkan semuanya, kau akan bereaksi seperti ini, menjauh dariku dan pergi. Pada akhirnya aku memilih bersikap pengecut dengan tidak memberitahumu, mengulur-ngulur waktu dan berusaha menikmati kebersamaan kita, aku salah, maafkan aku.”

“Pengetahuan ini mengubah segalanya.” Ekspresi Nana tampak tegas, “Membuatku menyadari bahwa mungkin saja yang kucintai bukan dirimu, tapi Rangga. Aku mencintaimu karena melihat Rangga di dalam dirimu.”

Wajah Reno tampak pucat pasi ketika mendengar kata-kata Nana. Tentu saja. Kemungkinan itu selalu terlintas di benaknya, membuatnya selalu bertanya-tanya, menebak-nebak apakah Nana mencintainya, ataukah Nana mencintainya hanya karena jantung ini ada di dalam tubuhnya? Tetapi pada akhirnya Reno menyerah pada perasaannya,

“Aku tidak peduli. Satu hal yang harus kau tahu pasti, aku tidak peduli Nana. Jantungku ini meneriakkan namamu, tetapi bukan hanya itu, jiwaku ini, pikiranku ini, semuanya hanya berisi tentangmu, mungkin dulu aku tertarik kepadamu karena jantung ini, tetapi kau harus tahu, bahwa kemudian, ketika aku mengenalmu, semakin dalam dan semakin dekat, aku benar-benar mencintaimu, bukan hanya jantungku tetapi seluruh diriku, jiwa dan ragaku. Dan kalau kemudian kau hanya mencintai jantung ini, bagiku itu cukup. Cintaku kepadamu terlalu besar, cukup untuk menanggungkannya.”

Reno menatap Nana, berusaha membaca ekspresi Nana, tetapi perempuan itu hanya memasang ekspresi kosong. Dia kemudian melanjutkan.

“Kau tahu, aku sering berpikir, kalau kisah tentangku ini ditulis dalam bentuk buku, aku yakin bahwa aku akan dipandang sebagai tokoh antagonis, sebagai sosok yang dihujat semua orang... karena sikapku yang egois, meninggalkan tunanganku begitu saja, tunangan yang begitu setia dan tidak salah apa-apa.” Reno menghela napas panjang, “... aku tahu bahwa apa yang kulakukan memang tampaknya tidak bisa dijelaskan oleh nalar bagi kebanyakan orang... terlalu pelik, yang terlihat hanyalah keegoisanku, melukai hati orang lain hanya untuk mendapatkan yang kuinginkan.” Lelaki itu menyandarkan tubuhnya di sofa dan tampak pasrah, “Tetapi beginilah aku, inilah aku apa adanya, Reno yang jahat dan egois, Reno yang tak punya hati, meninggalkan tunangannya, menyakitinya sedemikian rupa tanpa alasan logis, hanya untuk mengejar perempuan yang didebarkan oleh jantungnya. Beginilah diriku Nana... entah kau menerimanya atau tidak. Aku Reno dan ada jantung Rangga di dalam tubuhku dan yang paling penting, aku mencintaimu.”

Nana tertegun mendengar ungkapan perasaan Reno itu, dia merasakan dadanya sesak, air matanya yang memaksa mengalir, membuat matanya terasa panas. Tetapi kemudian Nana menggelengkan kepalanya,

“Tetap saja semua ini tidak adil untukmu Reno. Semula aku berpikir bahwa aku bisa beranjak dari Rangga dan kemudian membuka hati untukmu, tetapi ternyata aku salah. Aku kembali lagi kepada Rangga, aku ternyata tidak pernah beranjak darinya, dan aku tak akan membiarkanmu merelakan diri sebagai pengganti Rangga.” Nana menghela napas panjang, sebutir bening mengalir dari sudut matanya, ke pipinya, “Pergilah Reno jalani kehidupanmu sendiri, kau memang membawa jantung Rangga tetapi kau bukan Rangga, kau adalah Reno. Kau harus bisa memisahkan kenangan lama dan kenangan baru. Aku yakin Reno memiliki cinta sejati yang ada di hatinya, dan aku yakin, jantung Rangga akan bisa mengikuti hati Reno dan kemudian menjadi jantung Reno.”

Wajah Reno makin pucat dan ekspresinya tampak kesakitan, seolah-olah Nana telah menorehkan garam di lukanya yang menganga,

“Aku pikir kau mengerti.... aku pikir kau yang paling mengerti...” senyum Reno tampak miris, menahankan kepedihannya, “Ternyata kau sama saja seperti yang lain, kau tidak mengerti atau mungkin kau tidak mau mengerti.” Reno tertawa pahit, dan kemudian beranjak berdiri, “Kurasa aku sendiri sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, kurasa aku memang ditakdirkan hanya untuk menyakiti orang lain dan kemudian melukai diriku sendiri. Kau akan mendapatkan yang kau mau Nana, dunia tanpa aku di dalamnya, dan aku akan membawa jantung Rangga pergi bersamaku.”

Tanpa menunggu jawaban Nana, Reno membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, meninggalkan Nana dalam keheningan yang menyesakkan dadanya.

***

Sepeninggal Reno, Nana berpindah, duduk di sofa kesayangan itu sambil menatap tetes-tetes hujan yang mulai reda.

Ini yang terbaik, gumamnya meyakinkan dirinya sendiri. Suatu saat nanti Reno pasti menyadari bahwa apa yang diputuskan oleh Nana ini adalah demi kebaikannya.

Reno berhak menemukan perempuan yang mencintai dirinya yang sebenarnya, bukan perempuan yang bahkan tidak tahu siapa yang dicintainya sekarang.

Meskipun entah kenapa dadanya terasa sakit, perih dan sesak, seperti patah hati.

Nana mendesah, menyandarkan tubuhnya di sofa....

Lalu tiba-tiba kalimat terakhir Reno sebelum pergi terngiang di kepalanya, muncul begitu saja.

Kau akan mendapatkan yang kau mau Nana, dunia tanpa aku di dalamnya, dan aku akan membawa jantung Rangga pergi bersamaku......

Firasat buruk langsung menyergapnya begitu saja, membuatnya duduk tegak dengan mata membelalak, jantungnya langsung berdebar.

Dan kemudian, dengan langkah cepat, Nana meraih jaketnya dan berlari tergesa keluar apartemen, napasnya terengah dan air matanya mengalir.

Reno!

Nana memanggil, dengan seluruh kengerian yang menyelimuti benaknya.

***


Reno mengemudikan mobilnya di jalanan yang sepi dan berliku itu, matanya basah, basah karena sakit dan patah hati.

Jantungnya berdenyut kencang, menyakitkannya.

Reno melirik ke arah dadanya dan kemudian tersenyum pahit,

Kau tidak mau mati lagi bukan Rangga? Aku sebenarnya juga. Tetapi buat apa kita bertahan kalau kita sudah tidak diinginkan?

Tidak. Tetapi bagaimanapun juga, seberapapun putus asa menderanya, Reno memang tidak ingin mati. Dia sudah pernah merasakan bagaimana hidup tanpa harapan untuk bertahan, berdoa setiap malam supaya diberikan kesempatan menjalani hidup lebih lama, lebih panjang.

Dan Reno tidak akan pernah membuang kesempatan yang diberikan Tuhan kepadanya, dia tidak mau menjadi orang yang tidak tahu bersyukur, dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan kepadanya.

Meskipun terasa sakit, Reno akan bertahan. Meskipun jantung yang menjadi penyelamatnya ini membawanya kepada kisah cinta yang pelik, Reno akan berjuang. Mungkin saat ini dia kalah, tetapi bukan berarti dia menyerah.

Ketika benaknya berkelana, tiba-tiba saja dibalik tirai hujan, muncul sesosok mahluk kecil berkaki empat, mungkin kucing, yang tiba-tiba saja melompat ke jalan.

Reno kaget, dia membanting stir ke samping, malangnya karena jalanan licin, bannya selip dan Reno kehilangan kendali atas mobilnya.

Suara berdecit yang keras terdengar, dan suara tubrukan yang menggetarkan telinga menyusul kemudian.

No comments:

Post a Comment