Monday, September 23, 2013

Menghitung Hujan Part 15 by Santhy Agatha

Minggu, 02 Juni 2013

Menghitung Hujan Part 15


Menghitung hujan dengan percaya, bahwa suatu hari kan menemukan bahagia
Kau aku dan mimpi untuk memeluk sang belahan jiwa.
Yang dengannya jantung ini berdebar lebih kencang
Kau dan aku. Kita selalu bersama.
Bangun sayang, lepaskan mimpimu
Ada aku di sini, di dunia nyata
Menunggu untuk mencintaimu.



Langkah Nana langsung terhenti, dia tertegun dan kemudian menatap Diandra dengan pilu. Ada lelaki itu, Axel.. lelaki yang menemuinya di kampus dan mengungkapkan semuanya kepada Diandra. Lelaki itu sekarang berdiri di sebelah Diandra, lengannya merangkul perempuan itu seakan menopangnya.

Apa yang harus dia lakukan sekarang?

Tetapi pada detik yang sama, Diandra menoleh dan menatap Nana yang berdiri tertegun di ujung koridor, perempuan itu tampak sama terkejutnya dengan Nana, ekspresinya berubah jadi pucat pasi, sementara Nana sendiri berdiri di sana dengan bingung, tak tahu harus berbuat dan berkata apa.
Sementara itu, Nirina menoleh ke arah Nana yang membeku dan menatap bingung, tetapi kemudian dia tidak peduli, dengan cepat digandengnya Nana mendekat,

“Dokter, apakah yang ada di sana Reno, teman saya?” Nirina bergumam cepat, menyela percakapan Dokter itu yang sepertinya sedang menjelaskan sesuatu kepada Diandra,

Dokter itu menoleh, menatap Nirina dengan bingung, sementara itu Nana berdiri di belakang Nirina dengan wajah merah padam, sedikit kebingungan.

“Oh... teman Reno.” Dokter itu tersenyum, “Reno tidak apa-apa nona, tetapi kaki kanannya patah sehingga untuk sementara setelah kami melakukan operasi, dia harus duduk di kursi roda, selain itu kami telah memeriksa seluruhnya, ada beberapa memar, tetapi tidak ada gegar otak.” Dokter itu lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah Diandra, “Kami akan menunggu kedatangan orang tua tunangan anda, untuk menjelaskan dengan lebih terperinci .”

“Ya, mama dan papa akan segera datang.” Diandra segera menjawab, berusaha tidak peduli akan keterkejutan di mata Nana ketika dokter itu menyebut Diandra sebagai tunangan Reno. Ya. Diandra memang memperkenalkan diri kepada dokter itu sebagai tunangan Reno, meskipun dia tadi merasa Axel sedikit menegang di sebelahnya ketika dia mengatakan itu.

Diandra lalu menyalami dokter itu, mengucapkan terima kasih dan kemudian dokter itu berpamitan pergi.

Sementara itu mereka berempat berdiri dengan canggung di ruangan itu, dalam keheningan. Dalam kamar yang berdinding kaca, nampak Reno yang masih tak sadarkan diri berbaring diam dalam ketidaksadarannya. Nirina sendiri menjadi canggung ketika mendengar dokter tadi menyebut perempuan di depannya itu sebagai tunangan Reno. Seketika Nirina sadar kalau perempuan itu adalah Diandra, tunangan yang ditinggalkan Reno demi mengejar Nana.

Lama sekali keheningan yang menyesakkan itu, Nana dan Diandra sama-sama membeku, dalam suasana yang canggung, sampai akhirnya Axel berdehem memecah suasana,

“Eh... kami rasa kami akan duduk di sebelah sana.” Axel setengah menghela Diandra ke arah kursi tunggu di ujung di dekat pintu kamar Reno. Mereka memang belum diizinkan masuk dan mengunjungi Reno karena lelaki itu masih dalam penanganan.

Mata Nana mengikuti ke arah Diandra, yang menghindari kontak mata dengannya dan ke arah Axel yang berjalan di sampingnya dan kemudian mengajaknya duduk di kursi itu.

Sampai kemudian Nirina menyenggol tangannya, mereka saling bertukar pandang penuh pengertian,

“Ayo kita duduk di sebelah situ.” Nirina mengajak Nana duduk di kursi tunggu lain yang agak jauh dari tempat Axel dan Diandra duduk.

Dalam hati Nana sungguh bersyukur karena tadi dia bersama Nirina, tak bisa dibayangkan betapa canggungnya dia tadi kalau datang ke sini sendirian, mungkin Nana akan benar-benar bingung dan membeku saja.

Sebelum duduk, Nana menoleh ke arah Reno yang terbaring di ranjang itu, dengan mata terpejam lelap. Rasa syukur membanjiri tubuh Nana, begitu lega rasanya melihat Reno masih ada di sana, masih hidup..... dan masih memberikan Nana kesempatan untuk menenbus kesalahannya.

Mereka kemudian duduk dalam diam, dan menunggu. Nana sibuk dengan pikirannya sendiri, dan merenung, kehadiran Diandra menyadarkannya, bahwa selain masalah Rangga, masih ada hubungan Reno dengan Diandra yang membuat Nana merasa ragu untuk melangkah. Dari kisah Axel, Nana tahu bahwa Reno telah sangat menyakiti Diandra, bahwa Reno telah bersikap tidak adil kepada perempuan itu. Bahwa Diandra seharusnya berhak mendapatkan kebahagiaan seperti yang diimpikannya...... sebelum semua keadaan berubah.

Nana mengernyit, tidak bisa membayangkan kalau dia yang berada di posisi Diandra, dia pasti akan hancur lebur dan tak kuat lagi. Nana masih beruntung, Rangga meninggalkannya karena takdir, setidaknya Rangga meninggalkannya dengan masih membawa cinta dan setianya, sementara itu Diandra ditinggalkan dengan alasan kejam bahwa Reno tidak mencintainya lagi.

Benar-benar... Nana sangat mengagumi ketegaran Diandra, perempuan itu masih kuat berdiri di sana, menunggui Reno, menjaga dan mengejar cinta sejatinya. Nana tidak akan pernah bisa sekuat dan setegar Diandra, dan mungkin juga, cinta Nana bahkan tidak akan bisa menyaingi besarnya cinta Diandra kepada Reno.

Dan perempuan itu bahkan tidak menyerangnya, melemparkan tatapan mata penuh kebencian atau mencacimakinya.... Nana menghela napas panjang, meskipun dia tidak bersalah langsung dalam hal ini karena sebelumnya dia tidak tahu apa-apa, tetapi tetap saja kehadiran Nana yang menjadi ganjalan, yang menjadi pemisah antara Nana dan Diandra.

Mungkin seharusnya Diandra memang mencacimaki Nana.... kalau saja Nana tidak ada di dunia ini, kalau saja dalam keputusasaannya waktu itu Nana memilih mengikuti Rangga, mungkin Diandra dan Reno akan baik-baik saja....

Sebutir air mata menetes dari sudut mata Nana, tetapi kemudian dia menyusutnya dalam diam yang pilu.

***

“Kau tidak apa-apa?” Axel berbisik pelan kepada Diandra, melirik sedikit ke arah Nirina dan Nana yang duduk agak jauh di seberang sana dalam diam.

Diandra menatap Axel penuh arti lalu menghela napas panjang,

“Aku tidak apa-apa. Aku lebih memikirkan Reno, karena dia belum sadar juga.”

“Reno pasti baik-baik saja, kau dengar kan kata dokter tadi?” Axel tampak merenung, tetapi kemudian dia bertanya, “Kenapa kau mengatakan kepada dokter itu bahwa kau tunangan Reno? Apakah kau.... “ Axel menelan ludahnya, “Apakah dalam hatimu kau masih merasa menjadi tunangan Reno? Masih berharap pertunangan kalian akan berlanjut?” Ada nada pahit di sana, di dalam suara Axel, setelah menyatakan perasaannya secara terang-terangan kepada Diandra, Axel juga tidak menutup-nutupi kecemburuannya.

Diandra melemparkan tatapan tegas ke Axel.

“Dengan mengaku tunangannya..... dokter akan menganggapku keluarga, jadi dia akan memberikan informasi yang lebih mendetail.”

Axel menatap jawaban diplomatis Diandra dengan tatapan tak percaya,

“Bagaimana dengan pertanyaanku? Apakah jauh di dalam hatimu kau masih menganggap Reno sebagai tunanganmu?”

“Aku tidak mau menjawab pertanyaanmu itu sekarang Axel, jangan sekarang.” Sela Diandra cepat, membuat Axel mengehela napas panjang.

Oke. Sekarang dia akan bersabar dengan Diandranya.

***

Reno bermimpi. Mimpi yang sangat dalam dan jauh. Dia sampai di taman itu dan duduk di sana kebingungan.

Lalu seorang lelaki asing tiba-tiba saja duduk di sebelahnya, semula Reno tidak menyadari siapa dia, tetapi ketika dia mengingat, wajah itu... dan foto sekilas yang pernah dilihatnya dari hasil penelusurannya....

Rangga....

Benarkah dia bertemu Rangga? Kalau begitu dia sudah mati?

Rangga tersenyum ke arah Reno dan kemudian bergumam tenang,

“Pulanglah Reno. Semua akan baik-baik saja.”

Reno tersentak, dan kemudian merasakan dirinya tersedot ke dalam gumpalan putih yang merenggut kesadarannya...

***

 “Diandra!”

Itu suara mama Reno, perempuan setengah baya itu berjalan tergesa menghampiri Diandra, Diandra segera berdiri dan memeluknya,

“Bagaimana Reno?” air mata mama Reno berderai. “Kau sudah lama di sini sayang?”. Tadi Diandra berusaha menghubungi mama Reno setelah menerima kabar dari dokter, tetapi teleponnya tidak tersambung. Jadi pantas saja kalau mama Reno benar-benar panik sekarang.

“Reno tidak apa-apa mama, tidak ada gegar otak, memar-memar meamang ada di seluruh tubuhnya, dan kakinya patah.”

“Astaga.” Mama Reno terisak lagi, dan papa Reno menggenggam jemarinya dengan lembur memberi kekuatan, “Bisakah kita menengoknya?” mama Reno melangkah ke jendela kaca besar tempat Reno terbaring di atas ranjang di dalamnya, “Bisakah kita menengoknya?”

“Tadi masih belum boleh mama;” gumam Diandra pelan, “Kata dokter, Reno masih dalam penanganan dan persiapan untuk operasi pemasangan pen untuk tulangnya yang patah setelah kondisinya stabil. Dan juga Reno belum sadar, mungkin lebih baik kita menemui dokter sekarang, dokter bilang ingin bicara dengan mama dan papa untuk membahas kondisi Reno.”

“Oke kalau begitu kita ke sana.” Mama Reno merangkul Diandra, dan kemudian berjalan ke lorong dan melewati Nana yang duduk di sana.

Tidak sekalipun mama Reno menoleh ke arah Nana, hanya Diandra yang sedikit melemparkan pandangan tak tertebak ke arah Nana. Ketika mama dan papa Reno beserta Diandra dan Axel melangkah pergi, Nana menatap mereka semua sampai di ujung lorong dan benar-benar merasa seperti orang luar yang tak berhak berada di sana.

Ah Ya Tuhan, apakah memang ini bukan tempatnya?

***

Reno membuka matanya seketika itu juga dan megerang. Rasa sakit menderanya dan dia merasa pening. Reno memandang ke sekeliling ruangan dan menyadari dia berada di rumah sakit.

Ingatannya membayang mundur dan dia ingat, dia menyetir dengan kalut pulang dari apartemen Rangga setelah Nana menolaknya, dan kemudian kecelakaan itu terjadi.

Kakinya terasa sakit, dan berat, dengan hati-hati Reno mengangkat kepalanya dan melihat bahwa sebelah kakinya digantung dengan gips besar di sana.

Yah, dia telah berbuat bodoh, kurang hati-hati menyetir dan melukai kakinya sendiri. Reno membatin, dan kemudian tiba-tiba teringat akan mimpinya. Mimpi dengan Rangga di dalamnya.

Benaknya berusaha mencari jawaban, apakah itu benar-benar Rangga yang sesungguhnya yang muncul di mimpinya? Ataukah itu hanya manifestasi dari seluruh pikirannya yang berkecamuk? Mungkin di alam bawah sadarnya, Reno mengharapkan restu dari Rangga. Restu dari Rangga untuk mencintai Nana...

Nana..... tiba-tiba Reno merasa pusing di kepalanya, kalau Nana tahu dia mengalami kecelakaan, perempuan itu pasti mengira dia sedang berusaha berbuat bodoh dengan mencoba bunuh diri atau apa. Semoga Reno bisa segera menemui Nana dan menjelaskan semuanya....

Pintu terbuka dan seorang suster masuk, menyadari bahwa Reno sudah sadarkan diri,

“Anda sudah bangun rupanya.” Suster yang ramah itu tersenyum, “Anda harus benar-benar bersyukur karena selain kaki anda, tidak ada luka serius lain yang menimpa anda. Orang tua anda sudah datang dan sedang berkonsultasi dengan dokter, juga tunangan anda yang cantik. Saya akan memanggilkan mereka untuk menemui anda.”

Suster itu lalu pergi, tidak memberi Reno kesempatan untuk bertanya tentang satu pertanyaan yang menggayuti batinnya.

Suster itu tadi bilang tunangannya yang cantik menunggu di luar, dia hampir seratus persen yakin bahwa itu adalah Diandra.... tetapi benaknya mempertanyakan wanita lain, Nana... adakah Nana di luar sana untuknya?

***

“Kami sebenarnya ingin membawa Reno kembali ke Jakarta.” Mama Reno bergumam setelah mendengar penjelasan dari dokter. Mama dan papa Reno duduk di meja di depan meja dokter, sementara Diandra dan Axel duduk di kursi yang tersedia di belakang, menempel di tembok.

Dokter itu menggelengkan kepalanya,

“Saya rasa pasien harus tetap di sini sampai kondisinya pulih benar. Anda bisa membawanya pulang setelahnya.”

Mama Reno menghela napas panjang, dia amat sangat ingin membawa Reno pulang. Berada di kota ini sepertinya telah sangat membuat Reno jauh dari keluarganya, sejak kejadian dia memaksa Reno agar menerima Diandra, hubungannya dengan Reno menjadi renggang, putera satu-satunya itu menjauh, hampir tidak pernah menghubunginya kalau tidak benar-benar perlu.

Mama Reno tahu dia terlalu memaksakan hati Reno. Matanya melirik ke arah Diandra yang sedang duduk, tampak sama-sama cemas dengannya dengan saudara sepupunya yang menemaninya. Ya ampun, tidakkah semua mama di dunia ingin mempunyai menanti seperti Diandra? Menantu yang begitu cantik dan berhati baik? Mama Reno jelas-jelas menginginkan Diandra menjadi menantunya. Dia telah amat sangat mengenal Diandra karena perempuan itu adalah anak dari sahabatnya. Mama Reno bahkan sudah menggendong Diandra sejak anak itu masih kecil.

Perjodohan Diandra dengan Reno adalah impiannya, pada akhirnya dia akan menjadikan Diandra sebagai puteri kesayangannya. Mama Reno yakin Diandra adalah perempuan yang paling baik untuk Reno, karena mama Reno sangat mengenal Diandra.... jauh sekali dari perempuan tidak jelas itu, perempuan yang katanya didebarkan oleh jantung Reno dan dikejarnya setengah mati.... perempuan seperti apakah yang bernama Nana itu? Akankah dia menjadi yang baik? Dan lagipula, apakah dia perempuan baik-baik?

Dari yang diceritakan Reno, laki-laki bernama Rangga yang sekarang jantungnya ada di dada Reno itu adalah kekasih Nana, yang hampir membawanya ke jenjang pernikahan sebelum meninggal. Mama Reno tidak bisa untuk tidak bertanya-tanya sejauh apa hubungan Rangga dengan Nana itu, dia dipenuhi ketidakyakinan, karena sebelum bertemu Reno, Nana sudah meletakkan hatinya kepada Rangga. Berbeda dengan Diandra, Diandra yang polos dan suci, yang sejak awal meletakkan hatinya hanya untuk Reno.

Seorang suster mengetuk pintu dan kemudian membawa kabar yang sudah sangat ditunggu-tunggu oleh semuanya,

“Dokter pasiennya sudah sadarkan diri.”

***

Nana masih duduk di sana, merenung. Sebenarnya dia ingin berdiri dan mengintip ke dalam kamar tempat Reno berbaring, tetapi batinnya tak kuat. Perasaan sedihnya akan meledak kalau dia melihat lagi kondisi Reno yang terbaring tak berdaya di atas ranjang seperti itu.

Tiba-tiba rombongan itu datang lagi dari ujung lorong, Nana dan Nirina yang sejak tadi terdiam langsung menegang.

Apa yang terjadi? 

“Kalian hanya boleh menemui pasien satu-satu. Dan jangan terlalu banyak, kalau bisa hanya dua orang saja ya, kondisi pasien masih lemah dan kami tidak ingin dia terlalu lelah.”

Mama Reno mengangguk, Nana melihat perempuan itu menyusut air matanya. Kelegaan memenuhi benak Nana, itu berarti Reno sudah sadarkan diri....

Mama Reno yang masuk pertama kali ke dalam sana, dan Nana menatap mereka semua, dorongan batinnya membuatnya ingin ke sana, memaksa ikut melihat Reno, tetapi dia tidak berani. Dia benar-benar seperti orang luar di sana, tidak bisa masuk ke dalam lingkaran keluarga itu.

Setelah agak lama, mama Reno keluar, tatapan matanya tampak tenang dan bahagia, tidak secemas tadi, dia kemudian meremas bahu Diandra dengan lembut,

“Masuklah Diandra.” Gumam mama Reno lembut. Diandra tampak terkejut, menatap ke arah papa Reno,

“Tapi... papa...?”

“Papa tidak apa-apa, kesempatan papa akan datang nanti setelah kondisi Reno lebih baik, lagipula papa sudah cukup senang melihat mamamu yang sekarang tampak tenang. Ayo masuklah Diandra, kami tahu kau pasti sangat ingin melihat Reno langsung.”

Diandra sangat ingin tentu saja, meskipun dia tidak tahu bagaimana reaksi Reno nanti. Dan juga, dia menerima tatapan mata tajam dan menusuk dari Axel di punggungnya.

“Baiklah, aku akan masuk.” Diandra memeluk mama Reno penuh rasa terimakasih, lalu membuka handel pintu dan melangkah masuk.

Sementara itu Nana memandang, berusaha menyingkirkan perasaan iri di benaknya. Ah ya ampun... betapa inginnya Nana menjadi seseorang yang berada di sana, bisa menengok Reno secara langsung, tetapi dia tidak berhak... dia sungguh tidak berhak....

Nirina memeluk pundaknya dan meremasnya, ketika Nana mendongak menatap Nirina dengan tatapan mata berkaca-kaca, Nirina memberinya tatapan penuh semangat. Nana akhirnya tersenyum dan menghela napas panjang.

Yah.. dia tidak boleh bersedih karena ini. Bukankah yang terpenting adalah Reno baik-baik saja dan sudah sadar di dalam sana?

***

Reno mengernyit ketika melihat Diandra masuk. Perempuan itu menarik kursi dan duduk di sebelah ranjangnya,

“Hai, bagaimana perasaanmu?”

Reno mencoba tersenyum meskipun sakit, “Pusing.” Gumamnya singkat. “Terimakasih telah menungguiku di sini, Diandra.”

Kali ini giliran Diandra yang tersenyum pahit,

“Aku tahu aku bukanlah orang yang kau inginkan untuk berada di sini. Tetapi aku ingin ada di sini Reno. Aku ingin memastikan kau baik-baik saja. Kau tahu bukan bahwa aku sangat mencemaskanmu?.”

Reno menghela napas panjang, “Terimakasih Diandra... aku.. sepertinya aku baik-baik saja.”

“Kakimu patah dan di gips.” Diandra melirik ke arah kaki Reno yang dibalut gips besar.

Reno melirik ke arah yang sama dan menghela napas, “Yah, memang, kurasa aku harus membawa gips itu kemana-mana nantinya.”

“Kau tidak akan bisa kemana-mana.” Diandra setengah tersenyum, “Dokter bilang kau harus memakai kursi roda sementara sampai kakimu sembuh.”

Itu berarti Reno akan menjadi manusiainvalid yang bergantung pada orang lain sampai dia bisa berjalan lagi. Reno mengernyit, tidak senang dengan ide itu.

“Aku bisa saja merawatmu kalau kau mau.” Diandra tersenyum, “Tapi sekali lagi aku tahu, bukan aku yang kau inginkan.”

Mata Reno menatap mata Diandra yang lembut itu dan kemudian tersenyum sedih.

“Aku sungguh beruntung dicintai perempuan sepertimu Diandra, sungguh-sungguh beruntung. Cintamu begitu tulus, bahkan setelah seluruh perlakuan kejamku kepadamu. Aku memang manusia jahat dan tak berperasaan, melupakan bahwa kaulah yang paling terluka di sini.” Reno mengernyit sedih, “Maafkan aku Diandra, sungguh mungkin aku tidak pantas memohon maaf kepadamu. Aku benar-benar berdosa kepadamu. Tetapi hanya itu yang bisa kukatakan kepadamu. Aku minta maaf.”

Diandra menatap Reno dengan mata berkaca-kaca.

“Mungkin dari awal aku sudah memaafkanmu.” Perempuan itu menghela napas panjang, “Hanya saja harga diriku terlalu tinggi untuk melepasmu begitu saja.” Suaranya bergetar, “Aku sudah menelaah jauh ke dalam hatiku Reno, dan kemudian aku merasakan sesuatu, perasaanku kepadamu mungkin bukanlah cinta yang sesungguhnya. Sejak kecil kedua orang tua kita telah mengkondisikan kita sebagai pasangan. Aku tumbuh besar dengan mengetahui bahwa kau akan menjadi suamiku. Aku kemudian mematrikan itu dalam benakku dan menjadikannya tujuan hidupku. Seluruh pengabdianku padamu itu karena aku menganggap bahwa aku akan melakukan segalanya untuk meraih tujuan hidupku itu, menjadi isterimu.” Diandra menatap Reno dengan tatapan mata kuat, “Segera setelah kau meninggalkanku, aku menyadari Reno, bahwa ternyata aku tidak mencintaimu sedalam itu, kau lebih seperti sebuah tujuan yang harus kuraih, sebuah obesi, bukan cinta. Jadi mungkin sekarang kau bisa tenang karena aku sudah melepaskanmu seutuhnya.”

Reno tercengang mendengar kata-kata Diandra yang tidak disangkanya itu, matanya melebar kebingungan.

“Benarkah apa yang kau katakan itu Diandra?” jadi selama ini Diandra tidak mencintainya?

“Ya Reno, jadi kau bisa tenang, dan ngomong-ngomong, orang yang sangat kau nantikan, dia ada di depan menungguimu di sana, sama cemasnya seperti kami. Mungkin nanti kau bisa bertemu dengannya.” Diandra bangkit, lalu mengecup dahi Reno dengan lembut, “Cepatlah pulih seperti sediakala dan raihlah kebahagiaanmu, Reno. Aku sendiri akan mencoba meraih kebahagiaan milikku.”

Setelah mengucapkan kata-kata perpisahan yang lembut, Diandra melangkah keluar dari kamar itu. Meninggalkan Reno yang terpaku, tak bisa berkata-kata.

Reno tidak melihat betapa mata Diandra berkaca-kaca, terasa panas menangan tangis yang  hendak merebak karena patah hati.

***

Ketika Diandra keluar dari ruangan, mama Reno masih berdiri di sana dan langsung tersenyum begitu melihatnya,

“Mama.” Diandra langsung bergumam sebelum mama Reno sempat berkata-kata, dia langsung mengedikkan kepalanya ke arah Nana, membuat mama Reno menoleh ke sana, menatap dua orang perempuan yang duduk di sudut yang hening dengan ekspresi cemas, “Yang di sana itu Nana, kurasa dia ingin menengok Reno juga.”

Ekspresi kaget tampak di wajah semua orang, tak terkecuali Axel, Nana sendiri dan Nirina.


Apa kata Diandra tadi?