Saturday, September 21, 2013

Menghitung Hujan Part 4 by Santhy Agatha

"Aku tidak bisa datang, maafkan aku Diandra." Reno mengeraskan hatinya. Diandra harus belajar kuat tanpanya. Kalau setiap Diandra lemah dan Reno datang, Diandra akan terus bergantung kepadanya, hatinya akan semakin sakit dan semakin menderita.

Reno menyayangi Diandra. Hanya itu. Pertunangan mereka bertahun lamanya, persahabatan mereka dari kecil hanya menyisakan satu hal di dada Reno : rasa sayang. Debar itu sudah tidak ada lagi untuk Diandra. Jantung itu sudah tidak lagi mengharapkan Diandra di sampingnya.

Suara isak Diandra mengalun perlahan, isak perempuan yang patah hati.

"Setega itukah kau padaku, Reno? Aku bagaikan sampah bagimu..."

"Aku hanya ingin kau kuat, Diandra."

"Kuat?" Diandra tertawa di sela isak tangisnya, "Dulu aku kuat, karena aku harus menopangmu. Kau sakit, dan aku berjuang supaya kuat, karena salah satu dari kita harus kuat untuk mendukung yang lain." Suara Diandra terdengar penuh kesakitan, "Lalu kau menghancurkanku."

Reno memejamkan mata, merasakan kesakitan memenuhi badannya. Diandra memang benar... tetapi dia bisa apa?

"Maafkan aku Diandra/"



"Tidak." Diandra bersikeras, "Aku tidak akan memaafkanmu Reno. Bertahun kuhabiskan hanya untuk mendampingimu. Karena aku mencintaimu. Tetapi kau membuangku begitu saja. Hanya karena jantung itu."

"Kau boleh membenciku semaumu. Aku pantas menerimanya. Kalau dengan membenciku kau bisa sembuh dan melangkah ke dalam kebahagiaan baru, aku rela kau benci." gumam Reno pelan.

Hening. Diandra termenung di seberang sana. Lalu ada helaan napas di sela isak tangisnya.

"Seharusnya waktu itu kau bunuh saja aku."

Teleponpun ditutup. Meninggalkan Reno yang termenung di tengah kegelapan kamarnya.

*** 

Malam itu Nana bermimpi, mimpi tentang Rangga, tentang kenangan-kenangan mereka bersama di masa lampau. Saat-saat bahagia itu....

Mereka sedang duduk di pantai yang mereka kunjungi waktu liburan masa lalu, di pasir tanpa alas. Menghadap ombak di bawah langit jingga yang siap menghantarkan matahari masuk ke peraduannya.

"Tidak ada yang namanya bahagia selamanya." Rangga bergumam sambil tersenyum lembut, melirik novel cinta yang sedang dibaca oleh Nana.

Nana mendongak dari novel itu. Cahaya makin temaram, membuat huruf demi huruf makin berbayang, dia menyerah dan menutup novelnya.

"Kenapa?"

"Karena hidup terus berputar, manusia yang bercinta harus menghadapinya. Mereka bisa bahagia karena cinta, tetapi terkadang menangis juga karenanya, begitulah hidup, begitulah cinta." Rangga menatap Nana dengan mata teduhnya, "Dan karena ada kematian. Suatu saat manusia harus siap menghadapi kematian, dipisahkan satu sama lainnya."

Nana merenungkan kata-kata Rangga. "Kau tahu kenapa aku menyukai novel-novel percintaan?"

"Karena mereka semua selalu berakhir hidup bahagia selamanya?"

"Bukan." Nana menggeleng. "Karena novel percintaan itu selalu berakhir di saat mereka paling bahagia. Seakan hidup mereka berhenti di sana, setelah tulisan 'the end', di titik para tokohnya paling bahagia."

Rangga tertawa, "Kau ingin seperti novel-novel itu? berakhir di titik paling bahagia?"

"Saat ini aku bahagia." Nana menatap Rangga dan tersenyum penuh cinta, "Tapi aku belum ingin ini berakhir... masih ada saat-saat panjang di depan kita, dan aku ingin menikmatinya."

"Meskipun nanti kadangkala ada tangis berganti tawa dan sebaliknya?" Rangga bertanya.

"Itu cukup berharga untuk dilalui kalau dilewatkan bersamamu."

Rangga tersenyum mendengar jawaban Nana. Matahari makin lelap di peraduannya, beristirahat barang sejenak di ujung sana, menyembunyikan sinarnya. Gelap sudah membayang, membuat tampilan Rangga bagaikan siluet gelap yang merenung menatap bayang cakrawala yang mulai menghilang.

"Kalau begitu musuh kita hanyalah kematian." gumamnya kemudian, "Seandainya bisa aku ingin mati sebelum dirimu, supaya aku tidak perlu mengalami kesakitan karena kehilanganmu."

............... 

Nana terbangun. Membuka matanya yang seperti biasanya, penuh air mata. Kata-kata  Rangga itu membuatnya ingin menangis. Rangga egois... dia memang meninggalkan Nana lebih dahulu dan membiarkan Nana mengalami kesakitan karena kehilangannya.

*** 

"Diandra sakit." sang mama menelpon keesokan paginya, nada suaranya sedih, membuat Reno mengernyit sesak,

"Sakit apa ma?"

Mamanya menghela napas, "Sejak kau tinggalkan dia menderita, dia tak mau makan.... dia hanya memangis, kondisi tubuhnya menurun. Semalam dia dibawa ke rumah sakit."

"Apakah kondisinya parah?"

"Sangat." suara mamanya bergetar, "Mama menengoknya, Reno. Dia begitu kurus, dia begitu sedih. Mamanya Diandra bahkan memohon kepada mama, sambil menangis agar mama bisa membujukmu datang. Kau tahu betapa sedihnya mama? Mamanya Diandra itu sahabat mama... dan Diandra... dia sudah seperti anak mama sendiri."

Reno merenung, rasa bersalah dan bingung berkecamuk di benaknya. Teringat semalam dia menolak Diandra yang meminta perhatiannya.

"Lalu aku harus bagaimana ma?"

"Pulanglah Reno. Mama mohon. Demi masa-masa yang telah Diandra relakan demi mendampingimu di kala kau  sakit."

Kata-kata sang Mama menohok benaknya. Membuat Reno semakin merasa tak berdaya. 

"Aku tidak bisa, ma." Reno mengerang.

"Kenapa?"

"Mama tahu jawabannya."

"Karena perempuan bernama Nana itu? yang dipanggil oleh jantungmu?" Suara mamanya menajam. "Apakah jantungmu itu membuatmu menjadi begitu egoisnya sehingga tidak mempunya empati sama sekali?"

"Mama! bukan begitu. Aku hanya tidak ingin membuat Diandra semakin lemah dan terus berharap kepadaku.... kalau aku datang, sama saja aku memberikan harapan baru kepadanya."

"Yang diinginkan Diandra hanya kehadiranmu di saat dia sakit." Suara mamanya mencela. "Dan kau bisa melakukannya. Mama harap kau berpikir dan mengingat masa-masa dulu, dimana Diandra selalu setia mendampingimu."

Reno menghela napas panjang. Merasa sesak oleh rasa bersalah yang mendalam/

*** 

Seperti biasa, Reno menunggunya di kedai kopi itu. Senyumnya mengembang begitu melihat Nana,

"Kau basah." Reno menatap rambut Nana yang memercik butiran air berkilauan, "Kenapa tadi tidak mau kujemput?"

"Karena kau harus memutar jauh kalau menjemputku." Nana tersenyum dan duduk di depan Reno, "Lagipula aku hanya perlu naik kendaraan umum satu kali untuk tiba di sini."

"Hmm" Reno mengedipkan mata kepada Nana, "Jadi apa kabarmu hari ini?"

Nana mengangsurkan sebuah novel dari tasnya, "Buku pesananku baru sampai semalam." Nana menunjukkan buku dengan latar sampul berwarna putih itu kepada Reno, "Aku membacanya sampai pagi, dan aku senang."

Reno melirik novel yang ditunjukkan Nana dan tersenyum, "Novel percintaan lagi?"

"Yep. Kisah perempuan tak berdaya yang melawan lelaki berkuasa, dan kemudian dipersatukan oleh cinta." Mata Nana berbinar, membuat Reno tergelak geli.

"Dasar kalian perempuan." gumam Reno masih tergelak, "Tidak adakah yang dipikirkan perempuan selain romantisme cinta?"

"Tentu saja ada." Nana mengedipkan matanya, "Kami juga memikirkan kehidupan nyata kok, tetapi kadang kami, para perempuan merasa sangat bahagia bisa menenggelamkan diri dalam kisah percintaan yang menyentuh hati."

"Karena happy ending?" 

"Salah satunya karena itu." Nana tersenyum, "Membaca kisah yang berakhir bahagia bagi tokoh2 di dalamnya, membuat kami percaya bahwa ada ujung yang bahagia untuk kami para perempuan suatu saat nanti."

Pelayan datang membawa menu pesanan mereka yang biasa. Kopi yang panas dengan aroma yang harum, sangat cocok dengan aroma hujan di kala deras, membuat hati hangat di suasana yang dingin.

Reno menyesap kopinya, lalu menatap Nana serius, "Jadi kau percaya dengan akhir bahagia selamanya?"

"Itu hanya ada di dongeng-dongeng." Nana menjawab, "Tetapi aku percaya bahwa setiap perempuan pasti akan menemukan kebahagiaannya masing-masing."

"Tetapi tidak ada yang bisa bahagia selamanya, Karena hidup terus berputar, manusia yang bercinta harus menghadapinya. Mereka bisa bahagia karena cinta, tetapi terkadang menangis juga karenanya, begitulah hidup, begitulah cinta." Reno menatap Nana sendu, "Dan karena ada kematian. Suatu saat manusia harus siap menghadapi kematian, dipisahkan satu sama lainnya."

Kata-kata itu membuat Nana tertegun dan membeku. Hening.

Reno mengernyitkan keningnya, "Kenapa Nana?'

Kata-kata itu, sama persis dengan kata-kata Rangga. Nana membatin, lalu menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "Tidak. tidak ada apa-apa." Nana tersenyum sedih, "Hanya saja aku pernah mendengar kata-kata yang tepat seperti itu sebelumnya."

Reno tersenyum pahit, "Rangga?"

Nana menganggukkan kepalanya.

Reno langsung mengalihkan pandangannya, menjaga supaya kepahitannya tidak terbaca oleh Nana. Perasaannya berkecamuk. Jikalau nanti Nana mencintainya, apakah perempuan itu akan mencintai dirinya seutuhnya, ataukah dia akan mencintai jantung yang saat ini berdetak di rongga dadanya?

*** 

"Nana." sang mama memanggil dari luar kamar, membuat Nana yang sedang tenggelam di dalam novelnya menolehkan kepalanya.

"Ya ma?" ditatapnya sang mama yang berdiri di ambang pintu.

"Ada telepon untukmu, di ruang makan."

Nana mengernyit. Siapa yang meneleponnya ke telepon rumah? Teman-temannya biasanya akan menelepon langsung ke ponselnya. Dengan ingin tahu dia beranjak dari ranjang, dan melangkah ke ruang makan.

Diangkatnya gagang telepon yang terbuka di meja itu, "Hallo?"

Suara perempuan setengah baya yang lembut terdengar di sana. 

"Nana?" Perempuan itu bertanya, lalu bergumam hati-hati, "Nana, maafkan saya. Saya mamanya Reno, bisakah kita bertemu? Saya mohon bantuan Nana untuk meluluhkan hati Reno."

"Meluluhkan hati Reno?" Nana mengernyit bingung. Telepon dari mama Reno ini sungguh tidak disangkanya.

"Iya Nana, bolehkah kita atur waktu untuk bertemu, tapi saya mohon jangan sampai Reno tahu, saya akan menjelaskan semuanya.

Nana berdehem, bingung, "Kalau boleh saya tahu... ini tentang apa ya?"

Suara di sana agak ragu, tetapi lalu berkata. "Tunangan Reno sedang sakit keras. Dan Reno tidak mau pulang untuk menjenguknya. Saya pikir..... ini semua disebabkan oleh kau, Nana."

Dunia Nana langsung bergetar keras di bawah kakinya. Membuat napasnya terasa sesak dan menyakitkan.

***