Saturday, October 12, 2013

Biografi Ibnu Haitham/AL HAZEN


A.    Biografi   Ibnu Haitham/AL HAZEN
Alhazen, yang polymath Islam yang besar. Alhazen lahir di Basra , di Irak provinsi Buyid Kekaisaran Persia . Dia mungkin meninggal di Kairo , Mesir. Selama Islam Golden Age , Basra adalah kunci awal “pembelajaran”, dan dia dididik di sana dan di Baghdad , ibukota kekhalifahan Abbasiyah , dan fokus dari titik tinggi “peradaban Islam”.  Selama waktunya     di Buyid Iran, ia bekerja sebagai pegawai negeri dan banyak membaca teologis dan ilmiah buku. 

              Satu account dari karirnya telah dia dipanggil ke Mesir oleh Al-Hakim bi-Amr Allah , penguasa kekhalifahan Fatimiyah , untuk mengatur banjir sungai Nil , tugas yang membutuhkan upaya awal untuk membangun sebuah bendungan di lokasi kini Aswan bendungan . Setelah itu kerja lapangan membuatnya menyadari ketidakpraktisannya skema ini,  dan khalifah takut kemarahan, ia pura-pura gila . Dia disimpan di bawah tahanan rumahdari 1011 sampai kematian-Hakim al di 1021.  Selama masa ini, ia menulis yang berpengaruh Kitab Optik .
Meskipun ada cerita tinggi bahwa Ibn al-Haitham melarikan diri ke Suriah, berkelana ke Baghdad kemudian dalam hidupnya, atau bahkan di Basra ketika ia berpura-pura gila, bisa dipastikan bahwa ia di Mesir oleh 1038 paling lambat. [10 ] Selama di Kairo, ia menjadi terkait dengan Al-Azhar University , serta kota “House of Wisdom”,  yang dikenal sebagai Dar Al-Hekma ( House of Knowledge ), yang perpustakaan “pertama di penting” untuk Baghdad Rumah Kebijaksanaan .  Setelah rumahnya penangkapan berakhir, ia menulis sejumlah risalah lain di fisika , astronomi dan matematika . Dia kemudian pergi keIslam Spanyol . Selama periode ini, ia punya waktu yang cukup untuk pencarian ilmiah, yang termasuk optik, matematika, fisika, kedokteran , dan pengembangan metode ilmiah; ia meninggalkan beberapa buku yang beredar pada mata pelajaran ini.
Di antara murid-muridnya yang kita ketahui hanya dua dari mereka, Sorkhab ( Sohrab ), nya Persia siswa yang salah satu orang terbesar Iran ‘s Semnandan muridnya selama lebih dari 3 tahun, dan Abu al-Wafa bin Mubashir Fatekyang terkenal Mesir ilmuwan yang belajar matematika dari dia.
   
WARISAN IBN AL- HAYTHEM
Ibn al-Haythem membuat perbaikan yang signifikan dalam optik, ilmu fisika, dan metode ilmiah yang mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan selama lebih dari lima ratus tahun setelah kematiannya. karya Ibn al-Haytham tentang optik adalah dikreditkan dengan kontribusi penekanan baru pada percobaan. Pengaruhnya pada ilmu fisika secara umum, dan optik khususnya, telah dijunjung tinggi dan, pada kenyataannya, mengantar di era baru dalam penelitian optik, baik dalam teori dan praktek.  Metode ilmiah dianggap begitu mendasar untuk ilmu pengetahuan modern bahwa beberapa-terutama filsuf ilmu pengetahuan dan berlatih ilmuwan-menganggap pertanyaan sebelumnya ke alam menjadi pra-ilmiah.
Richard Powers dinominasikan-Haytham’s metode ilmiah al Ibnu dan skeptisisme ilmiah sebagai berpengaruh ide sebagian besar milenium kedua . ] George Sarton , bapak sejarah ilmu pengetahuan , menulis bahwa “Haytham tulisan-tulisan Ibnu menunjukkan perkembangan yang bagus fakultas eksperimental “dan menganggapnya” tidak hanya muslim terbesar fisikawan, tetapi dengan segala cara yang terbesar dari abad pertengahan. “ Robert S. Elliot menganggap Ibn al-Haytham untuk menjadi “salah satu siswa ablest optik sepanjang masa.”  Profesor Jim Al-Khalili juga menganggap dirinya benar pertama ilmuwan “dunia”.  Kamus biografi ilmuwan menulis bahwa Ibn al-Haytham adalah “mungkin ilmuwan terbesar Abad Pertengahan” dan bahwa “pekerjaannya tetap tertandingi selama hampir 600 tahun sampai saat Johannes Kepler “.  Pada konferensi ilmiah pada bulan Februari 2007 sebagai bagian dari tesis-Falco Hockney , Charles M. Falcoberpendapat bahwa al-Haytham Ibn pekerjaan di optik mungkin telah mempengaruhi menggunakan alat bantu optik oleh Renaissance seniman . Falco mengatakan bahwa ia dan David Hockney ‘s contoh seni Renaissance “menunjukkan sebuah kontinum dalam penggunaan optik oleh seniman dari sekitar tahun 1430, arguably dimulai sebagai hasil dari al-Haytham’s pengaruh Ibnu, sampai hari ini”.  The terjemahan Latin pekerjaan utamanya, Kitab al-Manazir (Kitab Optik), diberikan pengaruh yang besar pada ilmu pengetahuan Barat: misalnya, pada karya Roger Bacon , yang mengutip namanya, [29]dan Johannes Kepler . Ini membawa sebuah kemajuan besar dalam metode eksperimental. Nya penelitian di catoptrics (studi tentang sistem optik yang menggunakan cermin) berpusat pada bola dan parabola cermin dan penyimpangan bola . Dia membuat pengamatan bahwa perbandingan antara sudut datang dan refraksi tidak tetap konstan, dan menyelidiki pembesar kekuatan sebuah lensa . Karyanya pada catoptrics juga berisi masalah yang dikenal sebagai “masalah Alhazen”
Pada masa kekhalifahan,  sejumlah kota Muslim seperti  Baghdad, Kairo, Cordoba, Damaskus, Fez dan Marrakech menjelma sebagai metropolis dunia. Guna mengimbangi pesatnya perkembangan kota-kota itu, para ilmuwan Muslim menopangnya dengan sejumlah teknologi.  Salah satunya, meluncurkan metode pengelolaan air yang canggih. Sehingga, pasokan air bagi kota-kota besar itu tetap melimpah.

Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan berbagai data penting mengenai cahaya. Konon, dia telah menulis tak kurang dari 200 judul buku. Bukunya yang berjudul ”Kitabul Manazir” telah memberi ilham bagi perkembangan ilmu optika di masa-masa kemudian. Tak banyak orang yang tahu bahwa orang pertama yang menjelaskan soal mekanisme penglihatan pada manusia — yang menjadi dasar teori optik modern — adalah ilmuwan Muslim asal Irak. Namanya Ibnu Al-Haitam atau di Barat dikenal dengan nama Alhazen. Lewat karya ilmiahnya, Kitab Al Manadhir atau Kitab Optik, ia menjelaskan berbagai ragam fenomena cahaya termasuk sistem penglihatan manusia. Selama lebih dari 500 tahun, Kitab Al Madahir terus bertahan sebagai buku paling penting dalam ilmu optik. Di tahun 1572, karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul Opticae Thesaurus.
Bab tiga volume pertama buku ini mengupas ide-ide dia tentang cahaya. Dalam buku itu, Haytham meyakini bahwa sinar cahaya keluar dari garis lurus dari setiap titik di permukaan yang bercahaya.Ia membuat percobaan yang sangat teliti tentang lintasan cahaya melalui berbagai media dan menemukan teori tentang pembiasan cahaya. Ia jugalah yang melakukan eksperimen pertama tentang penyebaran cahaya terhadap berbagai warna. Dalam buku yang sama, ia menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam, dan juga teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi. Ia juga melakukan percobaan untuk menjelaskan penglihatan binokular dan memberikan penjelasan yang benar tentang peningkatan ukuran matahari dan bulan ketika mendekati horison.
Haytham mencatatkan namanya sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Ia memberikan penjelasan yang ilmiah tentang bagaimana proses manusia bisa melihat. Salah satu teorinya yang terkenal adalah ketika ia mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid. Kedua ilmuwan ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya yang keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, Ibnu Haytham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat.
Dalam buku ini, ia menjelaskan bagaimana mata bisa melihat objek. Ia menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia. Salah satu karyanya yang paling menomental adalah ketika Haytham bersama muridnya, Kamal ad-Din, untuk pertama kali meneliti dan merekam fenomena kamera obsecura. Inilah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai “ruang gelap”. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya.
Sementara dalam bukunya Mizan al-Hikmah, ia mendiskusikan kepadatan atmosfer dan membangun korelasi antara hal tersebut dengan faktor ketinggian. Ia juga mempelajari pembiasan atmosfer dan menemukan fakta bahwa senja hanya muncul ketika matahari berada 19 derajat di bawah horison. Dengan dasar itulah, ia mencoba mengukur tinggi atmosfer. Dalam bukunya, ia juga membahas teori daya tarik massa, suatu fakta yang menunjukkan ia menyadari korelasi percepatan dengan gravitasi. Selain di bidang fisika, Ibnu Haytham juga memberikan kontribusi penting terhadap ilmu matematika. Dalam ilmu ini, ia mengembangkan analisis geometri dengan membangun hubungan antara aljabar dengan geometri.
Haytham juga membuat buku tentang kosmologi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Yahudi di abad pertengahan. Karya lainnya adalah buku tentang evolusi, yang hingga kini masih menjadi perhatian ilmuwan dunia.
Sayangnya, dari sekian banyak karyanya — bukunya diperkirakan berjumlah 200 lebih — hanya sedikit yang terisa. Bahkan karya monumentalnya, Kitab Al Manadhir, tidak diketahui lagi rimbanya. Orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa Latin.
KARYA ABU ALI AL-HASAN IBNU AL-HAITHAM
·         Peletak Dasar Penciptaan Kamera 
Prinsip-prinsip dasar pembuatannya telah dicetuskan oleh al-Haitham seorang sarjana Muslim, sekitar 1.000 tahun silam, tepatnya pada akhir abad ke-10 M.
Diakui atau tidak kamera merupakan salah satu penemuan dan karya manusia yang terbilang sangat fenomenal. Melalui kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Teknologi kamera kini dikuasai Jepang dan negara Barat. 
Namun tahukah Anda bahwa prinsip-prinsip dasar kerja seluruh kamera telah diletakkan seribu tahun lalu oleh seorang sarjana Muslim? Peletak prinsip kerja kamera itu tak lain dan tak bukan adalah Ibnu Haitham. Dia adalah fisikawan Muslim terkemuka di era kekhalifahan. Beragam bidang ilmu seperti matematika, astronomi, kedokteran. dan kimia dikuasainya. Namun, dia paling jago dalam bidang optik dan fisika.
Salah satu karya Al-Haitham yang paling menumental adalah ketika bersama muridnya, Kamaluddin berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika Al-Haitham mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar. 
Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ruang gelap. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton. 
Istilah kamera obscura yang ditemukan Al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 M - 1630 M). Terinspirasi kamera obscura dari Al-Haitam, pada tahun 1827 Joseph Nicephore Niepce di Prancis mulai menciptakan kamera permanen. Sekitar 60 tahun kemudian George Eastman lalu mengembangkan kamera yang lebih canggih pada zamannya. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi. Prinsip Kerja Kamera Obscura
Penemuan kamera obscura berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ''ruang gelap''.
"Kamera obscura pertama kali dibuat oleh ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),''ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz's perspective. Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk Kitab al-Manazir (Buku optik). Kitab al-Manazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, al-Haitham lalu menyusun Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap.)
Istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lubang bidik lensa dengan lensa (camera). Penggunaan lensa pada kamera obscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535–1615 M). Joseph Kepler (1571 - 1630 M), meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip ini digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada 1665 M. Setelah 900 tahun dari penemuan al-Haitham, pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura.
Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827. Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Haitham dengan baik sekali dan George Eastman lah yang menciptakan kamera kodak. Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia. 
Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada al-Haitham, yang selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia.Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian yang telah dilakukan oleh para ilmuwan Muslim.
Secara serius al-Haitham mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik. Beragam teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya. Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan pelbagai data penting mengenai cahaya. Dalam salah satu kitab yang ditulisnya, Alhazen - begitu dunia Barat menyebutnya - juga menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam. Al-Haitham pun mencetuskan teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi.
·         MENGGAMBARKAN DIAGRAM MATA SECARA DETAIL
Keberhasilan lainnya yang terbilang fenomenal adalah kemampuannya menggambarkan indra penglihatan manusia secara detail. Tak heran, jika 'Bapak Optik' dunia itu mampu memecahkan rekor sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Hebatnya lagi, al-Haitham mampu menjelaskan secara ilmiah proses bagaimana manusia bisa melihat. Teori yang dilahirkannya juga mampu mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid. Kedua ilmuwan ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, al-Haitham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat. .
Secara detail, Al-Haitham pun menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia. Hasil penelitian al-Haitham itu kemudian dikembangkan Ibnu Firnas di Spanyol dengan membuat kaca mata.
·         MENCETUSKAN TEORI
Dalam buku lainnya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul Light On Twilight Phenomena, al-Haitham membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana. Menurut al-Haitham, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk timur. Warna merah pada senja akan hilang apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Ia pun menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.
Al-Haitham juga mencetuskan teori lensa pembesar. Teori itu digunakan para saintis di Italia untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Sayangnya, hanya sedikit yang tersisa bahkan karya monumentalnya, Kitab al-Manazir , tidak diketahui lagi keberadaannya. Orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa Latin