Wednesday, December 10, 2014

Eksistensi Farmasis Dimata Masyarakat Indonesia

Sampai saat ini farmasis masih belum sangat dikenal oleh masyarakat luas. Padahal seperti yang kita ketahui farmasis adalah orang-orang yang paling kompeten atau orang yang paling mengetahui tentang seluk-beluk obat. Farmasislah yang semestinya menjamin bahwa pasien mendapatkan obat yang benar, digunakan dengan cara yang tepat, dan menghasilkan efek yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Selain itu, farmasis juga yang bertanggung jawab jika ada masalah terkait dengan obat, seperti salah memberikan obat dan menimbulkan efek samping yang membahayakan pasien tentunya semua farmasis memiliki peran penting dalam kesehatan, karena sebagai farmasis merekalah yang mampu mengetahui kinerja obat-obat yang ada, dan juga jumlah dosis yang diperlukan seseorang untuk menyembuhkan suatu penyakit. Jadi sudah seharusnya  farmasis memegang andil penting di industri obat maupun institut yang  berhubungan dengan obat terutama di apotek dan rumah sakit.

Farmasis sudah seharunya memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat dalam artian, dapat terjun dan bercakap-cakap langsung dengan masyarakat tidak hanya menjadi pemeran di belakang layar. Namun, nyatanya sekarang para farmasis kebanyakan tidak berhubungan langsung dengan masyarakat sehingga kesan yang timbul dimasyarakat adalah farmasis tidak begitu memiliki andil penting dalam kesehatan. Tentulah perspektif tersebut adalah hal yang sangat keliru, karena sebenarnya farmasis juga memiliki peran yang sangat penting dalam kesehatan masyarakat.
Pada beberapa contoh yang ada saat ini misalnya saja pelayanan kesehatan masyarakat di klinik maupun rumah sakit dimana  masyarakat hanya  berhubungan dengan pihak yang langsung memeriksa mereka dan memberikan resep obat, walaupun resep tersebut pada akhirnya akan diperiksa oleh orang-orang farmasis namun hasil dari pemeriksaan tersebut atau obat yang akan diberikan ke masyarakat yang bersangkutan langsung diberikan kepada mereka tanpa mereka ketahui bahwa farmasislah yang memiliki peran penting dalam hal tersebut. Walaupun ada juga farmasis yang sudah berhubunngan langsung dengan masyarakat tetapi jumlahnya hanya sedikit, pada umumnya farmasis hanya bekerja dibelakang layar. Padahal apa yang farmasis kerjakan sangatlah penting dan para farmasis memikul tanggung jawab yang besar akan hal tersebut. Mengapa? Karena misalnya pada suatu kejadian dimana obat ataupun resep yang diberikan kepada masyarakat yang bersangkutan memiliki masalah, maka orang yang pertama dicari adalah farmasis yang bertanggung jawab atas hal tersebut, bukanlah pihak yang memeriksa atau mendiagnosa penyakit dari masyarakat yang bersangkutan.

Ada juga beberapa kasus dirumah sakit maupun puskesmas seperti penyuntikan cairan obat yang langsung pada kantung infuse padahal kita ketahui sendiri hal tersebut adalah sesuatu yang salah, sebagai farmasis seharusnya kitalah yang memberikan penjelasan tentang hal tersebut atau farmasislah yang turun tangan sendiri karena pada dasarnya farmasislah yang mengetahui tentang reaksi yang terjadi ketika cairan obat langsung disuntikkan pada kantong suntik, pastinya cairan infuse yang ada akan terkontaminasi dengan zat-zat atau unsur lain yang lewat melalui lubang bekas suntikan tersebut.
Pada kasus lain seperti peran farmasis pada industry atau lembaga, misalnya saja keberadaan farmasis di BPOM, seperti yang kita ketahui bahwa kepala dari BPOM sekarang bukanlah orang farmasis padahal sudah jelas adanya bahwa BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) merupakan sebuah lembaga di Indonesia yang bertugas mengawasi peredaran obat-obatan dan makanan di Indonesia, jadi seharusnya farmasislah yang memegang peran penting karena sekali lagi farmasis adalah orang yang mengetahui secara detail tentang obat-obatan, baik bahan maupun mekanisme dari obat-obatan yang ada.
Dari kasus-kasus tersebut siapakah yang bertanggung jawab atas ketidak munculan farmasis dipermukaan? Atas perspektif masyarakat awam tentang orang-orang farmasis yang masih jauh dari apa yang seharusnya meraka pikirkan tentang farmasis, lalu siapa yang menginginkan hal tersebut terjadi? Yang pasti jawabannya ada pada farmasis itu sendiri, dari kasus-kasus yang ada, seharusnya sebagai farmasis kita dapat menarik kesimpulan apa saja yang menjadi penyebab kurangnya eksistensi farmasis dimata masyarakat Indonesia. Farmasis juga dharapkan dapat bekerja sama dengan berbagai profesi yang berbeda untuk mengeksplorasi berbagai masalah kesehatan secara bersama. Jadi, orang-orang farmasis bukan saja yang bekerja menjadi apoteker, tapi bisa bekerja bersama dengan dokter, ahli gizi dan tenaga kesehatan lainnya dalam mendampingi pasien untuk mengetahui terapi yang sudah dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya, dengan begitu farmasis dapat berhubungan langsung dengan masyarakat dan tidak hanya terkesan bekerja dibelakang layar. Dan secara tidak langsung, farmasis juga dapat memperkenalkan profesi dan peran farmasis kepada masyarakat.